Hanya tentang Java dan Mikha, dua insan berbeda jenis kelamin yang saling mencintai dan menginginkan satu sama lain, tapi harus terhalang oleh ikatan yang bernama "sepupu"
Akankah mereka berjuang dan saling melabuhkan hati?
atau menyerah dan memilih...
"Kak, Ressta boleh ngajak teman gak besok liburannya?" ijin Mikha saat mereka bertiga sedang makan malam bersama.
Momen langka kan melihat Java, Gama dan Mikha makan bersama bertiga saat gak di studio? Biasanya hanya Mikha sendirian atau ada Gama hanya saat sarapan. Java? Lebih sering beli atau bawa bekal bila ingat.
"Siapa? Vano? Ula? Ajak aja semua!" jawab Gama.
Java masih diam dengan tanpa ekspresi. Mikha tak terlalu memperdulikan itu, mendapatkan ijin dari Gama sudah cukup baginya. To, Java juga tak menganggap nya ada kan? Untuk apa menganggap pria itu ada?
Mungkin dengan perlahan ia akan melupakan perasaannya pada Java. Perlahan yah, gak bisa cepat, mereka satu rumah lagi. Walau jarang bertemu, tetap saja sulit bila Mikha sudah jatuh terlalu dalam pada kakak sepupunya itu.
"Teman dari Pekalongan, boleh kan?"
"Anaknya mau kesini?"
"Iya, Kak. Kampusnya udah libur duluan, jadi hari Minggunya mau langsung kesini katanya,"
"Boleh tuh, bisa sekalian nonton festival,"
"Thanks, Kak Lingga, nanti gue kasih tau anaknya!"
"Sama-sama, Ressta,"
Gama tersenyum lebar saat melihat Mikha yang tampak senang. Tangannya mengusap pelan kepala Mikha yang mampu mengundang dengusan sebal Java keluar. Adek kesayangannya itu mendiaminya sejak hari Jihan kecelakaan.
"Malam ini mau gue apa lu yang nginep di Jihan, Ngga?" tanya Java tiba-tiba.
Senyum Mikha seketika luntur. Jihan lagi dan lagi, sungguh menyebalkan. Mikha pun tak bisa protes kan? Dia hanya adek sepupu tak lebih dan yang pasti dia tak ada dalam daftar prioritas lelaki itu. Didiami saja malah ikut diam. Memang gak ada usahanya kalau yang jatuh cinta hanya satu orang saja.
"Lu aja deh, Mas, gue harus benerin lagu buat tampil nanti!"
"Harus banget malam ini? Terus Ressta gimana?"
Bukannya senang, Mikha justru tersenyum hambar menanggapinya. Akting dalam rangka apalagi kali ini? Bahkan Mikha sudah terbiasa dengan kesunyian rumah besar Ragaswara ini, dan ketidakpedulian Java tentunya.
"Yanu dan Evan mau kesini kok, di studio atas," jawab Gama.
Java hanya mengangguk. Matanya beradu pandang dengan Mikha dengan ekspresi wajah yang tak dimengerti oleh Java. Tak tau saja perempuan itu berusaha menahan diri saat jantungnya berdetak dengan cepat. Rasa sesak lebih mendominasi.
Yah kurang lebih begitu saja hari demi hari Mikha terlewati. Kan memang dari awal yang peduli padanya, untuk apa berharap pada Java? Ia bahkan sudah tak dianggap penting oleh lelaki itu lagi setelah malam-malam penuh cinta yang mereka lewati.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.