Sorry for typo 🙏
Happy reading 🤗
====================
Hari demi hari terlalui seperti biasanya. Mikha yang kerjaannya pulang pergi kuliah, jalan dengan Vano dan Ula atau maraton drama dan film di kamar sampai lupa makan. Gadis itu mulai terbiasa menjalani kehidupannya di rumah Ragaswara sama saat masih tinggal di rumah Hadwin dulu.
Java dan Gama pun sama. Lebih banyak di studio daripada pulang ke rumah. Bila sudah masuk waktu jam 7 malam, salah satu dari mereka berusaha pulang. Sekarang mereka punya tanggungan anak gadis yang tak boleh ditinggal di rumah sendirian.
Interaksi mereka juga seadanya, hanya saat sarapan pagi atau menjelang tidur, itu pun bila berpapasan. Gama masih mengusahakan bertanya kabar atau apapun pada Mikha. Java? Mikha tak berharap banyak, sudah seharusnya ciuman mereka waktu itu hanya sebuah kesalahan.
Setiap seminggu sekali, lelaki itu hanya menitipkan vitamin dan beberapa obat untuk darah rendahnya pada Gama dan Ami. Kontakan? Mikha tak mau membuat hatinya tambah nelangsa dengan berharap. Kakak sepupunya itu hanya menanyakan dan meminta foto botol vitaminnya berkurang atau tidak.
Berhenti bicara soal Java dan segala kebrengsekan cowok itu. Mikha masih tak habis pikir, bagaimana pemuda itu bisa biasa saja dan justru terlihat menghindar setelah mencium adek sepupunya sendiri? Bahkan perhatian pun hanya sebatas tak mau dimarahin Luna.
Benarkah itu hanya sebuah kesalahan? Walau Mikha masih belum tau perasaan apa yang ia rasakan untuk Java, tetap saja gadis itu berharap Java juga merasakan apa yang gadis itu rasakan. Rasa rindu yang terbalut kebencian.
tok. tok. tok.
"Non Karessta?" panggil Ami.
"Masuk aja, Bi!"
ceklek.
"Itu ada temannya di bawah, Non,"
"Siapa? Jaevano?"
"Iya, Den Vano,"
"Terima kasih, Bi,"
"Kembali kasih, Non Ressta,"
Ami turun kembali ke bawah, memberikan minum untuk Vano sebagai tamu. Tak lama Mikha turun, masih dengan setelan santainya, celana pendek dan kaos kebesaran andalannya, membuat Vano sedikit salah fokus.
"Ngapain? Kok gak bilang dulu mau kesini?"
"Setelah dipikir, baiknya gue bilang langsung deh, Kha,"
Mikha menyengitkan dahinya bingung, jarang sekali seorang Jaevano Archi Mahendra memasang muka serius. Dalam sejarah persahabatan mereka, 80 persen hidup Vano dan Helva hanya tentang bersenang-senang.
"Ada apa nih? Gue jadi takut," selidik Mikha.
"Mau gak datang bareng gue ke acara anak hukum? Semacam welcoming party gitu," pinta Vano pelan.
Mikha mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha mencerna ucapan Vano. Tak butuh waktu lama otak Mikha menangkap maksud sahabatnya itu, lalu menanggapi dengan berbagai ekspresi. Mikha memang se ekspresif itu anaknya.
"Ih FH ada acara begituan? Kok FK gak ada?"
"Iya mana gue tau, Kha,"
"Acaranya kapan?"
"Besok malam," jawab Vano santai, tapi Mikha melotot hebat.
"KOK LU BARU BILANG SIH, CHI? GUE KAN GAK PUNYA DRESS BAGUS DISINI!"
Vano menutup matanya, sudah ia prediksi bagaimana reaksi Mikha bila ia bilang mendadakan begini. Vano sendiri lupa bila ada acara welcoming party untuk mahasiswa baru saat ia tak sengaja membuka dasbor mobilnya tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]
RomanceHanya tentang Java dan Mikha, dua insan berbeda jenis kelamin yang saling mencintai dan menginginkan satu sama lain, tapi harus terhalang oleh ikatan yang bernama "sepupu" Akankah mereka berjuang dan saling melabuhkan hati? atau menyerah dan memilih...
![Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]](https://img.wattpad.com/cover/338173056-64-k943094.jpg)