Hanya tentang Java dan Mikha, dua insan berbeda jenis kelamin yang saling mencintai dan menginginkan satu sama lain, tapi harus terhalang oleh ikatan yang bernama "sepupu"
Akankah mereka berjuang dan saling melabuhkan hati?
atau menyerah dan memilih...
"Diomongin apa aja tadi sama Budhe?" tanya Mikha setelah mobil Vano meninggalkan rumah Ragaswara.
"Gapapa, cuma ditanya lu ngeselin apa gak sih," jawab Vano.
Mikha memukul lengan Vano pelan, selalu saja pemuda itu tak pernah serius, bercanda mulu. Dulu cita-citanya ingin jadi pelawak deh. Kan dirinya takut bila Jaevano ditanya hal yang tidak-tidak oleh Luna, iya walau itu tak mungkin.
"Beneran loh, Budhe cuma nanya soal kuliah dan seputar persahabatan kita aja kok. Kayaknya Budhe pengen tau banyak soal keponakannya ini,"
Vano tak bohong. Jujur saja dirinya nyaman bicara dengan Luna, tipe ibu idaman yang bakal membuat anaknya menjadikan beliau tempat curhat. Vano berasa mengobrol dengan bundanya di rumah, adem banget rasanya.
"Budhe cuma kepo sama Jaevano itu kayak apa kok, Kha. Wajar lah, kan beliau gak mau keponakan cantiknya ini kenapa-napa," ucap Vano meyakinkan Mikha.
Mikha menatap dalam mata Vano, seperti biasa tak ada kebohongan disana. Entah kenapa dirinya merasa resah, dan senyum Vano selalu bisa menenangkannya. Iya, dia hanya butuh Jaevano untuk sekarang karena Java hanya menganggapnya kesalahan.
Tubuh Vano terdorong ke depan, mendekat pada tubuh Mikha yang terbalut dress cantik itu lalu memeluk gadisnya dengan lembut. Menepuk pelan bahu Mikha, seolah tau isi hati gadis itu yang sedang tak tenang.
Mobil Vano sudah berada di parkiran dekat tempat acara makanya berani memeluk Mikha. Tanpa memperdulikan beberapa mahasiswa yang berlalu lalang di area parkiran mereka masih berpelukan. Gak bakal terlihat dari luar kok, aman lah.
"Udah yuk turun!" ajak Vano.
Mereka segera turun dari mobil, merapikan dulu pakaian mereka. Jaevano menatap Mikhaella tanpa berkedip. Kenapa dirinya baru sadar bila penampilan sahabatnya sangat cantik malam ini dengan gaun menempel pada tubuhnya?
"Ayo, Van!" seru Mikha.
"Kha, balik aja yuk!"
"Apaan sih? Udah ayo gak usah banyak drama!"
"Lu terlalu cantik, Kha, gue gak mau ada yang terposana. Cukup gue aja, jangan yang lain!"
Mikha tertawa pelan. Padahal Jaevano serius, malah gadis itu seolah menganggapnya bercanda. Emang dasarnya Mikhaella sudah cantik dari lahir, hanya dengan dress simple saja sudah membuat aura gadis itu keluar dengan luar biasa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gak usah banyak drama deh, Van! Buruan atau gue masuk sendiri?" ancam Mikha.
Vano mencoba menahan tawanya. Tampang galak gitu, pemuda tinggi itu termasuk anak yang receh, ngelihat cicak kepleset aja pasti ketawa. Masuk katanya? Kan yang punya undangan dia bukan Mikha.