45)

374 12 0
                                        

Sorry typo 🙏

Happy reading 🤗
=====================

Java memijat pangkal hidungnya yang terasa berat karena dua manusia yang pagi ini sudah membuat kepalanya hampir pecah oleh tingkah mereka. Yah sudah tertebak kan kalau itu Gama dan Jihan, dua adek yang selalu merusuhnya.

"Dek, gak usah bikin gue pusing sehari aja bisa gak?"

"Pusing apaan sih, Mas? Lu bisa ke Pekalongan nyusul Ressta, apanya yang bikin pusing?"

Jihan meringis mendengar Gama yang entah ia tak tau atau pura-pura tak tau bahwa sang kakak sedang dalam mode tidak bersahabat. Gadis, eh wanita ini sudah menyarankan untuk tidak, tetap saja Gama memaksa.

"KENAPA DADAKAN PAS GUE UDAH MAU OTW KE BANDARA HAH? GAK WARAS LU, NGGA!!!"

"IYA KAN LINGGA PENGEN KETEMU PAPI MAMI?!"

"PENGEN KETEMU PAPI MAMI ATAU LIBURAN BERDUA LU HAH?!!"

"DUA-DUANYA!!!"

"DIAM KALIAN!!!"

Java dan Gama langsung terdiam setelah Jihan meneriaki mereka yang teriak tak jelas di rumah besar Ragaswara ini. Yah ini lah yang banyak orang tak tau. Java kalau sudah kesal juga bisa teriak frustasi, seperti sekarang misalnya.

"Gg-gue, aku udah bilang kan gak usah nyaranin ide gila, nyusahin Kak Java juga kan jadinya!"

"Kok kamu jadi marahin aku sih? Oh kamu masih suka sama Kak Java yah?"

Kekesalan Java dan Jihan pada Gama semakin tak tertahankan oleh ucapan tak masuk akal pemuda yang berprofesi sebagai model itu. Ngurus Gamarendra tuh susah. Ia lebih baik menerima omelan Davra tiap hari daripada kelakuan random adeknya.

"Sekali lagi mulut lu sembarangan ngomong lagi, gue minta Mbak Vella batalin tiket kalian sekarang juga!"

Gama dan Jihan menatap Java tak percaya. Kapan pria ini menghubungi sekretaris sang Mami saat mereka saja sibuk beradu argumen tadi? Java tuh tipe yang sat set memang.

"Ji, geret dia ke kamar buat beresin keperluannya!" Java beralih pada sangat adek, "15 menit lu gak turun, gue tinggal!"

Jihan segera membawa Gama menuju kamar lelaki itu. Java sendiri mengeluarkan barang-barang yang akan ia bawa. Tak lupa pemuda itu mengeluarkan mobil yang akan dipakai Pak Jito untuk mengantarnya ke Bandara.

Tepat lima belas menit, Gama dan Jihan turun dengan barang bawaan Gama yang hanya 1 koper kecil saja. Lelaki macam Gama tuh gak ribet, ada uang tinggal beli aja. Simpel memang, tapi cukup membuat Luna lebih sabar lagi karena semuanya tak cukup di walk in closet nya.

Tak lupa di dalam mobil dan pesawat mereka berdoa dahulu agar perjalanan mereka yang kurang lebih memakan waktu 10 jam itu selamat sampai tujuannya.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang