Sorry for typo 🙏
Happy reading 🤗
=================
Hari terakhir ospek dan Mikha masih perang dingin dengan Java. Gama dan Java pun sama, masih tak saling bicara sejak hari kejadian itu. Sedikit menguntungkan bagi Mikha. Gadis itu tak perlu membuat alasan untuk menghindar, karena Java dan Gama sudah saling menghindar.
"Masih kerasa pusing, Kha?" tanya Vano khawatir.
"Udah gak kok, Chi,"
"Kok lesu gitu? Gak lupa sarapan lagi kan?"
"Udah dibeliin nasi uduk sama bi Ami tadi. Nih sampe buncit gini perut gue kekenyangan!"
Vano terkekeh, meski agak menyebalkan, ocehan Mikha terdengar lebih baik daripada kediaman perempuan itu. Tak boleh ada yang berubah dari Mikha, harus tetap seperti saat mereka sekolah dulu. Iya harus sama saat sebelum tinggal di rumah Ragaswara.
"Gapapa, kayak orang hamil, lucu,"
"Mulut lu yah!"
Vano dengan reflek mengelus perut Mikha yang terbalut kemeja putih khas anak ospek membuat sang empu sedikit terkejut. Meski sudah biasa pelukan bertiga, tetap saja rasanya aneh Vano dengan tiba-tiba melakukannya.
Namanya juga hari terakhir ospek, jadi agak sedikit longgar rangkaian kegiatannya. Para mahasiswa baru hanya diminta untuk mengumpulkan barang untuk baksos sesuai jurusan, catatan selama ospek dan tak lupa tanda tangan lengkap ke dua puluh lima panitia ospek.
"Wih rajin juga lu, Kha. Semangat yah tinggal dua lagi nih!" ucap Davra setelah memberikan tanda tangan untuk Mikha dan Ula.
"Thanks, Kak Davra,"
"Gue gatel pengen nyela lu dari tadi, Kha. Lu kenal sama Kak Davra?" celetuk Ula setelah pergi dari sisi Davra.
Mikha tampak diam memperhatikan muka penasaran temannya itu. Haruskah ia menjawabnya? Mikha hanya takut dia gak aman karena mengenal Java dan Davra, secara fans mereka banyak. Mikha hanya ingin kuliah 4 tahunnya berjalan dengan lancar tanpa rumor apapun.
"Lu suka sama Kak Davra?" tanya Mikha balik.
"Ngawur lu! Gue perhatiin pandangannya beda saat sama lu, kayak udah kenal gitu,"
"Perasaan lu doang, La. Udah yuk buruan tinggal dua lagi nih siapa yah?" Mikha mencoba mengalihkan fokus Ula dan berhasil.
"Kak Java sama Kak Jihan, Kha. Yuk cari mereka!"
Haruskah Mikha berhadapan dengan Java? Lebih baik dirinya dihukum karena tak lengkap daripada harus menghadapi Java dan Jihan dan berakhir lagi di UKS seperti tempo hari. Segitu tak sukanya dia berhadapan dengan Java.
Namun sebelum Mikha bertindak konyol, Ula sudah lebih dulu menarik tangannya, mengajaknya berkeliling mencari keberadaan dua sejoli itu. Mereka berempat sama-sama non muslim, sudah pasti masjid dan musholla menjadi pengecualian.
"La, lu aja deh yah, gue capek mau istirahat dulu!"
"Nanggung, Kha. Mumpung yang lain pada isoma, kita bisa gunain buat nyari mereka,"
"Haneul-la.....,"
"..... KAK JIHAN, KAK JAVA, YEAH AKHIRNYA KETEMU!!!"
Java dan Jihan yang sedang asik ngadem di samping gedung sekretariat itu menoleh pada kedua mahasiswa cantik yang sedang berjalan ke arah mereka. Lebih tepatnya yang satu ditarik paksa oleh yang satunya. Java mengigit bibir bawahnya, ah kenapa dirinya jadi tak tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]
RomanceHanya tentang Java dan Mikha, dua insan berbeda jenis kelamin yang saling mencintai dan menginginkan satu sama lain, tapi harus terhalang oleh ikatan yang bernama "sepupu" Akankah mereka berjuang dan saling melabuhkan hati? atau menyerah dan memilih...
![Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]](https://img.wattpad.com/cover/338173056-64-k943094.jpg)