Sorry for typo 🙏
Happy reading 🤗
===================
"Coba kasih tau Mami, kenapa kalian gak mau natalan di Paris?!"
Java dan Gama saling pandang, lalu melirik sang Mami dengan wajah memerah kesal karena dibuat emosi kedua anak bujangnya pagi ini, eh siang ini maksudnya. Yang masih pagi kan di Paris. Luna gak pulang kok, mereka sedang video call dengan sang Mami di laptop.
"Natal tinggal lusa, tiket udah Mami minta urus ke Cella, dan kalian seenaknya minta batal? MAU KALIAN APA SIH??!!!"
Keduanya terperanjat kaget oleh teriakan Luna. Bahkan Jeffrey yang sedang anteng di meja makan menikmati sarapannya pun terkena imbas dari kemarahan sang istri. Kedua anak ganteng Ragaswara ini memang suka sekali mencari perkara dengan sang Mami.
"Sabar, Mi!"
"Sabar kata Papi? Dosa apa aku dulu harus punya anak juga yang sifatnya membuat emosi mulu?! Sarapan aja udah, Pi, gak usah ikut campur atau tidur di ruang kerja!"
Jeffrey langsung kicep, berpindah ke meja makan lagi sebelum Luna beneran memintanya tidur di ruang kerja. Paris sedang bersalju dan demi pelukan hangat sang istri ia harus merelakan anak-anaknya menghadapi sidangnya sendirian.
Java dan Gama yang menertawakan Papinya itu kembali kicep saat sang Mami menatap mereka penuh amarah dan kekesalan. Mau semenyeramkan apapun orangnya, bila berhadapan dengan ibunda tetap tak akan berkutik.
"Jawab Raja, Lingga, jangan diam aja!!!"
"Maaf, Mi," kompak keduanya.
"Apaan maaf? Mami butuhnya penjelasan, bukan maaf,"
Keduanya kembali diam. Mereka punya alasan, tapi terlalu takut Luna akan tambah marah karena alasan mereka yang sepertinya tak akan diduga oleh sang Mami. Iya ini salah mereka dan mau gak mau harus menerima resikonya.
Kemarin, setelah sampai dari Jogja, malamnya mereka bergantian menghubungi sang Mami untuk meminta ijin kepada kedua orang tuanya untuk tak merayakan natal di Paris. Sebagai gantinya, mereka akan terbang ke sana setelah tahun baru.
Kompak sekali bukan? Wajar saja saat paginya sang Mami marah besar kepada kedua anak bujangnya itu dan mengira mereka bersekongkol. Kenyataan nya, mereka tak saling tau menau soal pembatalan itu.
Baik Java dan Gama mengira, salah satu dari mereka akan ada yang terbang menyusul kedua orang tuanya untuk merayakan natal. Mereka hanya bisa pasrah menikmati wajah marah sang Mami yang sialnya masih terlihat cantik.
Siapapun itu akan sama marahnya dengan Luna. Bukan masalah tiket pesawat yang akan hangus bila mereka gak jadi pergi, tapi soal ucapan yang bisa di pegang atau tidaknya. Luna udah terlanjur bahagia anak-anak tampannya akan natalan bersama kedua orang tuanya tahun ini.
"Gak ada yang jawab? Berarti kalian natalan di rumah Kakek atau Opa yah? Nanti Ma-mmi....,"
"JANGAN, MI!!!"
"GAK MAU, MI!!!"
"TERUS KALIAN MAUNYA APA, PUTRAJA, KALINGGA?!!" teriakan Luna untuk yang kesekian kalinya.
Jeffrey yang kebetulan sudah selesai sarapan itu pun mendudukan dirinya di samping sang istri yang sudah sangat frustasi menghadapi kedua anaknya. Papi dua anak itu mengelus punggung istrinya pelan. Ia perlu jadi penengah diantara kepelikan ini.
"Perjanjian kalian sama Mami waktu itu gimana coba, Mas, Adek?" tanya Jeffrey dengan tegas.
"Pilihannya hanya ada dua, kami terbang ke Paris,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]
RomansaHanya tentang Java dan Mikha, dua insan berbeda jenis kelamin yang saling mencintai dan menginginkan satu sama lain, tapi harus terhalang oleh ikatan yang bernama "sepupu" Akankah mereka berjuang dan saling melabuhkan hati? atau menyerah dan memilih...
![Java & Mikha [Park Jisung & Kim Minji]](https://img.wattpad.com/cover/338173056-64-k943094.jpg)