Arial menutup teleponnya. Ia terdiam sejenak. Memikirkan bagaimana percakapan penuh kekakuan tadi berlangsung. Gadis itu berkata ia sedang sibuk dan berada di kampus. Benarkah? Atau ia hanya sedang mencoba menghindari pertemuan dengan dirinya. Entahlah, ia tidak mau terlalu memusingkannya.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Ia menoleh dan mendapati Leona sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum manis.
"Kok ngelamun sih, bu bos?" kata Leona lalu menghampiri Arial dan berdiri di sebelahnya.
"Banyak pikiran Leona." jawab Arial sambil tersenyum. Entah mengapa ia juga ikutan senyum jika melihat wanita itu tersenyum.
"Oh, banyak pikiran karena gak dihubungin sama pacarnya, hmm?"
Arial hanya tertawa pendek.
"Bener kan?"
Sekali lagi Arial tersenyum lalu bergerak menarik pinggang Leona dan memeluknya. "Akhir-akhir ini lo jadi jarang ngabarin gue. Napa? Sibuk?"
"Ih, mulai manja nih. Gak takut lo ketangkep basah lagi peluk gue sama pacar lo?"
Arial menggeleng lalu menyandarkan sisi wajahnya di perut Leona. Matanya terpejam.
"Kangen sama gue?"
"Menurut lo?"
"Arial.."
"Hmm?"
"Gue kangen banget sama lo."
"Gue juga kangen."
Hening sejenak. Leona membelai rambut panjang Arial lembut penuh perasaan.
"Gue sayang lo, Rial."
"Gue juga sayang sama lo."
Leona tersenyum lebar. Bahagia. Itulah yang ia rasakan saat itu.
"Rial? Mau temenin gue belanja gak? Temenin, ya?"
"Lama gak?"
"Gak. Gue janji."
"Ya udah, gue temenin." Ia lalu menarik wajahnya dari perut Leona dan menengadah.
"Ih, gue jadi inget masa-masa lo manja sama gue dulu."
Arial sekali lagi hanya tersenyum.
Tiba-tiba Leona mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Arial lembut sekali.
"Sekarang berangkat, yuk!"
Arial terdiam. Ketika Leona mencium dirinya tadi, wajah Rianna muncul dalam benaknya. Wajah yang menjadi candu baginya untuk terus memerhatikannya.
"Rial?"
"Ah? Iya, bentar gue ambil tas."
Leona menyipitkan mata sejenak memandangi gerak-gerik Arial.
^^^^^^
Arial Pov
Aku membiarkan Leona menggandeng tanganku sepanjang kami menyusuri lorong yang diapit rak penuh produk-produk konsumsi di sebuah supermarket.
"...Rial? Rial!"
Aku menoleh dan mendapati wajah Leona sedikit kesal menatapku.
"Dari tadi gue nanya tapi lo diem mulu. Gue nanya lo mau gue masakin apa?"
"Masak?"
Leona mengerutkan keningnya. Sedikit bingung dengan perubahan sikapku yang begitu dikenalnya tersebut.
"Lo mau gue masakin apa?"
"Lo mau masakin gue? Gak usah! Di rumah Rena udah masak banyak."
Leona tampak kesal tapi tidak mengatakan apapun. Ia hanya menghela napas dan melangkah sedikit lebih cepat dariku.
Aku mempercepat langkah. Aku tahu perubahan sikap Leona tapi tidak berniat meladeninya. Alhasil, kami berjalan beriringan dalam keheningan.
Memang sedari tadi pikiranku sudah melantur kemana-mana. Sejak wajah Rianna muncul secara tiba-tiba dalam benakku. Mengingatkanku akan penyesalan yang sempat tidak terpikirkan lagi karena kehadiran Leona.
Aku mendesah pelan. Menelan ludah perlahan karena menyadari ada perasaan lain yang merasuk begitu saja.
Sepertinya aku pun rindu terhadapnya.
^^^^^^
Sesekali kulirik Leona yang duduk di sebelahku ketika kami sedang dalam perjalanan pulang ke rumahku. Wanita itu memalingkan wajahnya dariku. Entah kenapa ia terlihat kesal terus kepadaku sejak di supermarket tadi. Apa karena aku tidak mendengar panggilannya yang memanggilku berkali-kali. Tapi, bukankah hal semacam itu tidak perlu dipermasalahkan besar-besar.
Kadang suatu waktu, aku berpikir mengenai sikap Leona yang seolah-olah berusaha mempertahankan hubungan yang sudah lama berakhir diantara kami. Meskipun kuakui wanita itu tidak sedekat dulu lagi denganku tapi tetap saja perhatiannya tersebut membuatku kewalahan dan bingung.
"Rial.."
Aku menoleh sekilas ketika Leona membuka suara.
"Iya? Kenapa?"
Hening sejenak.
"Gak papa. Hati-hati kalo nyetir."
Aku tertawa pelan mendengar ucapannya. "Dari tadi gue juga udah hati-hati, bu."
Hening lagi setelah itu tapi aku masih bisa melihat dari sudut mataku Leona sedang menatapku tajam dan dingin.
"Rial?"
"Iya?"
"Ngomong-ngomong, pacar lo itu..kenalin ke gue dong."
Aku menoleh kepadanya. Terkejut mengetahui topik pembicaraan berubah. Alhasil, karena tidak tahu ingin menjawab apa, aku terdiam.
"Namanya siapa?"
"Siapa?"
"Jangan pura-pura bego! Pacar lo itu namanya siapa?"
Aku menelan ludah. Cemas. Bagaimana cara memberitahunya jika Rianna bukanlah kekasihku. Selain itu, ia ingin mengetahui Rianna lebih jauh. Untuk apa?
"Kapan-kapan gue tunggu lo ya."
"Tunggu apaan? Kalo bicara itu yang jelas."
"Lo aneh Rial. Kok lemot sih? Apa gara-gara pacaran ama tuh cewek?"
Kini terdengar jelas nada kesal dalam ucapan Leona.
"Ngomong apa sih lo?"
"Maksud gue, kapan-kapan gue tagih janji lo kenalin gue ama pacar lo."
"Kapan gue janji."
"Tadi."
Mata wanita cantik di sebelahku itu masih menatap tajam padaku ketika aku menoleh padanya. Ada apa dengan dirinya? Baru kali ini kudapati sikapnya yang tidak jelas seperti ini.
Kembali hening sejenak. Lalu wanita itu menyahut pelan. "Mungkin cuman sebentar."
Dari sudut mataku yang sedang berusaha fokus pada jalanan di depan, kulihat ia mengalihkan tatapannya dariku.
^^^^^^
P.s. Maaf yah update ceritanya lama banget. Sekarang lagi banyak kerjaan, ini juga cuman curi-curi waktu buat nyelesainnya. But buat reader yang sampe chapter ini masih suka baca dan baru baca trus buat yang dah ngevote, thanks yah ! Buat @3LF1D4, makasih atas sarannya dan sudah menilai tulisan ini bagus :D

KAMU SEDANG MEMBACA
Heart. Me
RomanceAku bukan orang yang spesial, Namun ia membuatku merasa seolah aku orang yang spesial itu. Aku bukan orang yang begitu mengerti sebuah kisah cinta, Namun entah bagaimana dan sejak kapan tepatnya ia membuatku merasa seolah aku mengerti kisah cinta i...