#Thirtieth

4.3K 247 32
                                    

Ps. Ketika menulis menjadi jalan satu-satunya mengutarakan apa yang tidak kunjung diucapkan, apalah dayaa~
Happy reading ya guys! Selamat malem seninan

Author Pov

Menjelang sore hari, langit masih tampak mendung namun enggan hujan.

Rianna memandang keluar melalui kaca jendela mobil Nutfah, sahabatnya. Sejak minggu pagi tadi, ia menghabiskan waktu dengan mengunjungi berbagai tempat demi melepas penat kuliah. Ya, hari yang begitu menyenangkan menurutnya.

"Fah, di depan berhenti bentar, ya." Sahut Rianna.

"Mau ngapain?"

"Ada minimarket di depan situ, gue pengen beli minum."

Rianna bergegas keluar ketika mobil Nutfah berhenti. "Ada yang mau nitip sesuatu?"

Berhubung yang lainnya tidak kunjung merespon, ia segera memasuki minimarket tersebut. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan minuman yang diinginkannya. Namun ketika akan menuju ke kasir, ia dibuat terkejut oleh sesuatu.

Sosok wanita dengan tinggi semampai berdiri tegak menanti barang yang akan dibayarnya. Wanita tersebut adalah Leona.

Dengan langkah pelan Rianna mendekat dan sedikit berharap agar wanita tersebut tidak menoleh dan mengenalinya. Namun harapan itu sirna seketika. Leona menoleh dan jelas terlihat ekspresi terkejut di wajahnya.

Rianna dilema, apakah sebaiknya ia tidak menyapa dan terus tersenyum atau...

"Halo, Kak?" ucap Rianna pada akhirnya ketika keduanya bertemu tatap.

Alih-alih menjawab sapaan gadis tersebut, Leona malah memalingkan wajahnya. Memandangi barang belanjaan miliknya yang masuk ke kantung satu persatu.

Rianna hanya mampu menghela napas. Hanya karena dirinya memilih berpacaran dengan seorang Arial, ia pun harus menerima kenyataan bahwa hal itu juga berarti seseorang akan membencinya.

Usai membayar, Leona meraih kantung belanjaan tersebut dan melenggak keluar dari minimarket tanpa sepatah katapun. Rianna bisa melihat wanita itu memasuki mobilnya dengan tergesa dan melaju pergi.

"Mbak?"

"Ah, oh iya mbak, maaf. Ini berapa?" Sebuah suara mengembalikan Rianna dari lamunannya.

Mungkin suatu hari--entah kapan tepatnya--ia bisa berbicara dengan Leona. Membahas mengapa mereka harus saling bersikap dingin.

Mungkin suatu hari...

^^^^^^

Rianna Pov

Arial mengatakan padaku bahwa ia sedang kosong berhubung cafe sedang sepi dan berniat mengunjungiku di kampus.

Aku mengiyakan. Lagipula aku hanya ada kelas pagi, setelah itu aku bisa pulang.

Sekitar setengah jam lebih, sosok Arial muncul. Dengan T-shirt krem simpel dipadukan rok dengan sedikit flower pattern membuat tampilan Arial terkesan begitu manis pagi ini.

Aku tak mampu menahan senyum.

"Yang lain mana?" tanyanya ketika sudah berdiri di hadapanku.

"Siapa?"

"Chaca cs." Arial mengambil tas notebook yang aku tenteng sedari tadi. Saat ia juga berniat mengambil buku dan jam tangan yang kugenggam, aku menolak. Aku hanya tidak ingin merepotkannya.

Heart. MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang