Sudah tiga jam berlalu kasur big size itu ditimpa oleh lima orang gadis. Kelima gadis tersebut hanya tidur-tiduran atau mendengarkan musik, menikmati masa libur kuliahnya. Jika teman-teman semahasiswanya memilih untuk menghabiskan waktu liburan ke mall, ke luar kota atau pulang kampung maka Rianna dan sahabatnya memilih untuk mengunjungi rumah Chaca dan menghabiskan waktu di sana meskipun kadang-kadang Rianna sendiri melewati hari libur dengan mengunjungi cafe langganannya itu.
"Eh, ada rencana liburan gak?" Dela membuka suara.
"Gak tau." Salah satu menjawab.
"Liburan yuk! Atau apa kek." Chaca menimpali sambil mengangkat tubuhnya sedikit untuk melihat yang lainnya.
"Emang mau kemana kita? Ke mall?" Saran Rianna yang masih mampu mendengar suara temannya meski ia sedang menikmati musik dari earphonenya.
"Yaelah! Mall lagi? Males."
"Renang?" Nutfah ikut menyarankan. Dibanding yang lainnya, dialah yang memiliki tinggi badan idaman karena hobi berenang yang teratur ia lakukan meski jadwal kuliah sedang padat-padatnya.
"Ogah!" Seru Rianna cepat. Gadis itu memang yang paling tidak menyukai renang, berbanding terbalik dengan Nutfah. Alasannya, ia kurang suka berenang bersama orang asing sekaligus memperlihatkan tubuh sendiri begitu saja pada orang-orang.
"Napa?"
Rianna terdiam sejenak sambil memejamkan mata, lalu. "Gue cuma mau liatin tubuh gue buat pendamping hidup gue nantinya."
"Ciee..cie..cie! Pikiran lo ampe ke situ banget." Seketika suasana riuh karena semua temannya menertawai Rianna.
"Emang kenapa? Gak aneh juga kali." Kata Rianna datar.
"Ck ck ck. Rianna..Rianna." Ucap Feyna sambil menatap Rianna geli.
Rianna membalas tatapan Feyna. Kesal. "Rese!"
"Eh, ngomong-ngomong masalah liburan. Gimana kalo ke sini aja?" Ika menyela tawa temannya lalu memperlihatkan sebuah brosur.
Seketika yang lainnya mendekati Ika.
"Apa tuh?""Liat sendiri aja."
"Oh, inikan cafe yang lo sering kunjungin Rianna."
"Hmm."
"Ada event kayaknya. Gimana? Lumayan loh."
Hening sejenak.
"Boleh juga sih. Lagian acara-acara di sana keren kok. Setau gue." Rianna seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Terserah lo pada. Gue cuma ikutan. Kalo Rianna udah bilang bagus ya pasti bagus, yang sering ke sanakan dia doang."
Ika menatap wajah sahabatnya satu persatu. "Ke sinikan?"
Yang lainnya mengiyakan dengan ekspresi biasa.
^^^^^^
Arial melirik iphonenya untuk kesekian kalinya. Tapi setelah melihat nama si penelepon, ia kembali fokus pada berkas yang ada di hadapannya. Sore itu ia harus menghadapi berkas-berkas mengenai pemasukan ataupun pengeluaran cafenya. Dan karena itu merupakan pengalaman pertama baginya maka hingga menjelang malam ia masih disibukkan oleh berkas yang sama penuh angka.
Ia menghentikan kegiatannya sejenak dan menghela napas. Lelah, tertekan dan kesal, itulah yang ia rasakan saat ini. Lelah dan tertekan karena tugas barunya dan kesal karena Leona terus saja menghubunginya tanpa henti.
Ketika iphonenya kembali berdering, ia memutuskan untuk mengangkatnya. "Apa?"
"Arial? Kok angkat telpon gue lama banget?" Tanya suara wanita di ujung sana.
"Gue lagi kerja. Kenapa?" Tanya Arial berusaha tenang.
"Kangen. Kapan bisa ketemuan?" Suara wanita bernama Leona itu lembut.
Ujung bibir Arial terangkat. "Kangen? Gue juga tapi jangan pikir macem-macem. Awas loh pacar lo."
"Emang gue punya pacar?"
Arial mengangkat bahunya asal.
"Eh, gue ke acara lo nanti. Siap-siap ketemu ama gue lo."
"Aneh lo, kayak gak pernah ketemu ama gue aja."
Leona terdengar tertawa pendek di ujung sana.
"Masih ada yang pengen lo bicarain gak nih? Gue lagi banyak kerjaan."
Terdengar helaan napas Leona. "Ya udah. Nanti gue telpon lagi. Selamat bekerja."
Setelah itu Leona memutuskan hubungan telepon. Arial menghembuskan napas lega meski ia masih tidak benar-benar lega karena wanita itu mengatakan bahwa ia masih akan menghubunginya kembali.
Ia memutar kursi yang ia duduki menghadap dinding dimana ia bisa memantau keadaan dalam cafe. Tiba-tiba dalam kesunyian itu melintas sosok Rianna di pikirannya. Ia menatap menerawang bagaimana gadis itu memberi saran secara tidak langsung tanpa mengetahui bahwa dirinyalah si pemilik cafe. Yang membuat ia akhirnya memutuskan untuk mengabulkan saran baik gadis tersebut. Selanjutnya ide lain mengikuti yaitu dengan segera terlaksananya event musik yang sedikit berbeda dari event musik sebelumnya. Event baru itu tidak hanya akan dihadiri oleh band-band kenalannya tapi ia juga mengundang dua penyanyi kenalannya sekaligus penyanyi yang sudah terkenal seantero Indonesia.
Ingatan lain melintas. Ingatan tentang desiran aneh ketika ia menjabat tangan lembut gadis tersebut. Desiran yang sudah lama tidak ia rasakan.
^^^^^^

KAMU SEDANG MEMBACA
Heart. Me
RomansaAku bukan orang yang spesial, Namun ia membuatku merasa seolah aku orang yang spesial itu. Aku bukan orang yang begitu mengerti sebuah kisah cinta, Namun entah bagaimana dan sejak kapan tepatnya ia membuatku merasa seolah aku mengerti kisah cinta i...