Rianna Pov
Siang menjelang sore Arial baru kembali ke pondok bersama Kaditha. Kulit mereka memerah akibat sengatan matahari.
Aku tengah duduk menghadap jendela membelakangi mereka. Seolah mengabaikan eksistensiku, keduanya membicarakan sesuatu dengan wajah sumringah.
"Rianna."
Aku melihat Kaditha menjulurkan sebuah bungkusan.
"Ini apa, kak?" tanyaku sambil mengubah posisi duduk menghadap mereka.
"Manisan."
Aku hanya ber-oh dan meraih sedikit untuk kucicipi. Seketika keningku berkerut. Aku menelan ludah, tak suka dengan rasanya. Tidak sengaja mataku tertuju pada Arial dan mulutnya terkatup seperti menahan tawa. Dasar!
"Dia gak suka kayaknya." Arial bersuara.
"Ya udah nih buat lo semua. Katanya lo suka manisan apapun, kan?" Kaditha menyodorkan bungkusan itu pada Arial.
"Makan bareng, ya? Mana bisa gue habisin sendiri."
"Dasar lo." Kaditha menepuk lembut pipi wanita bermata hazel tersebut. Mereka tersenyum.
Aku menatap keduanya bergantian. Sepertinya hubungan mereka semakin dekat sekarang. Sejujurnya aku tidak tahu Kaditha menyukai sesama jenisnya atau tidak tapi perasaanku mengatakan wanita itu memiliki perasaan lebih pada Arial. Ada yang berbeda meski samar dari tingkah dan cara wanita tersebut menatap Arial.
"Capek, ya?"
"Capek banget." jawab Kaditha sambil memegang kakinya yang terjulur secara bergantian.
"Entar gue pijat. Mau?"
"Gak ah, bentar kayak tadi pake syarat segala."
Aku berbalik, kembali menghadap jendela. Pemandangan ini menyakitkan.
"Sumpah gak bakal." Suara Arial terdengar kembali.
Kaditha tertawa pendek. Entah apa yang lucu.
"Lo kalo senyum manis loh."
Hening sesaat. Aku menggigit bibir.
"Emang." kata Kaditha lembut.
Aku beranjak berdiri sesegera mungkin. Aku terlalu takut mendengar yang tidak-tidak lagi.
"Kak, gue keluar bentar." Tanpa sengaja aku bertemu tatap dengan Arial.
"Mau kemana? Di luar masih panas."
"Ini udah sore. Udah kelamaan di dalam pondok. Bosen, kak." Aku tersenyum lalu berlalu dari hadapan mereka.
^^^^^^
Matahari tidak semenyengat tadi. Aku bahkan melihat sekelompok kecil awan hitam di ujung sana. Dalam dua jam lebih matahari akan terbenam.
Aku duduk lesehan di atas hamparan pasir. Kali ini air tidak surut lagi. Alhasil pakaianku basah hingga ke batas pinggang.
Aku memandang berkeliling. Tidak ada siapapun. Segera aku duduk sedikit menjauh, takut terbawa arus dan tidak ada yang sempat menolong.

KAMU SEDANG MEMBACA
Heart. Me
RomanceAku bukan orang yang spesial, Namun ia membuatku merasa seolah aku orang yang spesial itu. Aku bukan orang yang begitu mengerti sebuah kisah cinta, Namun entah bagaimana dan sejak kapan tepatnya ia membuatku merasa seolah aku mengerti kisah cinta i...