Tiga Belas

7 4 0
                                        

Libur kenaikan kelas telah dimulai. Sekolah akan di mulai dua minggu lagi dan saat hari pertama masuk akan ada pembagian kelas nantinya.

Jujur, sebenarnya aku ingin sekelas lagi bersama teman-teman ku yang sekarang. Tapi aku yakin rasanya mustahil karena semua akan di acak secara random. Ah sudahlah, lupakan itu. Aku tidak ingin pusing memikirkan hal seperti itu.

Aku bangkit dari kasur setelah mendapat pesan dari Adi. Cowok itu mengajak ku keluar dan aku tidak tau mau kemana dia mengajak ku. Mengingat pagi ini aku sudah mandi jadi aku tidak perlu bersiap-siap lebih. Cukup memakai bedak dan minyak wangi saja.

Aku berada di rumah sendiri, sekarang masih hari kamis, artinya kedua orang tuaku masih bekerja. Kak Noval sendiri sudah tidak disini, dia memilih berada di tempat kos nya, sangat menyebalkan.

Aku berjalan kearah pintu saat ketukan pintu terdengar. Di luar sana sudah ada Adi bersama sepedanya. Tunggu, sepeda?

"Kamu kesini naik sepeda?" tanyaku.

Agak mengherankan sebenarnya. Adi biasa menggunakan motor, tapi kenapa tiba-tiba menggunakan sepeda. Aku tau di usia Adi belum seharusnya menggunakan motor, tapi cowok itu memang suka menggunakannya.

"Iya, lo juga pake sepeda ya. Gue mau jalan-jalan pake sepeda udah lama kayaknya."

"Sepeda aku kotor Di, belum di cuci. Ban nya juga kayaknya udah bocor," jelasku.

"Gampang tinggal bawa ke bengkel, kan ada di depan. Ayok buruan."

Aku mendengus kesal, dengan berat hati aku mengambil sepeda di gudang. Ini sangat berdebu bahkan kondisinya memperihatinkan.

"Apa tidak ada sepeda yang lain?" tanya Adi.

"Kan aku udah bilang tadi, sepeda aku kotor sama ban nya bocor."

"Punya kak Noval emang gak ada?"

Loh iya, kenapa aku lupa tantang sepeda kak Noval. Tapi itu sepeda gunung, apa aku bisa?

"Ada, cuma kak Noval punya nya sepeda gunung. Masih ketinggian buat aku," jelasku.

"Apa salahnya di coba dulu. Lo kan udah makin tinggi."

Aku mengangguk kecil. Benar juga, kenapa aku tidak berfikir seperti itu. Lagi pula terakhir kali aku naik sepeda kak Noval saat kelas empat. Sekarang aku sudah mau kelas delapan, pasti tinggi badan ku pun kiat bertumbuh.

Dengan hati-hati, aku memasukan sepeda ke tempat semula. Tatapan mataku berbinar ketika melihat sepeda kak Noval. Sepeda itu masih sangat baik dan bagus. Kak Noval memang pintar menjaga barang-barangnya, berbeda denganku yang ceroboh ini.

"Aku udah sampe sekarang, enggak perlu jinjit."

Aku mengayun pedal sepeda itu perlahan sampai ke arah Adi berdiri. Cowok itu tersenyum melihatku dengan sepeda. Tanpa berfikir panjang kami berjalan. Mengayun pedal sepeda dengan santai.

Udara saat ini cukup sejuk, tidak terlalu panas tapi juga tidak terlalu mendung. Apalagi dengan angin yang mengenai kulitku di sepanjang jalan. Membuatku di penuhi rasa kenyamanan. Namun di saat aku sedang menikmati, tiba-tiba Adi berhenti. Seseorang yang familiar telah menunggu di perempatan jalan. Melihat itu aku mendengus, Seharusnya aku sadar kalau Adi juga mengajak Laras. Kalau seperti ini ceritanya aku tidak akan ikut. Lagi pula siapa yang mau menjadi nyamuk di antara hubungan orang. Aku yakin setelah ini Adi akan fokus pada Laras.

"Gue kira lo gak bakal ikut Na," ucap Laras.

"Aku mana mau ikut kalo tau Adi ngajak buat nemenin kalian pacaran."

Adi tertawa pelan, "Maaf ya Yun, gue terpaksa soalnya cuma cara ini biar lo mau keluar rumah."

"Adi bilang lo kalo liburan selalu di rumah makanya gue ngasih saran gini ke Adi biar lo keluar rumah. Lagian emang lo gak mau ngabisin liburan di luar rumah," jelas Laras.

My Teenage Years {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang