Seminggu telah ku lalui, satu persatu
semuanya dapat ku kenali. Mulai dari posisi setiap ruangan sampai teman-teman di kelasku. Ah kalian ingat seseorang yang pernah tertawa keras. Dan ya, aku dekat dengannya sekarang. Orang itu baik dan ramah, jangan lupakan jiwa humorisnya.
Tentang Naya, tenang aku masih dekat dengannya. Mengingat kami sebangku, namun karena dia jarang berbicara kami jadi terlihat tidak dekat.
"Ini buat kamu."
Aku tersenyum saat Naya menatapku. Jujur aku sedikit khawatir padanya, Naya itu tipikal orang yang mengacuhkan pada kesehatannya jadi aku meminta mama untuk membuatkan ku bekal sedikit lebih banyak agar aku bisa membaginya dengan Naya.
"Gak perlu, lo makan aja. Gue ke perpustakaan dulu." Seketika senyuman ku luntur. Selalu saja begini, padahal aku ingin berniat baik dengan membagi bekal ku pada Naya.
Aku tau Naya akan makan jika dia lapar atau paling tidak dia akan jajan di kantin. Tapi apa salahnya menerima pemberianku. Ah, sudahlah lebih baik aku habiskan saja sendiri sebelum bel masuk berbunyi.
"Kan sendirian lagi, udah di kasih tau tadi ikut aja di kantin makan di sana."
Laras duduk di sebelahku, di ikuti dengan Tanti. Dua orang yang baru dekat denganku namun sudah terasa lama. Aku tidak mempedulikan mereka, tetap melanjutkan makan. Mereka berdua hanya saling pandang melihatku tak merespon.
"Lagian aku kan bawa bekal ngapain makan di kantin," ujar ku setelah makanannya habis.
"Emangnya kenapa, banyak kelas lain yang bawa bekel nya ke kantin," ucap Tanti.
"Tapi gak enak, aku lebih suka makan sendirian di dalem kelas."
"Iya, tapi sampai kapan? Gak mungkin kan tiga tahun ke depan kamu bakal makan di kelas," tutur Laras.
"Aku gak tau."
Hening, pembicaraan kami terputus dengan kecanggungan. Hingga pertanyaan Tanti menghancurkan keheningan di antara kami, "oh iya apa lo akan terus menggunakan kata aku kamu?"
"Terus aku harus pake bahasa apa lagi?"
"Ya kan bisa aja lo pake kata gue lo gak ribet juga kok itu," ujar Tanti.
Bener juga, aku kan sudah mulai dewasa, haruskah aku memulai menggunakan kata gue lo. Tapi aku belum terbiasa dengan itu, lidahku seakan kaku saat mengucapkan kata itu. Di saat pikiranku bercampur aduk suara seseorang justru mengalihkan pikiranku dan fokus ku malah tertuju pada orang tersebut.
"Gak usah di dengerin Tanti ngomong apa, sesat dia."
"Apaan gue ngasih tau yang bener," tukas Tanti.
"Lo bisa pake bahasa yang ngebuat lo nyaman aja, gak usah ngikutin kata orang."
Aku mengangguk di saat orang itu pergi. Dia Angga, anak nakal yang sering membuat kerusuhan di kelas. Tidak bisa diam sekaligus berisik, meskipun dia laki-laki tetapi tidak menutup kemungkinan dia itu cerewet, bahkan beberapa kali dia beradu argumen denganku. Namun meski begitu, dia baik dan tidak jahat padaku, orangnya asik jika kita sedang berbicara berdua.
Tidak tidak, berdua yang ku maksud bukan berduaan layaknya orang pacaran tetapi berdua saat membahas pelajaran. Aku dan dia bahkan kerap kali di bilang sering bertengkar karena argumen kami tidak pernah jelas.
"Gue heran kenapa Angga sering banget ikut campur urusan orang," gerutu Tanti.
Aku dan Laras hanya tertawa menanggapi omelan Tanti. Tapi ada benarnya juga Tanti, Angga itu asal ikut bersuara saat kupingnya mendengar ucapan orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teenage Years {END}
Novela JuvenilAkan banyak peristiwa yang terjadi di saat masa remaja. Susah, senang maupun urusan hati. Konflik yang mungkin akan terus bermunculan sehingga karakter pendewasaan terbentuk. Beberapa hal manis mungkin juga bisa terjadi di masa ini, seperti percint...
