Dua Puluh Lima

11 3 0
                                        

Deru nafasku tidak stabil. Keringat terus mengalir di pelipis ku. Permainan badminton tadi sangat menyenangkan. Aku terlalu semangat sampai melupakan fakta bahwa aku baru sembuh dari sakit. Permainan sudah selesai sejak lima menit yang lalu tapi tetap saja rasa lelahnya belum hilang.

Aku duduk di lantai lapangan sambil meluruskan kaki. Raihan sendiri entah pergi kemana. Di sekitar lapangan cukup ramai orang tapi untuk posisi di tempat ku sekarang sama sekali tidak ada orang.

"Ini," Raihan menyerahkan air mineral padaku. Tidak yang dingin, hanya air bersuhu biasa.

Aku tersenyum menerimanya. Sekarang cowok itu sama-sama duduk di sebelahku.

"Udah gue bilang mainnya biasa aja gak perlu power. Lo baru sembuh, kalo sampe sakit jangan nyalahin gue."

"Gak bakal. Lagian kalo main kayak gini pasti spontan kayak tadi saking semangatnya."

Raihan hanya mengangguk. Sekarang aku dan dia sama-sama diam, membiarkan energi kami membaik lebih dulu, "Raihan beli seblak yuk di tempat waktu itu," ajak ku.

"Gue gak suka seblak," ujar Raihan.

"Loh bukannya waktu itu aku juga liat kamu beli seblak?"

"Bukan gue yang beli tapi temen-temen gue."

"Yaudah beli apa gitu, kan bukan seblak doang jualannya."

"Yaudah ayok."

Aku tersenyum saat Raihan berdiri. Sepanjang perjalanan aku terus tersenyum. Ini adalah peningkatan drastis, padahal jika di ingat sebelumnya kita belum saling kenal.

"Kamu mau beli apa?" tanyaku.

"Roti bakar."

"Loh disini juga ada roti bakar?" tanyaku.

"Ada."

"Kalo baso aci ada gak? Kalo ada aku mau itu aja, seblaknya gak jadi."

"Kayaknya ada, nanti gue tanyain. Tapi kalo gak ada lo tetep beli seblak?"

"Iya."

"Yaudah lo langsung duduk aja. Biar gue yang bilang ke ibunya."

Aku mengangguk, mengikuti perkataan Raihan. Tidak lama setelah Raihan muncul, duduk di depanku. Selama menunggu, kami sama-sama diam, berfokus pada ponsel di tangan.

"Hubungan lo sama Angga gimana?"

Aku menoleh ke Raihan, menghentikan aktivitas ku dari ponsel, "ya gak gimana-gimana. Diakan temen aku. Kenapa nanya kayak gitu?"

"Dia masih ngajak lo ngobrol setelah kejadian itu?" tanya Raihan lagi.

"Enggak. Lagian aku bingung, kenapa kamu malah mau deketan sama aku. Maksudnya, di saat orang lain mengejauh dari aku, kamu justru gak segan ngajak pulang bareng. Padahal bisa aja kamu pulang duluan dan gak usah bareng aku."

"Itu pesanannya dateng." Raihan mengalihkan pertanyaan ku. Sejujurnya aku penasaran, tapi sepertinya Raihan tidak ingin aku tau alasan dia masih baik padaku.

***

"Lo kemaren jadi jalan sama Raihan?" tanya Dika.

"Jadi, kenapa emang?"

"Pantes kemaren tuh anak gak ikut kumpul. Biasanya gue sama temen-temen gue suka kumpul kalo hari minggu."

Aku mengangguk, tanganku tidak lepas dari pulpen. Meskipun sekarang jamkos, tugas tetap di berikan.

"Tapi aku penasaran, kenapa Raihan tetep mau deket sama aku ya. Padahalkan dia belum tau kalo aku gak salah. Angga aja yang deket sama aku bisa gak percaya."

My Teenage Years {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang