Dua Puluh Dua

7 3 0
                                        

Hari ini aku mulai kembali ke sekolah setelah dua hari di rumah tanpa kepastian. Bukti memang belum ada dan semuanya masih abu-abu, tidak ada gambaran atau bukti yang jelas untuk menandakan aku tidak bersalah. Namun penyelidikan masih terus berlanjut. Sembari menunggu buktinya ada, akhirnya kepala sekolah membolehkan ku pergi sekolah. Seperti permintaan mama hari itu, saat aku terbukti salah maka aku akan langsung di keluarkan dari sini.

Hari ini aku juga berangkat bersama Raihan. Kebetulan kami bertemu di dekat jalan raya untuk menunggu angkot. Selama perjalanan aku memilih diam. Aku yakin Raihan juga mendengar berita itu. Aku cukup sadar diri, keadaan sudah tidak seperti kemaren-kemaren, semua telah berubah. Aku tidak ingin membuat Raihan tak nyaman dengan berada di dekatku. Maka dari itu aku memilih diam tanpa mengeluarkan suara. Berbanding balik dengan Raihan, sifatnya yang pendiam membuat suasana di antara kami benar-benar sunyi.

Aku jalan lebih dulu setelah angkot yang ku naiki sampai di depan sekolah. Tidak ingin berlama-lama berada di koridor, aku ingin cepat sampai di kelas.

Ternyata benar, sesampainya di kelas, aku melihat bangku dan meja berada paling belakang. Hanya ada satu dan sepertinya untuk ku. Bedanya, posisi peletakannya berada di belakang Alya dan Sania, mengingat memang mereka duduk di paling belakang.

Satu-satu persatu murid mulai berdatangan, mereka menatap ke arahku dengan tatapan sinis. Namun hanya sebentar, selebihnya mereka mengacuhkan ku. Lebih tepatnya satu kelas memusuhi ku.

Aku melirik Angga sebentar, tatapan kami bahkan sempat bertemu namun hanya beberapa detik, Angga lebih dulu memutuskannya. Cowok itu benar-benar duduk di tempat aku sebelumnya, sebelah Yena. Sepertinya setelah kejadian itu Yena dan Angga benar-benar menjalin hubungan. Sudahlah, aku tidak ingin pusing pusing memikirkan mereka.

Di tengah lamunanku, aku tersentak. Seseorang datang sambil menggeret meja dan bangkunya. Meletakkannya tepat di sebelah bangku dan mejaku.

"kamu mau ngapain?" tanyaku.

"Duduk samping lo," ucap Dika.

"Aku tau, tapi kan kamu udah punya tempat duduk sendiri kenapa malah mindahin tempat duduknya ke sini."

"Lo duduk sendiri, gue duduk sendiri, dari pada gitu mending gue pindahin bangku sama meja gue biar lo ada temen begitu juga gue," jelas Dika.

"Tapi kamu kan ada temen sebangku."

"Lo gak inget dia pindah ke tempat Yena."

Ah iya aku ingat, sebelumnya Dika duduk bersama Angga, tapi setelah kejadian itu mereka berdua pisah tempat duduk.

Aku menghela nafas pelan, hari-hari berat akan di mulai hari ini. Di acuhkan akan menjadi nama tengahku lagi setelah sekian lama tidak terjadi. Saat SD aku di acuhkan dan sekarang pun sama. Sepertinya memang kehidupan sekolahku tidak pernah berjalan mulus seperti orang lain.

***

Bel pulang berbunyi lima belas menit yang lalu. Namun belum ada tanda-tanda aku akan bangkit. Aku sengaja menunggu sekolah kosong. Aku takut dengan tatapan sinis mereka. Berita aku membully Yena sudah menyebar ke seluruh sekolah. Bahkan sekedar pergi ke kamar mandi pun aku takut. Alya dan Sania tetap baik padaku tapi pergerakan mereka selalu di pantau satu kelas agar mereka tidak terlalu dekat denganku. Miris sekali.

Mengingat kembali perlakukan mereka padaku membuatku tidak bisa menahan air mata. Kenapa guru begitu sulit menemukan bukti, aku takut jika sampai kelas tiga nanti di perlakukan seperti ini. Aku tidak ingin memiliki cerita miris selama sekolah. Aku takut mereka benar-benar membenciku, sehingga aku tidak memiliki teman. Pikiranku menjadi kalut bahkan imajinasi mulai menggerogoti pikiranku.

My Teenage Years {END}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang