"Kamu beneran tinggal di komplek sini?"
Aku bertanya pada Raihan, kebetulan saat berangkat aku bertemu dengannya sehingga aku memberanikan diri untuk jalan bersamanya.
Sejujurnya aku masih merasa asing dengan cowok itu, mengingat aku belum pernah bertemu Raihan di daerah rumahku.
"Makanya sering keluar rumah," jawab Raihan.
"Aku sering keluar tapi ya gak tau kalo kita sekomplek. Oh iya kamu kan tinggal nya deket sama aku, kamu kenal gak sama Adi?"
"Gak."
"Kok gak kenal diakan di kenal di kompleks situ, masa gak tau."
"Gak semua orang gue kenal."
"Iya juga sih. Oh iya besok-besok kalo kita ketemuan kayak gini di jalan aku berangkat bareng kamu ya biar gak sendirian jalannya. Biar enak aja gitu aku gak sendirian."
"Gue gak mau."
"Kenapa?"
"Lo berisik."
"Aku bisa kok banyak diem kalo kamu mau."
"Hm."
Aku merenggut pelan. Perjalanan menuju sekolah sebentar lagi sampai. Keheningan pun mulai tercipta. Seperti dugaan ku di awal, Raihan memiliki sifat yang pendiam juga dingin. Ingatkan saat aku menuduh Raihan karena mengikuti ku padahal rumah kami masih berdekatan, ah mengingat itu aku kembali malu.
Raihan terus berjalan di sebelahku tanpa ada pergerakan untuk mempercepat langkahnya. Aku heran, cowok itu tidak suka jalan dengan ku tapi tetap berada di sebelahku. Padahal bisa saja dia jalan lebih dulu, meninggalkan ku yang lambat ini.
"Raihan!!!"
Aku menoleh, melihat sumber suara itu. Seseorang jalan mendekat kearah kami, mensejajarkan langkahnya dengan kami.
Aku tau orang itu, mengingat kemarin Laras sempat menceritakan sedikit tentang perempuan itu. Kalo tidak salah namanya Veira. Ternyata jika di lihat dari dekat cewek itu sangat cantik, seketika aku merasa insecure.
"Dia siapa?" tanya Veira pada Raihan.
"Temen gue," jawab Raihan.
"Kok gue baru tau sih."
"Lo gak harus tau siapa aja temen-temen gue."
"Terus kalian kenapa berangkatnya bisa barengan?" tanya cewek itu lagi.
"Rumah kita dekat dan berhenti tanya-tanya hal yang gak jelas."
Melihat interaksi mereka membuatku banyak diam. Aku tidak tau hubungan mereka apa tapi terlihat jelas kalo Veira seakan tidak menyukai ku.
Tunggu, apa mereka berdua pacaran. Ah bodoh, tidak seharusnya aku berjalan berdua dengan Raihan, karena bisa saja itu akan membuat perdebatan antara mereka. Lebih baik aku jalan lebih dulu, aku tidak mau di cap sebagai perusak hubungan orang.
"Dia bakal selalu bareng gue kalo berangkat sama pulang," ujar Raihan.
Apa maksud ucapan Raihan, aku semakin tidak mengerti. Mungkinkah Raihan bicara seperti itu karena berfikir aku tidak akan mendengar ucapannya. Sudahlah aku tidak ingin terlibat lebih jauh percakapan mereka.
"Iya, iya cuma berangkat sama pulang doang kan barengannya."
***
Sudah hampir beberapa hari ini Raihan selalu ada di perpustakaan. Duduk di tempat biasanya. Sejujurnya aku sudah tidak terlalu mempermasalahkan itu, mengingat aku pun masih duduk di tempat yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teenage Years {END}
Teen FictionAkan banyak peristiwa yang terjadi di saat masa remaja. Susah, senang maupun urusan hati. Konflik yang mungkin akan terus bermunculan sehingga karakter pendewasaan terbentuk. Beberapa hal manis mungkin juga bisa terjadi di masa ini, seperti percint...
