"Gimana kemahnya, Seru?"
Hari ini aku dan Adi memutuskan membeli seblak di dekat rumah. Tempat dimana Angga menghampiriku bersama teman-temannya. Akhir-akhir ini aku jarang menghabiskan waktu dengan Adi bahkan sekedar menukar pesan. Alhasil aku mengajaknya keluar.
Pertanyaan Adi barusan mengingatkan ku pada ucapan Veira, "Di, menurut kamu, aku kayak gimana?"
"Gimana apanya?"
"Ya sifat aku."
"Suka ambekan, suka marah, kayak bocil."
"Aku serius Adi!"
"Gue juga serius. Lagian kenapa sih tiba-tiba nanya kayak gitu?"
"Aku bawa pengaruh buruk gak ke kamu?" tanyaku pelan.
Adi mengerutkan keningnya. Sepertinya dia merasa percakapan ini serius. Aku sendiri gagal mengontrol ekspresi wajah.
"Lo kenapa? Ada yang ngomong aneh-aneh tentang lo ya selama di kemah."
"Gak ada, cuma penasaran aja. Takutnya selama aku temenan sama kamu bawa pengaruh buruk."
"Gue curiga ada sesuatu yang lo umpetin."
"Gak ada ih orang cuma nanya." Aku mulai memakan seblak di depanku. Mengalihkan percakapan Adi.
"Lo gak bawa pengaruh buruk buat gue."
"Kalo pas kamu sama Laras pacaran. Kalian pernah gak ngerasa hubungannya ke ganggu sama aku?"
"Gak sama sekali."
"Serius?"
"Iya. Lo nanya gini makin bikin gue curiga tau gak."
"Apaan sih namanya juga nanya. Takut aja gitu pas kamu sama Laras pacaran kalian berantem gara-gara aku dekat banget sama kamu."
Adi memilih diam dan mulai menikmati seblak miliknya. Aku sendiri pun ikut diam seperti Adi. Kami berdua asik dengan makanan sendiri-sendiri. Namun keheningan buyar begitu Adi membuka suara. Aku fikir dia tidak ingin membahas lagi mengingat responnya tadi diam.
"Gue sama Laras beberapa kali berantem tapi bukan karena lo penyebabnya. Ada banyak alesan di suatu hubungan bertengkar, tapi yang pasti itu bukan tentang lo."
***
Hari-hari sibuk telah di mulai. Banyak praktek dan ujian ujian yang mulai aku hadapi di kelas sembilan. Lima bulan lagi kelulusan. Banyak rumor menyebalkan yang ku dengar akhir-akhir ini. Mengenai hubungan aku dan Raihan dan rusaknya hubungan Veira dan Raihan.
Aku lelah di situasi seperti ini. Aku ingin fokus pada ujian dan nilai-nilai ku dulu. Tapi dengan banyaknya ucapan jelek orang-orang membuatku down dan takut.
Aku dan Raihan tetap pulang bersama di saat orang-orang berkata jelek tentang diriku. Sejujurnya aku yakin Raihan mendengar ucapan jelek mereka tentang ku. Bolehkah aku menyerah? Aku hanya ingin hidup normal sebagai pelajar.
"Raihan."
"Apa?" Cowok itu menoleh padaku.
"Mulai besok kita jangan pulang bareng lagi ya."
"Kenapa? Gara-gara ucapan jelek mereka?"
Seperti dugaanku, Raihan mengetahui hal ini.
"Iya. Aku capek denger ucapan buruk mereka. Aku tau gak seharusnya aku dengerin ucapan mereka, tapi aku gak bisa. Aku selalu kepikiran ucapan mereka, itu ngebuat aku down. Aku cuma mau fokus sama nilai-nilai biar gak ngecewain orang tua aku."
"Jadi intinya lo mau gue berhenti pulang bareng lo?" tanya Raihan.
"Berhenti juga jadi temen aku." Entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teenage Years {END}
Ficção AdolescenteAkan banyak peristiwa yang terjadi di saat masa remaja. Susah, senang maupun urusan hati. Konflik yang mungkin akan terus bermunculan sehingga karakter pendewasaan terbentuk. Beberapa hal manis mungkin juga bisa terjadi di masa ini, seperti percint...
