23] Kebenaran Ini

100 14 0
                                        

Holla, Reader tercintaa dengan berbagai sifat👋

Sekarang udah masuk part 23 nih, semoga ceritanya nangkep sampe otak kalian. Jujur, aku yang bikin bahkan sempet ragu... takutnya ga nyambung heheh

So, kalian udah nikmati kah sampe sejauh ini? Jangan lupa vote, komen, dan share yaa🙏

Lopee youu reader❤

.

.

.

Komplit sudah masalah di sekolah. Mika masuk ke kamar tanpa sepengetahuan Ijya yang masih di ruangan kerja. Biasanya Mika selalu berteriak untuk memancing Ijya menghampirinya. Kali ini mood Mika benar-benar hancur, bahkan air mata masih membahasi pipinya.

Ma, Mika butuh ditemenin Mama.

Tangan cewek remaja itu segera menargetkan kontak Tifa, berharap hatinya bisa lebih lega atas kehadiran Sang ibu.

Tut... tut.... tut....

"Ya Hallo nak? Kenapa?"

Tanpa bisa menahan lebih lama. Mika mulai terisak-isak sampai dadanya ikut sesak.

"Maa, cepet pulang Ma! Mika mau sama Mama," titah Mika butuh perhatian.

"Memang kenapa naak? Papa kamu berani macam-macam?!" Tifa pun mulai panik karena baru kali ini mendengar anaknya menangis kencang. Takut jika terjadi sesuatu yang dilakukan Ijya.

Mika menggelengkan kepala. "Bukan Ma, Mika bakal... cerita kalo Mama udah sampe."

"Huh, syukurlah nak. Tapi kan kamu bisa curhat sama Papa disana. Dia pasti lebih ngerti keadaan kamu daripada Mama."

"Tapi Mika pengen Mama..."

"Nak, tolonglah ngerti keadaan Mama. Sekarang Mama masih berjuang nyariin uang demi kalian. Dua hari lagi yaa, Mama janji bakal pulang lusa pagi."

Tangisan Mika semakin kencang. Kenapa ketika baru Mika meminta sesuatu, mereka sangat sulit mematuhinya. Padahal Mika hanya ingin keberadaan Tifa sebagai seorang Ibu. Mika membutuhkan orangtuanya kembali seperti semula, memperhatikan anak semata wayang ini.

"Hari ini atasan nyuruh Mama lembur, karena meeting dadakan nak. Kamu lebih baik—"

Tanpa sadar, Ijya datang tiba-tiba. Mendengar percakapan mereka membuat Ijya merasa jengkel. Tangan pria berjas hitam itu langsung menyambar handphone anaknya dengan kasar.

"Kamu jangan nyari banyak alasan! Apa susahnya sih jujur sama anak kita?" bentak Ijya dalam panggilan.

"Kasihan anak kita! Dia masih belum siap."

"Daripada nimbulin masalah baru karena kita nutupin ini terus, mending jujur saja di awal!"

"Eh Mas, kamu jangan egois ya! Kamu sok berperinsip banget jadi orang. Pikirin juga perasaan Mika gimana habis tahu ini."

Mika terpaksa berhenti menangis. Fokusnya menjadi terbelah sejak berusaha mencerna maksud dari perdebatan kedua orangtuanya.

"Banyak omong. Intinya kita udah cerai. Titik!"

"IJYA! Kamu sengaja kan mau mendesak jujur biar aku ga kesini lagi hah?!" bentak Tifa.

"Kamu emang ga pantes jadi keluarga lagi! Kamu bilang apa? Mika cuma bebanmu kan? Katanya kamu muak ngurusin Mika!"

Pretended || Avoidant ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang