"Apa maksudmu berkata begitu?!!"
Elice membentak Vicktory, yang duduk di sampingnya, tanpa memperdulikan situasi bahwa mereka sedang berada di meja makan, di depan orang tuanya.
"Tidak bermaksud apa-apa," jawab Vicktory, dengan tatapan dingin, yang membuat siapa saja hampir mati rasa.
"Hei, kenapa kalian selalu bertengkar? Setidaknya, janganlah bertengkar di meja makan. Habiskan makanan kalian, dan setelah itu tidur lah!" Jong Hoon memotong pembicaraan mereka.
Dengan keberatan Elice pun menjawab "tapi kan Daddy..." Sungut Elice.
"Hei, kenapa kau melawan ayahmu?" Tanya Vicktory, memotong ucapan Elice.
"Bukan urusanmu!" Elice membalas dengan wajah jutek.
"Sudah cukup! Jangan bertengkar lagi." Rani mencoba menenangkan. "Lebih baik, kalian berjabat tangan dan berkenalan dulu. Mommy tau, kalian pasti belum berkenalan, kan?" Lanjut Rani.
"Hah? Berjabat tangan dengan dia? Aku tidak mau.." Ucap Elice sambil membuang muka.
"Elice, ayolah... Kenapa kau keras kepala sekali?" Rani membalas, dengan sedikit bujukan.
"Baiklah Mom.."
Elice mengulurkan tangannya pada Vicktory, dan Vicktory menjabat tangannya dengan agak canggung.
"Perkenalkan, namaku Elicia Shin. Usiaku delapan belas tahun!" ujar Elice, yang hanya tersenyum hambar.
Sama seperti Elice, Vicktory pun hanya membalas ucapannya dengan senyuman hambar.
"Namaku, Vicktory Valenzuela, usiaku dua puluh tiga tahun, aku berasal dari Filipina, dan bekerja di Korea"
"Owh, baiklah..." Balas Elice, sambil menarik tangannya kembali ke posisi semula.
"Tapi...." Lanjut Elice
"Kenapa?"
"Kau bekerja di Korea, tapi kenapa kau ada di Indonesia?" Tanya Elice, terlihat raut bingung di wajahnya.
"Oh yah.. itu karena aku sedang menjalani misi di sini." Jawab Victory, agak canggung.
"Oh yah?? Misi apa itu?" Elice bertanya lagi.
"Misi untuk menangkap gadis jengkel sepertimu," ucap Vicktory sambil menahan tawa.
'sial...'
Geram Elice dalam hati, dia ingin membalas ejekan Vicktory, tapi dia sedang menahan diri di depan orang tuanya.
Rani tersenyum melihat keduanya yang mulai berbicara normal " nah... Kalo damai begini kan, bagus. Dari pada bertengkar terus!" Ujar Rani.
"Iya mom," balas singkat Elice, yang tersenyum pahit.
***
Pagi hari
Nada dering alarm di handphone Vicktory berbunyi, sehingga membuat Vicktory terbangun dari tidurnya.
Saat dia menyalakan handphonenya, dia terkejut melihat banyak panggilan yang tak terjawab dari ketua tim mereka.
Awalnya, dia heran kenapa ketua tim mereka meneleponnya pagi-pagi, secara di Jakarta baru pukul 06:24 pagi.
Namun, dia teringat bahwa di Seoul saat ini, sudah pukul 08:24 pagi.
Dia sangat mengantuk dan lelah, karena semalaman dia berada di depan komputer untuk menyelidiki lebih lanjut lokasi-lokasi yang sering dikunjungi oleh orang yang membuatnya berada di Indonesia saat ini.
Saat Vicktory hendak membaringkan tubuhnya di kasur yang super nyaman itu, tiba-tiba, handphone nya berdering lagi.
Kali ini, bukan alarm, tapi seseorang telah menelponnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
There Are Two Loves (End)
RomansaPindahan dari aplikasi Fizzo. Elicia dan Vicktory, sudah saling bermusuhan sejak pertama kali mereka bertemu. Namun siapa sangka, ternyata mereka akhirnya bisa saling jatuh cinta satu sama lain. Setelah menjalani hubungan selama beberapa tahun, mere...
