Chapter 26

784 93 126
                                        

Jangan lupa baca author notes dibawah ya🥰

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa baca author notes dibawah ya🥰











Hujan deras melanda Seoul sejak pagi buta. Membuat Nari terbangun lebih cepat dari biasanya setelah mendengar suara petir yang menggelegar. Gadis itu praktis membuka mata dengan jantung berdegup kencang. Bunyi petir benar-benar mengejutkannya yang tengah tertidur pulas. Tanpa sadar jemarinya bergerak meraba sisi tempat tidur. Terdapat ruang kosong di sana, yang menandakan bahwa semalaman ia tidur sendirian.

Nari sontak menghela napas.

Sejak kemarin, Seokjin tidak pernah menemaninya tidur. Pria itu kerap kali pulang larut malam dan mungkin saking kelelahan, ia langsung beristirahat di kamarnya sendiri. Nari yang agak takut melihat kemarahan Seokjin jika sedang lelah memilih untuk tidak banyak mengeluh. Meski hatinya merasa sesak. Diikuti rasa takut yang masih menghantuinya bagaikan teror. Lagi pula sekarang hari minggu. Nari berharap bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan kekasihnya.

Sejurus kemudian, gadis itu mengernyit melihat ponselnya yang tiba-tiba berdering. Batinnya bertanya-tanya mengenai orang bodoh mana yang menelepon sepagi ini. Merasa kesal karena jam tidur yang kurang, Nari meraih ponselnya dengan malas. Lantas terkejut sendiri melihat nama Jimin tertera di layar. Keraguan mendadak menyerang benaknya. Nari merasa bimbang. Namun tak urung ia memilih untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Terkejut?"

"Tidak juga," balas Nari dengan suara parau.

"Maaf, aku tahu kau pasti terganggu." Jimin meringis di seberang sana. "Tapi biasanya jika hujan petir seperti ini, kau pasti terjaga dan sedang sibuk menenangkan Ibumu."

Nari terkekeh, mendadak ia teringat ibunya karena ucapan Jimin. Pria itu benar. Dulu sebelum Nari memilih untuk kabur dari rumah, ia memang akan sibuk menenangkan ibunya yang kerap kali ketakutan jika mendengar petir. Namun sekarang Nari tidak khawatir lagi. Lagi pula semalam ia sempat menghubungi Yunji. Wanita paruh baya itu mengabari bahwa ia akan menginap di kediaman adiknya selama seminggu setelah berusaha meminta maaf atas insiden mencubit Sana, anak perempuan yang pernah diasuh olehnya.

"Kau masih mengingatnya."

"Tentu saja," Jimin terkekeh.

Hening sejenak. Nari memilih untuk diam tanpa berniat membuka pembicaraan sedikit pun. Setelah semua yang terjadi, Nari tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa pada Jimin. Harapannya untuk mempertahankan persahabatan buyar seiring dengan pengakuan mendalam dari pria itu. Nari sadar semua tidak akan terasa sama jika ia memutuskan untuk tetap berada di sisi Jimin.

"Nari."

Nari hanya menyahut dengan gumaman.

"Siang ini ... jika cuaca mulai membaik, bisakah kita bertemu sebentar?"

Daddy Issues [M]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang