Bab 14

4.1K 275 15
                                        

Liona menengadah, menyandarkan kepalanya pada Leon di belakangnya. Leon menunduk mencium kening, pipi, dan bibirnya. Leon membuka gaun Liona dan membiarkannya merosot hingga ke bebatuan di bawahnya.

Liona membuka pakaian Leon dan melepaskan semuanya hingga keduanya tanpa busana. Liona mencium dada dan perut Leon. Satu tangannya bergerak memberanikan diri menyentuh benda keras milik suaminya. Liona tertegun, rasanya keras dan hangat.

"Sentuhlah sesukamu, aku menyukainya,"bisik Leon.

Liona mengusap-usap milik Leon yang kini semakin mengeras. Lalu, ia berlutut dan mencium milik Leon. Perlahan ia memberanikan diri untuk menghisapnya. Leon menengadah sembari meremas rambut Liona. Milik Leon tidak bisa sepenuhnya memasuki mulut Liona yang kecil. Namun, hisapan tersebut sudah mampu membuat Leon terbang melayang hingga ke langit ketujuh.

"Ternyata kamu bisa menggodaku, sayang." Leon mengerang.

Ia merasakan kedutan hebat pada miliknya. Lalu cairannya menyembur mengenai wajah dan tubuh Liona.

"Ah, maafkan aku." Leon kaget. Tetapi, entsh kenapa ia merasa sangat puas melihat cairannya mengenai wanita pujaan hatinya itu.

"Ini terasa hangat." Liona tertawa dan berdiri. Tubuhnya dipenuhi cairan putih milik Leon.

"Ayo kita bersihkan." Leon membawa Liona ke bawah air terjun. Keduanya basah kuyup sembari membersihkan sisa sisa cairan itu.

Leon merasakan miliknya mengeras kembali. Lalu, ia menyeringai sembari memandang Liona. Leon menggendong Liona dengan spontan. Wanita itu terkejut.

"Ada apa, Leon?"

Leon membawa Liona ke bebatuan besar dan membaringkan wanita pujaan hatinya di sana. Melihat kejantanan Leon yang sudah  berdiri tegak, Liona langsung paham apa yang akan terjadi setelah ini.

Leon memasuki Liona. Miliknya terasa hangat di dalam daging lembut yang menghimpir miliknya dengan cukup keras.

"Apa kamu tidak lelah?"tanya Liona.

"Tentu saja tidak. Aku akan mencumbu,merayu, dan menidurimu setiap hari. Kapan pun dan di mana  pun aku mau. Jadi, berhati-hatilah dalam bersikap, sayang. Jangan sesekali mencoba menggodaku. Aku pasti akan langsung menerkammu,"balas Leon dengan nada suara yang sangat bergairah.

"Ah!" Liona merasakan milik Leon menekannya sampai ke titik paling dalam. Ia merasa seperti sedang buang air kecil yang cukup banyak.

Leon menarik miliknya dan menyaksikan pemandangan indah tersebut. Sementara Liona berusaha menutupi miliknya karena malu.

"Ah, sepertinya aku buang air."

"Tidak, itu berarti kamu puas dengan milikku." Leon menyeringai. Lalu ia memasuki Liona kembali dan menghunjam dengan kencang.

Kini Liona terbaring tidak berdaya. Tenaganya habis terkuras setelah serangkaian acara dan percintaannya dengan Leon yang luar biasa. Berseberangan dengan Leon, pria itu justru terlihat semakin kuat dan segar.

"Kamu terlihat lemas." Leon membersihkan milik Liona dengan air. Lalu mengambil pakaian dan mengenakannya.

"Kita tidak mungkin masuk dalam keadaan basah begini. Orang akan melihat,"kata Liona yang kini pasrah saat Leon memakaikan gaunnya.

"Ada pintu rahasia menuju kamar. Kita bisa langsung ke kamar." Leon membantu Liona bangkit. Kakinya gemetar karena terlalu banyak menerima hunjaman. Tetapi, ia masih bisa berjalan dengan baik.

Keduanya berjalan pelan memasuki lorong yang menghubungkan ke kamar keduanya. Tentu saja itu adalah kamar pengantin baru. Sesampai di kamar, Leon membantu Liona mengeringkan tubuhnya dan mengganti pakaian.

"Kemarin aku sempat bertemu dengan Anne." Leon membuka pembicaraan."

"Oh, ya? Lalu apa yang ia katakan?"

"Anne mencoba menggodaku kemarin. Dia mengajakku berkenalan."

"A-apa? Bagaimana mungkin itu terjadi." Liona mengigit jarinya,"lalu bagaimana denganmu?"

"Entahlah, menurutmu bagaimana?"

Liona menunjukkan wajah datarnya, ia mencurigai Leon juga memiliki ketertarikan pada Anne. "Tidak tahu. Mungkin saja kamu tertarik padanya."

"Mana mungkin. Di saat itu aku langsung tahu kalau itu Anne atas pengakuannya sendiri. Dia mengajakku bertemu lagi, lalu kukatakan kita akan bertemu di pesta besok. Oleh karena itu, dia terkejut ketika tahu akulah pengantin prianya."

"Hmm~"

"Kamu cemburu, ya?" Leon tertawa,"akhirnya aku berhasil membuatmu mencintaiku."

Liona menatap dirinya di hadapan cermin. Tubuhnya sudah tidak sekurus dulu. Ia tampak berisi dan bersih sejak tinggal di sini. "Aku~tidak mau membahasnya lagi. Mereka sudah cukup menyakitiku. Sudah cukup aku mengabdi pada mereka dan menjadikanku seperti budak. Sekarang aku ingin menikmati hidupku, makan, tidur, dan bekerja dengan enak."

Leon berdiri di belakang Liona dan menatap istrinya dalam cermin. "Bekerja? Cukup aku dan Kakak yang bekerja. Kamu adalah Nyonya di rumah ini. Tidak ada boleh pria di luar sana yang boleh mengagumi kecantikanmu."

"Itu sedikit berlebihan. Aku tidak secantik itu."

Leon mengecup pipi Liona."Hmm~apakah aku boleh menemui Kakak sekarang? Dia pasti sedang  minum anggur sendirian."

"Apa kamu tidak lelah?"Liona menatap suaminya heran,"kita terus bercinta, bukankah itu cukup menguras tenaga?"

Leon berbisik di telinga Liona."Justru sebaliknya, aku sangat bertenaga ketika bercinta denganmu. Aku sangat kuat, sayang."

Wajah Liona merona."Baiklah  kalau begitu silakan temani Kakak. Dia pasti butuh teman. Aku akan istirahat."

"Hmm~"

"Banguni aku jika kamu menginginkan sesuatu. Jangan langsung menyerangku." Liona mengingatkan.

"Entahlah, aku tidak bisa berjanji." Leon tertawa pelan,"aku pergi dulu, ya, sayang."

Liona mengangguk sembari melambaikan tangan. Akhirnya ia bisa merebahkan tubuhnya dengan tenang dan nyaman.

EROTIC NIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang