Bab 17

2.9K 225 9
                                        

Aku melewatkan 2 bab sebelum ini, ya. Hanya ada di karyakarsa/playbook. Kayaknya kalau terlewatkan nggak pengaruh ke jalan cerita. Hanya saja ada sesuatu di antara Adeline dan Darren.

Terima kasih yang sudah membaca.

😍

Liona mulai terbiasa dengan aktivitasnya sebagai seorang istri. Namun, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Leon tidak mengizinkannya terlalu banyak beraktivitas di luar, karena banyak lelaki yang memandang kagum istrinya.

Liona menggunakan waktu kosongnya untuk belajar membuat makanan penutup, menyulam, dan belajar di perpustakaan. Ia juga mempelajari cara membuat laporan keuangan. Leon mengajarinya di waktu luang. Liona benar-benar menikmati kehidupan barunya.

Leon baru saja pulang dari gudang penyimpanan anggur. Ia langsung menemui Liona yang sedang membaca di perpustakaan.

"Sayang~" suara yang meneduhkan itu muncul di keheningan perpustakaan.

Liona berdiri dan memeluk Leon."Maaf, aku tidak tahu kalau kamu sudah pulang."

"Tìdak apa-apa, aku memang pulang lebih awal. Apa yang kamu lakukan hari ini?"

"Membaca." Liona menunjukkan satu bukunya,"ayo duduk."

Leon duduk di kursi dan meletakkan sesuatu di meja. Liona menatapnya."Apa itu?"

"Oh, itu undangan untuk kita hadiri besok malam,"jawab Leoñ sembari membuka penutup kepalanya.

"Undangan?" Liona membuka kertas tebal tersebut."Undangan apa ini? Aku tidak mengerti, kenapa ada nama Anne di sini?"

"Itu undangan pertunangan Anne dan Damian." Leon juga kaget dengan kabar pertunangan Anne dengan Damian. Maksudnya, kenapa Damian memilih Anne sebagai calon istrinya. Bukankah pria itu juga tahu mengenai reputasi kelarga tersebut. Mungkinkah Damian memang menyukai Anne, seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, yang sedikit menyebalkan adalah ia harus bersaudara dengan pria menyebalkan itu.

"Pertunangan?" Liona tertegun,"maksudnya Anne akan bertunangan?"

Leon mengangguk."Iya, mereka sedang gencar menjodohkan Anne dengan pria dari keluarga kaya. Sejak melihat kenyataan tentang kita, mereka tidak pernah berhenti mencari."

"Lalu, mereka sudah mendapatkannya. Syukurlah. Namanya seperti pria yang kita temui beberapa minggu lalu." Liona teringat dengan pria yang mengganggunya. Namanya sama, Damian.

"Kamu benar. Dia adalah orang yang sama."

Liona memekik."Ah, kebetulan sekali. Semoga saja Damian memang mencintai Anne dengan tulus. Tap-tapi, kenapa bukan Ayah dan Ibu yang memberikan undangan ini?"

"Damian~ah, maksudku pria berengsek itu mengundang kita."

"Pertunangan Anne dan Damian? Kenapa Damian yang mengundang? Kenapa Ayah dan Ibu tidak mengundang? Aku, kan anak mereka." Liona cukup terkejut dengan kenyataannya ini.

Leon tersenyum."Mungkin mereka tidak ingin kamu datang."

Liona menelan ludahnya kelu, lalu mengangguk sembari tersenyum lirih."Iya, aku~bukanlah anak mereka lagi. Itu artinya kita tidak perlu datang?"

Leon memegang tangan Liona."Tidak menghadiri undangan sesama bangsawan itu tidak sopan. Kita akan datang sebagai undangan dari Damian."

"Tapi, kita akan tetap bertemu dengan ayah dan Ibu. Mereka bisa marah." Liona menatap undangan itu dengan mata berkaca-kaca.

"Kita, kan, diundang oleh Damian. Mereka tidak akan bisa marah, sayang, jangan khawatir." Leon memeluk Liona, rasa lelahnya hilang seketika.

"Baiklah kalau begitu. Kamu pasti capek, ya? Kamu sudah makan?" Liona mengalihkan pembicaraan mengenai pertunangan Anne dan Damian. Ia harus memerhatikan suaminya.

"Iya aku agak capek. Aku ingin tidur siang sama kamu."

"Ayo~"

Keduanya kembali ke kamar. Liona mengambil pakaian bersih dan meminta Leon mengganti pakaiannya. Setelah itu Leon berbaring.

"Kamu juga berbaring, ya, di sebelahku. Tapi, lepaskan gaun kamu,"pinta Leon.

"Lepaskan gaun?" Kening Liona berkerut,"kenapa harus dilepaskan?" Meskipun begitu, Liona tetap melepaskan pakaiannya dan berbaring di sebelah suaminya.

Leon memeluk Liona dari belakang sembari berbaring. Setelah beberapa detik, ia merasakan sesuatu menyundul bokongnya. Wanita itu menegang, kemudian membalikkan badan. Leoj sedang memejamkan mata dengan rambut yang sedikit berantakan. Liona tersenyum melihat pemandangan indah di siang hari ini.

Mata Leon terbuka dan ia mendapati Liona tengah menatapnya."Kenapa, sayang? Tidak tidur siang?"

"Ada sesuatu yang menggangguku di bawah sana. Makanya aku terbangun,"jawab Liona.

Leon melihat miliknya.lalu tertawa."Ah, maafkan aku. Tapi, kita hanya perlu mengabaikan karena kita harus istirahat. Malam nanti kita harus pergi."

"Kamu baik-baik saja?"

Leon menggeleng."Tentu saja tidak. Aku merindukanmu sepanjang hari."
Liona bangkit dan mendekat ke milik Leon. Ia mengusap permukaannya. Ia bisa merasakan milik Leon benar-benar mengeras. Liona menyeringai sembari melepaskan pakaian yang tersisa di tubuh Leon, kemudian ia menunduk dan mengulum milik Leon.

"Sayang!"Leon terkejut. Sekarang Istrinya berubah menjadi pemberani."Kamu melakukannya." Dalam hitungan detik, Leon mengambil alih kendali. Ia meindih tubuh Liona dan mengenyahkan pakaian dari tubuhnya.

Liona tertawa sembari menutupi kedua dadanya dengan tangan. Leon menyingkirkan tangan Liona. Pria itu mengecup dan melumat puncaknya. Napas Liona tertahan merasakan tubuhnya yang seperti dialiri listrik. Puncak dadanya terasa hangat dan basah. Lidah Leon yang bermain di puncaknya membuat Liona ingin buang air. Satu tangan Leon meremas gundukan kenyal miliknya.

"Leon~" Liona mendesah, ia mengigit bibir bawahnya sembari menggelinjang. Miliknya terasa berkedut. Ia menginginkan sesuatu masuk atau menyentuh miliknya.

Leon membalikkan tubuh Liona dan menciumi punggung wanita itu. Liona meremas sprei menahankan setiap percikan gairah dari sapuan lidah Leon. Jantungnya berdebar kencang padahal ini bukan yang pertama. Seiring dengan cumbuan Leon, Liona merasakan kejantanan Leon menyentuh bokongnya, terasa keras dan hangat.

"Leon~ngh~" Liona mendesah.

Leon kembali membalikkan badan Liona, membuka pahanya lebar-lebar. Kemudian menenggelamkan wajahnya pada milik Liona.

"Eh, jangan! Itu tidak boleh."

Leon tidak akan mendengarkan Liona. Ia melakukan apa pun yang ia inginkan. Mìlik Liona tersapu oleh lidahnya hingga ke dalam.
Tubuh Liona membusung, meremas rambut Leon dan menggelinjang tak terkendali. Leon memgangkat wajahnya, kemudian kembali membuka paha Liona dan menyatukan milik mereka. Pria itu mendesah saat milik mereka bergesekan. Desahannya sangat seksi membuat Liona semakin bergairah.

"Seharusnya aku mengejarmu dari dulu. Ternyata bercinta itu semenyenangkan ini,"bisik Leon dengan napas memburu.

"I-iya tap-tapi, tolong pelan-pelan." Tubuh Liona terguncang keras.

"Ini sudah pelan, sayang." Leon menghunjam keras .

"Leon~berhenti, itu terlalu keras." Liona memekik.

Semakin Liona berteriak, Leon semakin semangat menghunjam. Liona hanya bisa pasrah, ia mulai kelelahan dan menunggu Leon pelepasan. Entah berapa lama Liona merenung sampai akhirnya ia merasakan gerakan Leon tidak terkontrol dan suara erangan panjangnya terdengar. Percintaan mereka berakhir.

"Malam ini kita berangkat, ya, supaya kita tiba di sana pagi hari dan kita ssmpat berisitirahat."

"Oh, baiklah. Aku aķan meminta Adeline menyiapkan gaunku,"kata Liona yang kemudian mengenakan pakaiannya.

"Baiklah, aku istirahat, ya." Leon lamit untuk tidur.

Sepertinya setelah ini Liona harus segera tidur agar bisa segar di malam hari nanti. Perjalanan mereka akan panjang menuju rumah orang tuanya.

💦💦💦

EROTIC NIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang