Tepat 3 minggu setelah bangun dari komanya, Peat meminta agar perawatannya dilanjutkan dirumah. Malam disaat pertama kali ia menggunakan walker atas seizin terapisnya, Peat meminta agar mereka pulang karena satu dan lain hal.
Banyak pertimbangan yang membuat Peat ingin secepatnya berada dirumah. Memang sampai saat itu Peat masih ragu apakah ia sanggup untuk kembali menapaki istana megah yang pernah menjadi momok menakutkan baginya. Rasa takut yang ia rasakan seolah memberati kakinya agar tak mengarah lagi kesana.
Namun melihat Fort yang harus kelelahan setiap hari membuat Peat tak tega, apalagi dirinya yang belum cukup mampu untuk mengurus para bayi sendirian membuat Fort tak bisa beristirahat dengan baik bahkan setelah pulang kerja.
Pernah ia berpikir jika apartemen miliknya tak buruk untuk ditinggali sementara sepulang dari rumah sakit. Namun kendaraan darat akan memakan waktu sekitar 30 hingga 45 menit dari apartemen menuju istana. Dan tentu saja hal ini tetap akan membuat Fort lelah karena harus berada dalam perjalanan dalam waktu yang tidak sebentar. Dan hingga pada akhirnya Peat tetap memilih istana untuk menjadi tujuan pulangnya.
Selain itu Peat mengasihani bayi bayinya yang harus menetap dirumah sakit. Selama dua bulan lebih bayi kembarnya terpapar udara rumah sakit yang cenderung tak sehat. Dan Peat sama sekali tak mau hal hal yang tak diinginkan terjadi pada bayi bayinya.
Dan alasan lainnya ialah Khun Tan. Pria yang sudah Peat anggap sebagai pamannya sendiri itu tetap mengurungkan niatnya untuk pulang ke Azea mengurusi perusahaan Chain secara langsung meskipun Fort sudah memperkerjakan dua orang perawat untuknya. Peat masih mendapati dua orang pengawal didepan ruangannya disertai info Khun Tan yang tetap mengawasi Peat dari hotel tempatnya menginap. Khun Tan berdalih jika ia hanya bersiap jika sewaktu waktu tenaganya kembali dibutuhkan. Pria paruh baya itu tak ingin hal yang tak diinginkan berada diluar jangkauannya.
Sebelum keberangkatannya kembali ke Azea, sepasang kekasih itu memilih mengunjungi Noeul yang berada dirumahnya. Mereka berniat untuk berpamitan sekaligus mengunjungi bayi Pakfaii yang tengah demam.
Malam sebelumnya Peat berniat memberitahukan kedatangannya kerumah pasangan dokter bangsawan tersebut karena ingin berpamitan. Namun siapa sangka anak dari teman sekaligus iparnya tersebut tengah sakit. Pada awalnya Peat berniat untuk menghabiskan waktu seharian untuk perpisahan, tapi akhirnya Peat urungkan dan menghabiskan 2 sampai 3 jam saja dirumah pasangan dokter tersebut dan segera menuju landasan.
Dan kini akhirnya mereka berada dijalan menuju gerbang utama dari istana kerajaan. Mobil yang berbeda dari biasanya menjemput mereka. Mobil dengan ukuran besar yang mampu menampung cukup banyak orang dengan bagian belakang yang diluaskan hingga mampu memuat troli ketiga bayi tersebut.
Hanya memakan waktu sekitar 10 menit dari landasan, Peat sudah mulai melihat puncak dari istana. Ujung yang meruncing pada atap khas istana.
Tanpa sadar tangan kanannya yang bebas meremas kuat, matanya sedikit melirik Fort disebelahnya yang tengah tertidur dengan kedua tangan mereka yang bertaut. Lega melihat sang alpha terlelap, Peat mulai mengatur napasnya yang mulai memendek, rasa sesak didadanya sedikit memekakan telinganya.
Tentu tak semudah itu ketika gambaran menakutkan kembali terputar dibenaknya. Tubuhnya seperti dirasuki angin dingin hingga bulu halusnya meremang.
Grep
Pegangan yang mengerat ditangan kirinya membuat Peat terhenyak, kepalanya berpaling menatap alpha yang kini menatapnya teduh dan lembut. Senyum tipis yang hangat dengan anggukan kecil seolah mengisyaratkan jika Peat tak sendirian.
Melirik genggaman tangan mereka seketika membuat rasa hangat menjalari sekujur tubuh Peat. Omega itu tersenyum dengan hembusan napas lega yang menenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rare Species - FORTPEAT (END)
FantasíaWaktu terus berjalan dan zaman terus bertukar. Evolusi yang tak terelakan membuat sebagian kalangan dengan status istimewa mulai menipis, digantikan dengan jenis manusia yang hanya terdiri dari dua pilihan yakni laki laki dan wanita. Menyisakan seba...
