Ella terbangun dari mimpi panjangnya. Tubuhnya serasa remuk ketika digerakkan. Ia regangkan perlahan, memicu gesekan tulang yang terasa melegakan. Ini efek kebanyakan minum. Sudah berulang kali ia memperingatkan diri untuk tidak terlalu banyak minum alkohol, tetapi jika sudah mabuk ia lupa semua peringatan itu.
Ella bangkit, duduk di tepi tempat tidur sejenak. Merenung semua hal yang terjadi semalam. Ia mabuk parah, pasti racauan tidak jelas Ella tumpahkan semuanya. Perlahan lehernya digerakkan, melangkah ke kamar mandi sekedar mencuci wajah.
Lalu ia teringat siapa yang mengantarkannya pulang. Kemudian ia memeriksa ponsel di meja nakas. Membuka pesan dan membaca grup kantor. Siapa tahu ada info siapa yang mengantarnya pulang.
Sampai ia menemukan buble chat teman-temannya penuh di grup.
Aku sudah tiba di rumah, thank you buat malam ini kawan-kawan.
Sama-sama. Yang lain gimana? Udah pada sampai rumah juga kan? Aman kan?
Aku udah pulang.
Aku juga.
Iya, aku juga.
Wina, udah pulang ya? Jalanan macet nggak? Udah enakan belum? Tadi kau kan bilang badanmu lagi nggak enak sebelum pulang.
Iya, udah enakan kok. Tadi langsung beli pereda mabuk. Untung tadi minum nggak terlalu banyak juga.
Berarti dirimu aman lah ya anterin Mba Ella pulang..
Eh, aku nggak jadi anter Mba Ella.
Lho! Terus yang anter Mba Ella siapa dong?
Iya, siapa? Mbak Ella mabuk berat semalam. Nggak mungkin dia nyetir sendirian.
Iya. Bukannya kau yang bopong Mba Ella tadi?
Iya, tadi aku yang bopong. Tapi aku nggak jadi anter Mba Ella pulang.
Terus siapa yang anter? Nggak mungkin Mba Ella melayang sendirian kan?
Tadi.. itu.. ada pria tampan yang nawarin hehehehehe
Hah?!
Kok bisa?
Lah gimana ceritanya?
Mba Ella, kasih kabar dong udah di rumah belum?
Waduh jangan-jangan Mba Ella di wleowleo..
SSSttttt.. jangan bilang begitu. ini grup kantor.
Waduh, ini para wanita ada apa toh?
Eh, nggak Pak...
Ella tak melanjutkan membaca pesan itu lagi, kepalanya sekarang pusing karena tahu bukan teman-temannya yang mengantar ke rumah.
Sampai suara bebenturan di dapur terdengar nyaring. Ella otomatis beringsut takut.
Di rumah ini hanya ada Ella seorang. Tidak ada ART karena Ella tidak memilikinya.
Itu... siapa?
Dengan segenap keberanian yang Ella miliki, dengan langkah sedikit limbung Ella mendekati pintu. memaksa tangannya untuk menekan tuas sepelan mungkin hingga celah terbuka. Ella mengintip dan bersembunyi di sana.
Setengah mati Ella terkejut menangkap seseorang tengah sibuk di dapur. Ia memunggungi Ella, sibuk memasak. Pria itu bersenandung bersama suara kompor dan percikan di area dapur.
Tadi Wina bilang kalau Ella diantar pria tampan bukan?
Kalau Gilang—itu tidak mungkin dia. Wina kenal Gilang, pasti Wina akan sebut namanya. Bukan pria tampan. Dan melihat postur punggung yang tinggi, tegap dan lebar itu Ella yakin itu bukan Gilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Taste Reliever
RomanceImpian pernikahan yang Ella idamkan di umur 35 tahun ini harus kandas karena sang kekasih berselingkuh. Setelah putus, Ella bingung sampai frustasi bagaimana ia harus menceritakan akhir kisah cintanya kepada sang Ibu--yang selalu menuntut Ella untuk...
