32

150 11 1
                                        

Ella tak menyangka orang yang membelinya bernama Rinjanu Santoso adalah anak buah Ken yang bernama Janu.

Pada saat Ella dipaksa turun dari panggung, bersama panitia acara mereka menuju sebuah ruangan khusus. Lalu Ella dipertemukan dengan operator lain yang Ella duga sebagai pengurusan transaksi lelangan.

Dengan kedua tangan yang diikat kuat oleh panitia tadi Ella diminta menunggu lalu Janu muncul di hadapannya. Janu langsung membawa Ella keluar dan memintanya masuk ke dalam sebuah mobil.

Ella pikir di dalam mobil sudah ada Ken yang menunggunya. Nyatanya Ella hanya bersama Janu dan sang sopir.

"Mbak Ella akan diantar pulang." Begitu kata Janu pada saat itu pada saat Ella mencerca pertanyaan. Khususnya menanyakan dimana Ken berada.

"Mbak akan aku antarkan sampai rumah. Tuan Ken nyuruh Mbak pulang. Sekarang Mbak Ella sudah aman. Tidak akan ada yang ganggu Mbak lagi."

Harusnya Ella merasa lega karena Janu benar mengantarkannya sampai rumah. Harusnya Ella merasa lega setelah Ella sudah berdiri di rumahnya sendiri. Rumah yang sudah lama tak ia tempati karena dirinya selalu bersama Ken.

Namun Ella menatap rumahnya tersebut seperti rumah asing. Ella merasa baru disana. Banyak debu dan menguarkan aroma dingin karena sudah tidak ditempati cukup lama.

Ella berbalik dan menanyakan dimana Ken. Ia kembali mencercanya dan reaksi Janu seolah menghindar dan itu membuat Ella semakin gelisah.

Ella tahu sepatutnya ia tidak mempertanyakan keberadaan pria itu. Ken berani membunuh Sarah tanpa sepengetahuannya. Ken bahkan tega membiarkannya terjebak dalam perselisihan kelompoknya dengan kelompok Jirish hingga Ken tega membiarkan Jirish menjualnya pada malam itu.

Semua fakta yang dikatakan Jirish berhasil menghancurkan dunia Ella seketika.

Pria itu seharusnya tidak dicari. Sepatutnya Ken terkurung di dalam jeruji besi. Ken musti dipenjara. Tidak ada kata ampun untuk sosok tinggi yang menjulang yang kini berhadapan dengan Ella sekarang.

Ruang kecil yang menjadi tempat Ella menyendiri dan menunggu seseorang itu menjadi bias. Ella tak tahu harus bersikap apa ketika pintu ruangannya terbuka dan sosok itu muncul dengan pakaian serba hitamnya.

Ella mendapati satu tangan Ken terbalut perban. Ada bercak darah yang berusaha keluar dari sana. Digulung rapih membuat jemari Ken memisah. Tapi tangan diperban itu tidak menunjukkan kesakitan sedikitpun. Justru dengan tangan tersebut Ken membawanya ke pipi Ella. Bekerja untuk mengusap lembut pipi yang basah oleh air mata. Berusaha keras untuk mengusapnya dengan lembut lalu hinggap ke sudut mata Ella yang tak berhenti mengalir.

Ella tidak pernah semerana ini. Seingatnya ketika hubungannya berakhir dengan Gilang, Ella masih bisa mengontrol kesedihannya. Namun dengan pria ini—sosok yang ia cari dan ia tunggu selama seminggu setelah Janu mengantarkannya tanpa adanya informasi sedikitpun tentangnya, yang seharus membusuk dipenjara—nyatanya muncul dan membuat Ella justru terdiam, wajahnya memberengut lalu menangis sejadi-jadinya.

Ruangan dengan sebuah jendela dimana Ken dan Ella saling memeluk satu sama lain itu menjadi saksi bagaimana dalam seminggu Ella menjadi kosong. Dari Ella terbangun hingga Ella terlelap, ruangan tersebut menjadi wadah dalam menggambarkan emosi diantara keduanya.

Ken tak ragu memeluk Ella karena hal itu yang ia inginkan. Menjadi sebuah tujuan utama selama di dalam perjalanan menuju rumah Ella. Ken bahkan siap dengan hal yang tak terduga jika Ella menolak kehadirannya dengan keras.

Namun Ken terkesiap ketika ia berani datang Ella menghambur padanya sambil menangis.

Ken bahkan tidak perlu berbasa-basi menyapanya hangat. Sambil memeluk Ella, Ken tersenyum. Ia juga tidak peduli dengan satu tangannya yang kembali menyeri. Ia peluk seerat mungkin. Mengikis rindu yang terus saja menyerang jiwanya.

Taste RelieverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang