Angger dan Ken saling menatap satu sama lain. Mereka terdiam di sebuah ruangan yang hanya ada mereka di sana. Menunggu seseorang yang mereka tunggu sejak pagi tadi.
Mereka akan melakukan pertemuan di sebuah kafe elit di pinggiran kota. Tidak jauh dari markas Tombak Api. Memesan ruangan berkelas dan di sanalah Angger dan Ken duduk termenung dengan segala pemikiran mereka yang berkecamuk.
Tak lama kemudian pintu besar beraksen kayu kokoh terbuka lebar. Menampilkan seorang pria bertato dan tindikan di alis dan hidung. Derap langkah sepatu pantopel mengisi kekosongan Angger dan Ken hingga Angger sendiri menoleh sekilas.
"Tuan," Pria itu membungkuk hormat, namun bukan menghormat ke arah Angger.
Melainkan Ken.
"Duduk." Titah Ken dan pria itu langsung duduk di sofa kosong menghadap Ken.
Angger masih diam memerhatikan situasi sekitarnya. Dingin. Tak ada kehangatan selain dua cangkir kopi yang diletakkan diatas meja.
"Kau mau kopi, Gema?"
Pria bernama Gema itu berdeham, "nggak usah. Gue lagi nggak minum kopi."
"Mau langsung dibicarakan saja?"
Gema hanya mengangguk. Lalu ia menunggun Tuannya meminum kopinya sejenak. Menikmati sisa kehangatan kopi yang menjalar di tenggorokannya.
"Angger sudah beri pelajaran ke anggotanya," Ken melirik Angger hingga Angger menghela napas sebelum berujar.
"Sorry soal anggota gue."
"Gue ngerti kenapa anggota lo mencak-mencak. Mereka merasa nggak adil aja sama pembagian wilayah lo. Apalagi lo kayak kasih gue hampir sebagian wilayah lo yang dimana mereka berkuasa di sana."
"Itu sudah menjadi kesepakatan diawal antara kita, udah saling setuju soal wilayah itu. Mereka yang harusnya paham soal itu. Sekali lagi sorry, anak buah gue tamakan." Angger menambahkan.
"Ya, namanya juga anak buah lo. Gue paham kok." Ledek Gema membuat Angger berdecih.
"Kalau lo mau bilang gue tamak, gue merasa begitu. Gue cuma ambil hak kelompok gue aja. Bang Indra dulu emang nggak becus soal pembagian itu. Jadi gue rombak."
"Setelah lo naik, lo makin besar kepala. Bahkan lo ngatain mantan bos lo kayak gitu." Gema kini berdecih. Lebih ke kesal dan mrmancing supaya Angger ikut kesal. Tapi Angger tidak termakan itu.
"Gue nggak besar kepala. Gue tau apa aja hak-hak kelompok gue dan gue nggak mau ambil beberapa hal yang bukan menjadi hak kami."
"Lo mau gue bilang lo dermawan gitu?" Entah kenapa situasi mulai memanas.
"Nyatanya gue emang begitu tanpa butuh validasi dari lo."
Gema sontak berdiri. Ia makin kesal dengan wajah songong Angger di hadapannya. Angger hendak berdiri juga tapi ia menahan diri sebisa mungkin. Tidak mungkin ia baku hankam di tempat ini.
Apalagi ada Ken diantara mereka.
"Sudah selesai adu mulutnya?" Ken menyeruput kopinya santai. Adu mulut yang mereka lakukan sudah sering terjadi. Ken sering menyaksikannya. Tapi kondisi saat ini masih aman selagi mereka tidak mengeluarkan selaras panjang satu sama lain.
"Maaf, gue kelepasan." Gema kembali duduk dan Angger membenarkan posisi duduknya, juga emosinya.
"Aku paham dengan masalah ego kalian. Tapi sayangnya masalah kalian mulai menyenggol sesuatu."
Topik utama mulai dibicarakan. Baik Gema dan Angger terdiam, menyimak apa yang akan Ken sampaikan.
Angger mencurigai sesuatu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Taste Reliever
RomansaImpian pernikahan yang Ella idamkan di umur 35 tahun ini harus kandas karena sang kekasih berselingkuh. Setelah putus, Ella bingung sampai frustasi bagaimana ia harus menceritakan akhir kisah cintanya kepada sang Ibu--yang selalu menuntut Ella untuk...
