Warning tags : violence (kekerasan), toxic parents. Be wise!!
.
.
.
Akhirnya Ella pulang dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Meski sebelumnya ia ribut lagi dengan Ken karena Ken menawarkan diri untuk mengantar pulang, tapi Ella bersikeras tidak mau.
"Kan udah dibeliin mobil baru, kenapa harus diantar pulang lagi? Aku mau pakai mobil baruku." ketus Ella saat itu.
"Pelit!" ejek Ken sambil menjulurkan lidah.
"Kenapa pelit?! Aku cuma mau pulang sendirian bawa mobil baruku! Kenapa kau bilang aku pelit?!"
"Iya iya.. bawel! Udah sana pergi!"
Kepala Ella pusing mengingat percakapan mereka saat itu.
Tidak ada kata-kata sambutan atau perpisahan terakhir disaat Ella melenggang dari markas Tombak Api. Hanya ada Ajik dan rekan-rekan Tombak Api mengantarkan kepergian Ella dengan melambaikan melambaikan tangan dramatis. Beberapa dari mereka turut sedih karena markas akan sepi. Meski sebentar, para anggota cukup terhibur dengan adanya Ella di sekitar mereka.
Setelah ini mereka tak dapat lagi melihat paras Ella sebagai penyemangat mereka di markas, atau mendengar keributan dengan suara lengkingan Ella namun dianggap menyenangkan oleh para preman di sana.
Sekarang Ella dapat melanjutkan hidupnya sebagaimana mestinya. Ia mulai bekerja seperti biasa. Selama mangkir, tumpukan pekerjaan diatas meja kerja. Ella mengerjakannya dengan penuh semangat. Menargetkan diri bahwa dalam dua hari ia harus menyusutkan tumpukan tersebut.
Keadaan ini jauh lebih baik daripada ia menekam di markas Tombak Api.
"Mbak Ella ke mana aja kemarin? Kata HRD, Mbak mendadak pulang kampung."
Ella mengerjap pelan disaat Wina menghampiri mejanya dan mendengar alasan kepergiannya kemarin dengan raut bingung. Menduga-duga siapa yang menghubungi HRDnya dan mengatakan alasan bahwa ia pulang kampung?
Ella rasa tidak mungkin Ibunya membuang waktu menjelaskan kehilangannya dengan bualan. Ibunya saja kelimpungan mencarinya dan menuntut penjelasan.
Lalu rekan lainnya ikut menimbrung pembicaraan, "kirain kita, Mbak jadi korban begal lho! Soalnya anak divisi humas ada yang jadi korban. Kita pikir Mbak juga jadi korban."
Ella buru-buru menyanggah, "eh, nggak kok. Aku nggak dibegal."
Hampir dibunuh aja sih..
"Syukurlah," rekan lainnya mengelus dada. "Soalnya pas kita coba telpon Mbak susah dihubungi. Jadi kita khawatir."
Ella terenyuh mendengar kekhawatiran rekan kerjanya. "Aku baik-baik aja kok. Maaf ya bikin khawatir."
Sebagai bentuk rasa syukurnya mendapat rekan kerja yang memberinya banyak perhatian, Ella mampir ke kedai donat di sebrang gedung kantor. Mencuri waktu dikala ia baru kelar pertemuannya bersama klien.
Ella memesan dua lusin donat ke pramusaji. Tak lupa membeli beberapa gelas kopi. Hari ini Ella merasa senang karena penuh perhatian rekan kerjanya, ditambah proyek untuk bulan depan disetujui oleh klien barusan.
"Karena Mbak beli dua lusin donat dapat promo ya Mbak, dapat dua donat bebas varian gratis ya. Dua donatnya mbak mau varian apa?" Ujar pramusaji dan Ella berbinar mendengar keuntungan tersebut.
"Kalau gitu--"
"Rasa almond aja Mbak."
Ella menoleh dan terperangah melihat kedatangan Ken yang begitu tiba-tiba di belakangnya dan tiba-tiba meminta varian almond untuk dua donat gratisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Taste Reliever
RomanceImpian pernikahan yang Ella idamkan di umur 35 tahun ini harus kandas karena sang kekasih berselingkuh. Setelah putus, Ella bingung sampai frustasi bagaimana ia harus menceritakan akhir kisah cintanya kepada sang Ibu--yang selalu menuntut Ella untuk...
