2. sebuah fakta

11.7K 1K 198
                                        

Bagi seorang Kim Junkyu untuk menundukkan pandangannya pada manusia rendahan adalah sebuah kemustahilan, tangannya tak pernah puas jika hanya menyiksa mangsanya satu kali, ia tak akan pernah melepaskan mangsanya hingga mereka mati dalam keadaan mengenaskan dan itu yang akan Junkyu lakukan pada Jihoon.

Cukup lama ia menunggu Jihoon untuk sadarkan diri, setelah menunggu hampir dua jam pemuda manis itu membuka matanya, kaki jenjang milik si Kim melangkah pada satu ruangan dimana Jihoon dikurung, wajahnya tampak sangat bengis sehingga para maid dan bodyguard tak pernah berani untuk menatap wajah penuh keangkuhan itu.

Saat pintu di buka Junkyu melihat bagaimana Jihoon yang sedang menutupi tubuhnya sendiri dengan selimut sebab memang Junkyu ingin melihat bagaimana tubuh ringkih itu tak berdaya memohon ampun dengan segala jeritan ketakutan.

Itu menyenangkan untuknya, sebagai salam pertemuan.

Satu kursi khusus disediakan untuknya tak jauh di mana ia bisa melihat Jihoon yang sedang memeluk erat dirinya sendiri, tangan Junkyu mengambil satu gelas kaca dan satu pemuda disampingnya menuangkan wine pada gelas yang kosong.

"Bunuh gue!" Sentak Jihoon tak takut sama sekali, wajah pemuda manis memerah menahan tangis namun Jihoon sepertinya masih keras kepala untuk tak menunjukkan sisi kelemahannya.

"Buka pakaian kalian"

Nada bicara Junkyu terdengar begitu tenang, di dua sisi ranjang yang menjadi tempat tidur Jihoon ada empat pria lain yang tengah membuka kemeja mereka masing-masing.

"Yoon Jaehyuk kau yang memberikan pemanasan"

Sret!

Jaehyuk menarik selimut Jihoon kasar membuangnya asal, pemuda itu lantas merangkak memegang kedua kaki si Park yang memberontak.

"JANGAN SENTUH TUBUH GUE BAJINGAN!"

Isak tangis tak bisa lagi Jihoon sembunyikan, pemuda itu menangis, meraung keras berusaha untuk menendang tubuh Jaehyuk yang kini mulai menyentuh area selangkangannya.

"PERGI! PERGI! GUE MOHON JANGAN! AMPUN!"

Junkyu semakin menyeringai melihatnya.

"Bang Yedam, sentuh wajahnya"

Perintah Junkyu sekali lagi, diteguknya wine hingga tandas tak tersisa.

"Ampun...gue mohon jangan.."

Pandangan Jihoon tampak berkabur, mulutnya terus meracau dengan segala permohonan ampun namun tampaknya mereka sama sekali tak memiliki hati. Tangan Yedam menyentuh bibir Jihoon yang berdarah akibat digigit secara kasar oleh si pemilik tubuh.

"Tolong, gue mohon jangan.."

Sentuhan pada wajahnya terhenti, Yedam terdiam bak patuh ketika melihat keputusasaan didalam netra yang kini bergerak gelisah, begitu berharap seolah Yedam akan membantunya.

"Pegang tangan dan kakinya, aku ingin memberikan hadiah!"

Junkyu menggeram rendah ketika Yedam yang tiba-tiba saja terdiam, pemuda itu menatap tajam pada pemuda Bang yang kini meneguk ludah susah payah.

Keempatnya memegang kaki dan tangan Jihoon dengan kuat, melihat Junkyu yang berjalan kearahnya dengan satu botol minuman beralkohol membuat Jihoon semakin ketakutan.

"PERGI LO IBLIS!"

"Iblis, hm?"

Junkyu kini duduk diantara paha Jihoon yang masih tak juga diam, pemuda itu mencengkram rahang si manis berusaha membuka mulut Jihoon secara paksa.

"Baiklah, aku akan benar-benar bertindak seperti iblis!"

Tangan satunya lagi yang memegang botol minuman beralkohol mengarah pada mulut Jihoon yang terbuka, Junkyu menekan ujung botol itu hingga setiap tetes air yang ada didalam botol wine masuk sepenuhnya kedalam tenggorokan si manis yang dipaksa menelan semua minuman beralkohol itu.

Only Mine [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang