36. Bunda

6.3K 737 127
                                        

Rose sudah pulang dan Junkyu memperhatikan bagaimana wajah Jihoon yang berseri, tampak begitu bahagia.

"Sedang apa?"

"Anjing!"

"Mulutmu!"

Jihoon mendelik tajam pada si pemilik suara, padahal wajahnya tadi terlihat sangat bahagia tapi setelah kehadiran Junkyu wajah si Park tertekuk, terlihat menjadi kesal.

"Kau membicarakan apa dengan bibi Rose?"

"Kepo aja atau kepo banget?" Tanya Jihoon terdengar menyebalkan ditelinga Junkyu, pemuda itu melengos pergi meninggalkan si Kim yang duduk sendirian ditepi kolam renang.

"Aku bertanya serius padamu!" Sentak Junkyu mengejar Jihoon yang masuk kedalam rumah, tangan Junkyu mencengkram erat pergelangan tangan si manis.

"Bukan urusan lo juga!" Bentak Jihoon tak kalah sinis, pemuda itu menyentak tangan Junkyu dan kembali berjalan menuju kamarnya.

"Dasar bocah, tidak punya sopan santun!" Bentak Junkyu membuat langkah Jihoon terdiam

"Iya maaf orangtua" cibir Jihoon tak kalah pedas.

Sebelum Jihoon menutup pintunya, tangan Junkyu telah lebih dulu menarik pintu itu agar terbuka, si Kim masuk kedalam kamar kemudian mengunci pintu dari dalam.

"Lo gabut banget sih om, biasanya juga jam segini kerja!"

Jihoon aneh dengan sikap Junkyu akhir-akhir ini, pemuda Kim itu memang menyebalkan namun akhir-akhir ini tingkah Junkyu jauh lebih menyebalkan dari sebelumnya, tensi darah Jihoon pasti naik.

Junkyu memang tak berlaku kasar, namun tingkahnya membuat Jihoon emosi jiwa.

"Aku sedang tidak ada kerjaan, bukankah bagus jika aku berleha-leha didalam rumah?"

Tanpa permisi sama sekali Junkyu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur Jihoon.

"LO BELUM CUCI KAKI OM!"

Suara Jihoon terdengar melengking, pemuda itu menarik kedua kaki Junkyu dari atas tempat tidur, namun sama sekali tak membuat si Kim bergerak bahkan kini pada pemuda Kim itu sudah terpejam.

Jihoon geram, si Park naik keatas tempat tidur menarik kedua tangan Junkyu, sungguh sepertinya Junkyu keberatan dosa karena tubuhnya bahkan tak bisa Jihoon geser walau hanya satu jengkal.

"OM BANGUN!"

"TEMPAT TIDUR GUE KOTOR! OM BANGUN IH!"

Sret!

Mata si Park mengerjap pelan, waktu seakan terhenti, pemuda itu memejamkan mata ketika merasakan hembusan nafas si Kim yang menyapu wajahnya, dalam satu tarikan Junkyu berhasil menarik tubuhnya membuat tubuhnya kini menindih tubuh yang lebih tua.

Mata Junkyu terbuka, memperhatikan bagaimana wajah Jihoon yang kini terpejam, pemuda Kim itu terkekeh kecil.

"Apa kau mempunyai alergi?" Tanya Junkyu menyentuh pipi Jihoon yang memerah.

Jihoon menggeleng samar sebagai jawaban.

"Buktinya pipi mu memerah, pasti kau punya alergi melihat pria tampan"

"IH NAJIS!" Jihoon mejerit, pemuda itu menarik tubuhnya dari atas tubuh Junkyu, Jihoon beringsut menjauh ia memandang Junkyu seolah pemuda itu adalah kuman.

"Lo kemasukan apa sih anjir?!"

Jihoon bertanya sewot, ia tak suka melihat Junkyu yang selalu bertingkah konyol, lebih baik Junkyu yang dulu yang selalu menatapnya penuh kebencian.

Only Mine [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang