"Jadi, ini benar-benar Putri Dyah Pitaloka?"
Nirmala gila, ia tahu itu. Namun Gajah Mada lebih gila lagi. Pria itu menyetujui ajakannya dan bahkan tak langsung membunuhnya. Gajah Mada mungkin juga bingung, atau lebih tepatnya pria itu tengah mempertanyaan integritasnya sendiri. Di depan putri musuh besarnya, mengapa hal pertama yang ia lakukan bukan membunuhnya dan malah melontarkan pertanyaan dengan santai seolah telah mengantisipasinya?
Nirmala bergerak dengan gelisah dikursi yang dikursinya. Suasana di rumah yang biasanya tenang dan sejuk, kali ini terasa terlalu mencengkam. Gajah Mada masih mengawasinya dengan tajam dan seperti tak memiliki niat untuk bersuara. Nirmala pun sama. Dia tak bisa jika harus tiba-tiba mengakui dosanya. Ia ingin ditanya, ingin pengertian dan perhatian Gajah Mada.
Untuk beberapa saat keduanya saling berpandangan tanpa niat untuk membuka pembicaranya seolah tengah berlomba saling menatap di tengah kebisuan yang menyesakan. "Tidak Nirmala, kamu gak boleh kalah. Jangan takut, kamu bisa melihat matanya lebih lama dan lebih garang dari Gajah Mada." Nirmala menyemangati dirinya sendiri untuk memenangan perlombaan yang tiba-tiba ini.
Gajah Mada akhirnya mengalah. Mendengus dan berdecak dengan kesal. Sedikit mengeluarkan umpatan yang tak dapat Nirmala dengar. "Jadi?" Hanya satu kata yang pria itu katakana membuat Nirmala mengerjapkan matanya dengan mata bodoh. Dari sekian banyak kemungkinan yang dia bayangkan, pria itu hanya mengeluarkan satu kata. Betapa berharganya kata-kata seorang Mahapatih.
Nirmala segera menyadarkan dirinya saat merasa aura gelap mulai menguar dari sumber yang sangat ia kenali. Gadis itu menghela napas dalam sebelum menghenbuskannya. Menutup matanya sejenak untuk menghipnotis dirinya. "Anggap aja diskusi sama dosen killer. Kamu pasti bisa Nirmala."
Nirmala siap untuk melakukan presentasi tentang apa yang diketahuinya sejak awal, namun sistem yang berdiam diri sejak tadi akhirnya mengeluarkan suara.
[Bodoh]
Tanda tanya muncul memenuhi kepala Nirmala. Tak apa jika kamu diam karena tidak bisa membantu, namun bukankah terlalu sombong jika mengatainya seperti itu?
[Lakukan misimu, buat Gajah Mada jatuh cinta.]
Nirmala ingin menangis sembari berguling di lantai sekarang juga. Bagaimana sistem ini bergitu kejam disaat seperti ini?
Nirmala mengeluarkan sapu tangan yang dia simpan di dalam kain dipinggangnya. Menatap sapu tangan itu dengan sedikit tersipu, membuat Gajah Mada yang sedari awal memperhatikannya merasa sedikit menggigil. Apa yang tengah dibayangkan gadis itu?
Nirmala melangkah mendekari Gajah Mada. Menaruh sapu tangan itu dengan paksa di tangan pria itu. "Jangan dibuang. Itu adalah hatiku," ujarnya dengan suara pelan sebelum akhirnya wajah, telinga, dan lehernya berubah menjadi berwarna merah. Benar-benar merasa malu, namun dia harus memberikannya. "Aku membuatnya sendiri, tolong simpan." Lanjutnya sebelum kembali duduk ditempatnya semula.
"Beri aku sedikit waktu. Aku perlu menenangkan diri sebentar." Gajah Mada melirik gadis itu sebentar dan membiarkan sebelum melihat dengan cermat sapu tangan yang ada ditangannya. Gambar yang ada di sapu tangan ini memang tak indah tapi melihat bagaimana Nirmala merawat dan memberikannya dengan malu membuat Gajah Mada sedikit menghargainya.
***
[22 September 2023]
Gak aku edit hehehe...
Biru
KAMU SEDANG MEMBACA
Nirmala: Fall In Love System
RomancePPKM darurat yang diberlakukan dan pandemi yang tak surut ditambah tugas kampus yang menggunung membuat Nirmala ingin lari dan menciptakan dunia sendiri. Di tengah-tengah kewarasannya yang menurut Nirmala tak dapat lagi dipertahankan karena ia meras...
