Nala meraih tangan Gajah Mada, mengecek denyut nadinya sebentar untuk memastikan bahwa pria itu memang baik-baik saja. Gajah Mada menatap wajah gadis itu dengan senyum tertahan. Wajah cantik dan seriusnya dapat membuat siapapun jatuh hati dengan mudah. "Bagaimana?"
[Malam ini harus dilakukan detoksifikasi. Jika tidak, meski dapat disembuhkan akan meninggalkan efek negatif yang tidak diinginkan.]
Nirmala sedikit menyeringai. "Tak masalah. Bukankah ini hanya permainan? Apa yang bisa terjadi dengannya?"
Tangan yang akan mengetik balasan berhenti untuk sejenak. Merasa hawa dingin bertiup dari belakangnya. Benar saja, gadis ini begitu kejam.
[Lakukan sesukamu, tapi itu berpengaruh terhadap poin kesukaan. Poin kesukaannya padamu saat ini sudah mencapai 60%].
Nirmala menahan keinginan untuk bersiul layaknya bajingan. Tangannya segera beralih menggengam jari-jari Gajah Mada. "Tidak terlalu bagus. Kamu sebaiknya kembali dan beristirahat, nanti malam aku akan melakukan detoksifikasi." Nirmala melepaskan tangan pria itu dengan enggan, namun tak bisa menunda lebih lama lagi. "Ada hal yang harus aku lakukan dulu," ujarnya sembari melambaikan tangan dengan senyum cerah, namun berhenti setelah beberapa langkah.
Nirmala berjalan kembali ke arah Gajah Mada yang masih berdiri di samping kudanya. "Aku akan masuk ke dalam kedai teh. Jangan khawatir." Melihat mata genit gadis itu, Gajah Mada segera melupakan ke khawatirannya. "Terserah. Lakukan sesukamu. Aku pergi." Setelahnya Gajah Mada benar-benar pergi meninggalkan gadis itu yang masih memasang senyum manis.
Nirmala menurunkan tanggannya. Menarik rambutnya ke belakang telinga. "Ayo kita terbar pesona."
[]
Nirmala duduk di meja yang tidak mencolok namun juga tidak terpencil. Didepannya terdapat teh yang masih mengepul. "Pose seperti apa yang akan membuatku lebih menarik?" Tanyanya dengan lembut sembari meletakan dagunya di atas tangan. "Apakah seperti ini terlihat bagus?"
Nirmala kembali meluruskan punggungnya. Kembali mengubah posenya. "Mungkin melihat ke luar jendela dapat membuat wajahku yang terkena Cahaya menjadi lebih bersinar."
Nirmala tak peduli meskipun dia hanya berbicara sendiri. Toh dia sangat antusias sekarang. "Kapan pelukis itu akan datang?"
[Sebentar lagi]
Benar saja, Nirmala mendengar bunyi bel yang menandakan jika ada orang yang memasuki kedai. Lama Nirmala menunggu sampai suara ketukan di meja membuatnya menoleh dengan angun dan pelan. Sangat dramatis ditambah dengan Mentari yang membuatnya terlihat lebih bersinar.
Pria yang sudah berumur paruh baya itu memberi hormat. "Tuan Putri, hamba telah mendengar banyak puji-pujian rakyat jelata dan bangsawan tentang kemurahan hati Tuan Putri serta kecantikan parasnya. Dan hari ini hamba bertemu dengan Tuan Putri secara langsung. Hamba benar-benar merasa terhormat."
Nirmala hanya tersenyum simpul tapi di dalam hati membenarkan apa yang pria itu katakan. "Tuan Putri, hamba seorang pengelana, pelukis yang cukup cakap." Senyum Nirmala semakin mekar. "Bagus. Sudah lama aku mencari orang yang dapat melukisku dengan baik. Aku akan memberikan kehormatan itu padamu."
***
[04 Mei 2024]
Mau promosi cerita "Nala dan Kisahnya"
Nala dan Kisahnya bercerita tentang Nala yang datang ke masa lalu dan berusaha untuk mendapatkan Bendara Raden Mas Sanskara di tengah pergolakan politik antara kubu Maharaja dan Yuwaraja (putra mahkota) dengan kubu Bendara Raden Mas Sanskara (putra raja dari selir).
Kalau berkenan boleh mampir memberikan dukungan.
Sampai jumpa besok
Biru
KAMU SEDANG MEMBACA
Nirmala: Fall In Love System
RomancePPKM darurat yang diberlakukan dan pandemi yang tak surut ditambah tugas kampus yang menggunung membuat Nirmala ingin lari dan menciptakan dunia sendiri. Di tengah-tengah kewarasannya yang menurut Nirmala tak dapat lagi dipertahankan karena ia meras...
