44| Anomali

182 26 1
                                        

"Hei, bukankah harusnya Dyah Pitaloka dilukis diam-diam? Mengapa dia menghampiriku dengan wajah bangga seperti itu?" Nirmala bertanya dengan nada kesal. Kepalanya bersandar pada dinding kereta kuda dengan tenang. "Bukankah permainan ini harus lebih realistis dan dramatis lagi? Akan lebih baik jika aku di lukis saat tengah menatap senja dengan secangkir teh yang tengah ngepul dan satu kupu-kupu yang hinggap di jari tangan. Aku yakin kecantikanku akan semakin terpancar dan menambah dramatis."

[Terjadi kesalahan sistem saat uji coba jadi semuanya berjalan dengan tergesa. Mungkin setelah inipun akan terjadi anomali.]

"Ya, memang apa yang bisa diharapkan dari orang yang hidup di negara yang selalu melakukan kesalahan dan membiarkan data penduduknya bocor dan dijual bebas di dark web? Tidak ada. Aku hanya terlalu banyak berpikir."

[...]

Nirmala menyibak kain yang menutupi bagian samping kereta kuda, mengintip keluar saat kereta berhenti berjalan. "Belum sampai. Mengapa berhenti?" Namun meski suaranya nyaring tak ada yang menjawab pertanyaannya. Nirmala segera siaga. "Apa ini serangan pada putri Kerajaan?" tanyanya dengan bodoh namun menyimpan antusiasme gila.

[Bodoh.]

[Data sedang dimuat.]

[Rasa suka Gajah Mada terhadap Dyah Pitaloka 60%, 50%, 40%@#]

Nirmala memutar matanya dengan kesal. Kesalahan sistem lagi. Nirmala segera mengambil bouqet bunga dan keluar dari kereta kuda, berjalan menuju kusir dengan sedikit kesal karena diabaikan. Dia dapat melihat kusir dan dayangnya diam tak bergerak. "Sial, apa yang terjadi?"

[Peta menuju posisi target tengah dimuat]

[Peta telah berhasil dimuat. Mohon segera menemui target dan menyelesaikan misi.]

Nirmala menatap titik biru yang berkedip-kedip di peta dan mengikuti petunjuk. Berjalan lurus dengan tenang. Nirmala mengusap kedua lengannya yang terasa sedikit dingin. daun-daun tumbuhan yang biasanya bergoyak tertiup angin sekarang terdiam. Orang-orang yang ia temui di di jalan juga berhenti bergerak. Waktu seolah telah berhenti dengan paksa. "Apa yang terjadi?"

[Bagian peta yang jauh dari target mulai memuat ulang.]

"Apa maksud dari dimuat ulang?"

[Semuanya akan berhenti bergerak sebelum dihancurkan dan dimulai kembali.]

[15 menit sebelum dimuat ulang]

Nirmala tak lagi ingin tahu apa yang akan terjadi yang ia lakukan sekarang hanya berlari sekuat tenaga menuju posisi Gajah Mada. Semakin jauh ia berlari dan semakin dekat posisinya dengan Gajah Mada, keadaaan sekitar tampak normal. Seolah tak pernah ada adegan membeku sebelumnya.

Nirmala mengambil obat yang telah sistem siapkan sebelumnya. Membuka pintu rumah dengan tergesa dan segera melihat Gajah Mada yang tengah bermeditasi di ruang tamu, membuka mata saat mendengar pintu dibuka dengan panik. "Ada apa?"

Nirmala segera mengambil segelas air dan memberikannya pada Gajah Mada bersama dengan obat Penawar racun dewi bulan. "Tidak ada waktu. Minum obat penawarnya." Meskipun bingung, Gajah Mada tetap menurutinya.

Nirmala tak tahu berapa lama setelah itu tapi ia tahu waktu bergerak dengan cepat meninggalkannya sebagai penonton yang melihat setiap perubahan. Semesta seolah tengah menghukumnya. Rumahnya, ruang tamunya semua berubah.

Tak ada lagi rumah dan Gajah Mada yang ada hanya kemah kecil dan lampu minyak tanah yang menerangi ekspresi kusamnya. Tangannya menggenggam erat buket bunga yang Gajah Mada berikan padanya. Entah berapa lama waktu berlalu Nirmala tak tahu dan tak ingin melihat keluar. Yang ia dengar hanya suara dentangan pedang yang saling beradu membuatnya memejamkan mata dengan erat.



***
[05 Mei 2024]

Sampai jumpa di part selanjutnya bye bye .....

Biru

Nirmala: Fall In Love SystemCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang