45| Bela Pati: Misi Gagal

229 36 4
                                        

Suara tendanya yang disingkap dari luar membuat Nirmala semakin mengecilkan tubuh. Langkah kaki yang mendekatinya dengan perlahan memberinya teror dalam diam. "Pitaloka." Suara dalam yang sudah dikenalnya membuatnya segera membuka mata.

Matanya terbelalak saat melihat Gajah Mada menghampirinya dengan pakaian zirah yang ternodai darah. Lidahnya terasa kelu untuk sekadar menyapa. "Pitaloka," Lagi Gajah Mada memanggilnya dengan lembut sembari berjongkok didepannya. Tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Nirmala dengan lembut. "Jangan takut. Semua baik-baik saja."

Pupil mata Nirmala gemetar dan air mata yang telah ditahannya tumpah begitu saja. "Apa yang akan kamu lakukan sekarang Mada? Membunuhku juga?" Tanyanya setelah ketakutan dan tangisnya mereda.

Gajah Mada menggelengkan kepala dengan pelan. "Mengapa aku harus membunuhmu? Aku akan membuatmu menjadi gadis paling bahagia. Menjadi permaisuri Majapahit." Ujarnya dengan senyum simpul. Jarinya masih menggelus pipi Nirmala dengan lembut.

Nirmala mengangkat kedua tangannya untuk menggenggam tangan Gajah Mada yang berada dipipinya. "Tidak, Mada. Setelah membunuh Ayahanda, apakah kamu pikir aku akan rela? Bukankah kamu tahu siapa yang aku inginkan?" Nirmala berusaha mundur dengan getir yang nampak di bola matanya. Berusaha menjauh dari jangkauan pria itu.

Namun, Gajah Mada mendekat. Menarik tangannya. Menggunakan kedua tangannya untuk membawa kepala Nirmala mendekat agar kedua kening mereka menyatu. "Tapi kamu begitu gembira bertemu dengan pelukis itu. Bukankah ini bagus. Aku membantumu untuk menjadi permaisuri jadi ikut aku ke istana sekarang, ya?"

"Pitaloka, aku telah mengatur semuanya selama berbulan-bulan untukmu."

Nirmala berusaha untuk menarik kepalanya tapi tak bisa. "Itu salah paham. Kamu salah paham, Mada. Aku tak menyukai yang mulia. Mada, aku hanya menyukaimu."

"Tak apa, kamu sudah biasa bertindak seperti ini. Berpura-pura menyukaiku untuk menipuku dan membuatku tidak terlalu waspada."

"Persetan. Pria keras kepala ini. sampai kapan ia akan menggunakan kebenaran terbalik ini?"

"Tidak ada yang menipu, Mada. Tidak ada. Aku selalu menyukaimu. Haruskah aku mati untuk membuktikannya?" Tanya Nirmala dengan frustasi membuat Gajah Mada langsung melepaskan tangan yang memegang di kedua sisi kepala Nirmala.

"Tidak perlu." Gajah Mada menggusap wajahnya dengan kasar sebelum mengulurkan tangannya "Ayo kita ke istana Pitaloka."

Nirmala menatap Gajah Mada tepat dimatanya. "Katakan padaku jika kamu tak pernah mencintaiku? Katakan padaku Mada, jika aku tak berarti untukmu." Nirmala mengusap air mata yang mengalir tanpa sengaja di ujung matanya. Sial dia benar-benar terbawa suasana.

"Katakan Mada. Jika kamu mengatakan ya, aku akan pergi." Lanjutnya dengan suara pelan. "Beri aku belati. Dan ingat beri aku lapisan pelindung agar tak merasa sakit saat bela pati."

Nirmala menatap Gajah Mada dengan mata penuh luka saat pria itu benar-benar mengatakannya. "Kamu milik Maharaja, aku tidak berhak menginginimu." Tanpa ragu Nirmala segara menusukan belati ke dalam perutya dengan kejam membuat Gajah Mada panik.

"Aku tak ingin bersama Raja dan ini juga sebagai permintaan maaf untuk kerajaan Sunda karena aku telah mencintai musuh terbesar kerajaan."

Sedikit senyum muncul disudut mulutnya. Lihat mata terluka lelaki itu, dia menyukainya. "Aku tahu, Gajah Mada selalu menyukaiku."

[Misi gagal. Pemain telah mati. Data tengah dimuat.]

[Pemain tengah ditransfer ke ruang bulan]

[Pemain berhasil ditransfer.]




***
[09 Mei 2024]

Sampai jumpa di part selanjutnya ....

Biru

Nirmala: Fall In Love SystemCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang