72. Akhir Bahagia

20 1 0
                                        

Karena terlahir dan berkembang seiring bersamaan dengan tumbuhnya luka.
Saat ada masanya Aku merasa bahagia,
Aku malah takut dengan pemikiran 'luka seperti apa yang menghampiriku setelah ini?'

-Prita Kanahaya

***

Prita menghela nafas melihat orang-orang berlalu lalang membawa tas-tas besar yang berisi perlengkapan kemah ke dalam bawah bagasi bus.

Bahkan ia belum merasakan duduk di depan api unggun bersama-sama, karena seminggu ini ia fokuskan untuk bekerja akhirnya tubuhnya tumbang juga.

Lalu tak lama Leon datang, menyerahkan sebotol air mineral dan satu butir pil obat.

"demam lo udah cukup turun, tapi jaga-jaga biar lo nggak panas tinggi lagi"

Prita menurut, meminumnya dengan tenang.

Leon berjongkok menatap cewek itu yang menatap sedih sambil duduk di depan tenda.

"kenapa?" tanya Leon.

"yon, apa kita camping sehari lagi ya di sini?"

Leon mengacak rambut cewek itu,

"nanti kita ke sini lagi sama yang lain, gue janji"

Prita menghela nafas pelan,

"tas lo udah gue simpen di bagasi"

Prita mengangguk pelan, cewek itu kemudian berdiri. Prita memejamkan matanya saat kepalanya pusing setelah ia berdiri.

"kepala lo masih pusing?"

Prita menggeleng, menandakan ia baik-baik saja.

Mereka berdua berjalan menuju bus, saat Prita masuk refleks ia menutup mulutnya mual. Lagi-lagi pengharum ruangan apel yang dibencinya.

Prita ingin berbalik, namun di belakang ada Leon. Cowok itu melihatnya menahan mual.

"Leon, gue mau muntah"

Leon langsung menarik Prita turun dari bus, membiarkan cewek itu berjongkok setelah menjauh dari bis. Cowok itu kembali menyerahkan air mineral.

"masih mual?"

Prita mengangguk. Sial, ia merutuki dirinya yang begitu lemah, Prita merasa dirinya begitu menyusahkan cowok ini.

"ta, lo mau pindah bis sama gue?"

Prita menggeleng pelan,

"perjalanannya cukup jauh, gue bisa bilang sama guru, kita minta pindah ke bus lain"

Leon pergi meninggalkan Prita, cowok itu berlari ke arah guru-guru yang sedang memastikan murid-muridnya masuk ke dalam bus.

Prita memegangi kepalanya,

"sejak kapan gue jadi jompo banget begini?" gumamnya.

***

Akhirnya mereka bisa pindah bus, namun yang tersisa hanyalah bus yang berisi kelas 12 IPS 3.

Saat mereka berdua masuk, banyak pasang mata yang tertuju pada mereka.

Prita sontak langsung menundukkan kepalanya, berbeda dengan Leon yang santainya berjalan ke belakang. Walaupun, mereka berdua sangat asing dengan anak-anak IPS, dikarenakan jurusan yang berbeda di sekolah, mereka beda gedung dengan anak IPA.

"yon, gue mau duduk di samping jendela"

Leon mengangguk, membiarkan Prita duduk lebih dulu. Suasana di bus IPS begitu ramai, mereka begitu menikmati perjalanan dari mulai bis berjalan meninggalkan tempat kemah.

Aku dan Altair (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang