86. Kebencian

20 1 0
                                        

Maafkan Aku,
Karena rasa sakit yang tidak bisa memilikimu lagi,
Membuat timbul rasa benci.
Sungguh tidak adil,
Aku begitu berharap kita bisa bersama kembali,
Tapi, kenapa hanya Aku yang bermimpi?

-Prita Kanahaya

***

Aldo terkekeh pelan,

"tuh kan gue bilang juga apa, mereka berdua tuh nggak akan bisa bali-"

"hah?!" kaget Aldo dan Azka.

Leon hanya menghela nafas pelan, ia berjalan duluan untuk masuk ke kelas.

Kali ini, waktu di sekolah berjalan begitu cepat. Mungkin karena baru menjalani semester baru, beberapa guru hanya memberikan beberapa materi singkat saja.

"yon, jangan lupa piket" ucap Luna.

Leon hanya mengangguk seadanya ke arah ketua kelas itu.

Cowok itu mengamati temannya yang kebagian piket kelas, masing-masing sedang melakukan tugasnya.

Cowok itu menoleh ke arah Prita yang membawa ember dengan alat pel, padahal cewek itu sudah menyapu setengah bagian kelas tadi.

Leon mendekat ke arah prita,

"ta, biar gue aja" tawar Leon.

Prita hanya diam, menyodorkan alat pel itu yang langsung dipegang oleh Leon. Cowok itu mengernyit aneh saat melihat Prita berjalan tenang dan mengambil tasnya, cewek itu langsung pergi begitu saja.

"Prita kenapa?" gumam di dalam hatinya.

***

Setelah menyelesaikan tugas piketnya, Leon berjalan ke arah parkiran. Cowok itu membuka mobil dan meletakkan tasnya di samping kursi kemudi, dia mengernyitkan dahi saat melihat sebuah ponsel berwarna putih dengan case berwarna kuning muda.

"ini kan HPnya Prita, kenapa dia nggak nyariin?"

Leon memutar pandangannya, merogoh ponselnya di saku celana dan mencoba menelfon seseorang.

"halo yon? Kenapa?" terdengar suara Dion di sebrang.

"lo lihat Prita?"

"Prita? Ah, tadi habis piket, dia diajakin ke kantin sama Aldo dan Azka"

Leon berdecak pelan, dua bocah itu mau berbuat apa?

"kenapa lo cariin Prita, yon?"

"nggak kenapa-napa, thanks infonya"

Leon segera menutup panggilan tersebut. Di sebrang, Dion menatap layar ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana.

Cowok dengan seragam dikeluarkan itu menatap seseorang yang kini berhadapan dengannya.

Dion memasukkan kedua tangannya ke saku celana, ia menatap Rafan yang sedari mengamatinya.

"jadi... Apa yang mau lo cari tau?" tanya Dion.

***

Leon sampai di kantin, suasana yang sudah lumayan sepi karena bel pulang sudah berbunyi 30 menit lalu. Hanya menyisakan beberapa orang,

Matanya terpaku melihat dua orang cewek juga dua orang cowok sedang duduk di Kantin. Namun satu cewek yang terlihat dari tadi terdiam dan memasang wajah lesu.

"bukannya pulang, malah ngerumpi" sindir Leon saat mendekat ke arah meja mereka.

"eh yon! Sini, gibah bareng kita" ajak Aldo.

Aku dan Altair (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang