29. Membeku

59 29 1
                                        

Seperti musim hujan yang
selalu basah
Musim salju yang
kian membeku
Kamu, begitu dingin dengan aku
yang selalu mengharapkanmu.

-Prita Kanahaya-

***

Setelah bertemu dengan mas ari sang pemilik cafe untuk meminta izin selama dua hari karena mengikuti olimpiade.

Prita kira, mas ari akan melarangnya. Tapi malah sebaliknya, pemuda yang  lulus kuliah dua tahun itu malah menyetujui dan mendukung prita.

Prita kini tiba di stasiun Pasar Senen, melihat jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul 08.45 WIB dan tiketnya bergantian.

Berarti, 15 menit lagi kereta akan berangkat. Prita menggigit bibir bawahnya gugup, ia sedikit sulit menemukan arah ataupun tempat.
Ia hanya naik kereta satu tahun sekali, itupun jikalau dirinya pulang ke kampung halaman bibinya di solo.

Ditambah, kondisi stasiun yang sangat ramai membuat prita kian gemetar. Berusaha tenang dengan menghembuskan nafasnya tenang dan melafalkan doa dalam hati agar masalah ini bisa ia atasi.

10 menit berlalu, tapi prita masih bingung ingin menunggu kedatangan kereta dimana dengan padatnya orang yang berlalu lalang.

Ingin bertanya kepada petugas, namun ia tidak menemukannya.

Prita kini memejamkan matanya, dan meremas kedua tangannya.

"lo bodoh apa emang ngga ada otak?"

Prita membuka matanya, menatap kaget leon yang tiba-tiba berada di hadapannya.

"leon..." ucap gadis itu tanpa sadar.

"gue bingung harus kemana leon, gue mau chat lo tapi—"

Leon menatap gadis itu dengan berdecak, dengan cepat cowok itu narik tangan prita dan mengenggamnya.

"jangan lepas tangan gue kalo lo ngga mau hilang"

Ayolah, prita ingin menyelam ke dasar laut sekarang juga.

***

Selama perjalanan, mereka hanya berduduk bersisian tanpa ada yang berbicara.

Prita merasa bosan, matanya juga mulai mengantuk. Aneh, setiap ia menghirup aroma mint dari cowok di sampingnya ini, ia akan merasa mengantuk. Aroma cowok ini seperti ia berasa di hutan yang rimbun dan teduh, begitu menyegarkan.

Matanya berusaha mempertahankan agar ia tetap terjaga dengan melihat orang-orang yang berlalu lalang untuk sekedar masuk dan keluar dari gerbong kereta.

Tapi usahanya sia-sia, kepalanya perlahan menempel ke lengan cowok itu.

Namun dengan cepat, leon mengangkat kepala prita dan menjauhkan dari pundaknya.

Membuat prita kembali tersadar, lalu menatap cowok itu.

"bentar lagi nyampe, jangan tidur"

Prita mengangguk, namun ucapan itu seperti angin lalu bagi prita. Ia kembali menempelkan kepalanya ke lengan leon yang setinggi kepalanya.

Lagi, leon juga melakukan hal yang sama lagi. Menjauhkan kepala prita dari lengannya.

"tidur disini, gue tinggal" ucap cowok itu.

Prita mendengus dan akhirnya menurut.

Tepat pukul 12.20 akhirnya kendaraan dengan ukuran yang panjang itu berhenti di Stasiun Kiaracondong.

Namun, hujan menyambut mereka setelah itu. Leon menghela nafas melihat butiran air jatuh begitu derasnya.

Lain dengan prita yang tersenyum senang dan menadahkan tangannya ke arah air hujan itu. Makin lama, cewek itu semakin maju dan berjalan ke arah luar stasiun yang diguyur hujan.

Aku dan Altair (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang