22. Tangisan Prita

56 31 0
                                        

Menangis dan terluka bukanlah suatu kesalahan maupun kekalahan.
Tapi salah satu pilihan untuk bangkit,
Meski dinilai terlihat lemah.

-Leon Altair-

***

Prita menahan tangan leon saat cowok itu hendak pergi.

"lo mau kemana?"

"kantin" tanpa menunggu respon prita.

Cowok itu langsung pergi meninggalkan gadis berponi yang tengah mendengus kesal.

"mau bicara serius, malah jajan dulu" ucapnya kesal.

Prita menatap bunga mawar di depannya. Kini ia tengah duduk di kursi taman sekolah bagian belakang, karena jika taman bagian depan, pasti banyak murid yang sedang duduk ataupun sambil menunggu jemputan.

Maka dari itu taman yang di tempatinya begitu sepi.

Prita tersenyum kecil melihat kupu-kupu yang beterbangan begitu bebasnya. Ia iri.

Namun dengan cepat dirinya mengerjap kaget saat merasakan dingin di sebelah pipinya. Terlihat sebotol air mineral dingin di pipinya.

Prita mendongak ke arah leon yang kini sudah berdiri di sampingnya.

"cara lo itu udah bagus, tapi kurang hati-hati"

"hah? Maksudnya?" Kata prita tidak paham.

Cowok itu tidak menjawab, dirinya malah berjongkok menghadap prita yang duduk.

Leon membawa bongkahan batu es yang terselimut plastik bening. Dengan hati-hati cowok itu meletakkan di kaki prita yang makin membiru. Tepatnya, di atas kaos kaki cewek itu.

"kenapa lo lawan kakak kelas tadi?"

"oh freya si jamet? Entahlah, gue udah ngga tahan aja" ucap prita.

Namun, cewek itu kini tersenyum manis,

"dan gue juga teringat ucapan lo"

Leon tersenyum kecil sambil menunduk, sedikit menekan plastik yang berisi es itu ke arah kaki prita yang membuat gadis itu meringis kecil.

"langkah lo itu udah bagus, tapi kurang keren" ejek leon.

"kurang keren apa lagi coba? Kalo aja gue udah ngga hati, bakal gue patahin tangannya tadi"

"seenggaknya, kenapa lo ngga coba siram jus yang tadinya dia mau siramin ke lo?"

Prita tertawa ngakak, lalu dengan cepat gadis itu menyentil dahi leon yang membuat cowok itu mendengus kecil.

"selain judes, pikiran lo picik juga ya?"

Leon hanya mengangkat bahunya acuh.

"give and take, masih berada di konsep gue. Sayangnya gue ngga punya masalah sama kakak kelas itu, jadi buat apa?"

Prita tertawa atas ucapan polos leon, namun dengan cepat cewek itu terdiam ke arah leon yang menunduk karena sedang melihat kakinya.

"lo ngga mau ke rumah sakit?" tanya leon melihat keadaan kaki prita yang lumayan parah.

Anehnya gadis ini tidak mengeluh seperti cewek pada umumnya.

"gue minta maaf" ucap prita tiba-tiba.

Leon mendongak, menatap prita yang kini menatapnya sendu.

"untuk?"

"nyalahin lo atas kejadian mading saat itu"

Aku dan Altair (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang