Aku memang lemah,
Terlalu rapuh,
Sering Menangis,
Selalu terjatuh,
Namun, aku adalah orang yang akan berdiri paling depan,
Jika ada hal apapun yang menyangkut dirimu.
-Prita Kahanaya-
***
Hari ini adalah hari yang sibuk, para warga sibuk mempersiapkan ulang tahun desa.
Para bapak-bapak bergotong royong membuat panggung dari kayu, ibu-ibu membuat makanan dan anak-anak latihan untuk pentas mereka besok malam.
Seperti halnya dengan prita dan teman-temannya.
"ta, si bu Lilis minta anaknya jadi urutan paling awal pentasnya" ucap Toni, salah satu panitia.
Prita yang tengah membiat hiasan untuk panggung itu menoleh dan berdecak.
"nggak ada nggak ada! Semua urutan udah final, dimulai dari umur yang paling kecil yang duluan pentas. Enak aja ubah-ubah, kalo gue punya adik pun tetap aja gue perlakuin adil, pokoknya sesuai umur!"
"iya-iya! Galak amat sih, gue kan males ngeladenin ibu-ibu ribet macam bu Lilis!" kata Toni.
"nanti gue yang bilang" ucap Prita santai.
"mantap ta!" Salsa yang sedang melukis untuk membuat rumput dari kardus pun mengangkat jempolnya ke arah Prita.
Prita membalas cewek itu dengan melakukan hal yang sama.
"oh iya ta, jangan lupa? Nanti nyanyi ya di depan" ucap Radit yang membuat hiasan sama seperti Prita.
"gue bilang nggak mau juga!"
"plis deh ta, biar ibu-ibu insecure ngedenger suara lo, nanti mereka nggak jadi nyanyi deh. Aman kan kuping kita"
"bener ta!"
"gue bilang nggak mau!" ucap Prita dengan tajam.
"si Kenan kemana sih?! Bukannya bantuin pasangin lampu di panggung, keburu sore nih!" kesal Prita.
"katanya lagi beli makanan sama si Kayla" jawab Luna yang berada tidak jauh dari mereka.
"halah! Palingan juga di lama-lamain biar nggak ikut bantu" jawab Radit.
Prita menghela nafas, panas mentari membuat cewek itu berdecak kesal. Mengabaikan panasnya, Prita kembali membuat hiasan. Namun setelah beberapa saat, ada tubuh seseorang tengah menghalangi panas mentari yang menerpa Prita.
Prita mendongak sambil sedikit menyipit, senyuman di wajahnya terbit.
"Leon!"
Semua teman-teman Prita menoleh, kaget melihat seorang cowok yang tiba-tiba entah darimana.
Cowok yang tingginya hampir 190 cm dan terlalu putih bagi standar cowok pada umumnya itu membuat Leon menjadi pusat perhatian. Tidak lupa Aldo dan Azka yang mengikut di belakang.
Leon mengusap lehernya yang mulai berkeringat,
"bagus lo datang! Ayo bantuin!" ucap Prita dengan semangat.
***
Akhirnya Leon dan yang lainnya ikut membantu. Jangan ditanya dimana Aldo, cowok itu pasti sudah ikut ke kerumunan ibu-ibu yang tengah memasak, begitu akrab hingga tawa mereka terdengar.
"ta, masa lo tega banget sih!" teriak Azka.
"udah, lo nggak usah banyak omong, nanti ukurannya berubah!"
Azka menghela nafas, cowok itu pasrah dijadikan patung untuk membuat pohon buatan yang nantinya akan diisi orang.
"gue boleh ketawa kan ka?" tanya Leon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku dan Altair (End)
RomanceChapter I : Saat Kita Bertemu Prita Kanahaya, cewek matre yang berusaha pura-pura kaya untuk mendapat kepopuleran di sekolah. Dengan bermodalkan Kecantikan dan Kepintarannya, ia dengan mudah bergabung dengan circle paling dikagumi di sekolah. Bagi...
