95. Dia Kembali

21 1 0
                                        

Prita menarik koper berwarna kuning, juga tas ransel besar berwarna hitam di punggungnya.

Cewek itu berjalan di kawasan pedesaan solo dengan langit yang tengah mendung dan siap menurunkan airnya.

Benar saja, hanya perlu beberapa detik untuk hujan membasahi jalan. Membuat prita harus meneduh di sebuah saung kayu di pinggir jalan.

Cewek itu sendiri, tidak ada kendaraan berlalu lalang.

Suara petir yang tiba-tiba membuat cewek itu refleks menutup kedua telinganya.

"prita?"

Prita mendongak, ke arah pemuda berseragam PNS dengan membuka pintu mobil dan berlari ke arahnya.

"mas refal?"

Pria itu tersenyum dengan wajah khawatir,

"kamu kenapa kesini nggak ngabarin?"

Prita meringis pelan,

"maaf prita datang tiba-tiba"

"yaudah nggak papa, ayo kita ke rumah uti kamu"

Prita mengangguk pelan, refal membantu prita membawa koper cewek itu.

.
.
.

"yaampun, aku kira siapa! Kenapa kamu nggak ngabarin mau ke sini ta?"

Ucap tari menatap prita khawatir, wanita muda itu menyerahkan handuk kecil untuk mengelap wajah prita.

"hehehe, maaf mbak. Habisnya prita kangen banget sama mbak"

"bisa aja kamu, yaudah kamu ke kamar langsung sana ganti baju, nanti masuk angin. Oh iya budhe lagi pergi ke rumah bu RT, uti lagi sholat di kamarnya"

"yaudah, prita masuk ke kamar dulu ya?"

Gadia itu lalu masuk ke dalam kamar orang tuanya dengan baju yang sudah basah kuyup. Prita dengan cepat membuka kopernya untuk mencari baju ganti.

"aku kira, kamu nggak akan pernah pulang ke sini lagi. Tapi, ternyata kamu menyerah juga ya?"

Prita mendongak, menatap utinya yang berjalan menggunakan tongkatnya.

"uti?"

Prita berdiri, menyalimi, menuntun neneknya itu ke samping ranjangnya. Prita duduk di lantai dan tersenyum ke arah utinya.

"prita tiba-tiba ingin pulang ke sini aja uti. Nanti prita balik lagi kok ke jakarta"

Wanita tua itu terdiam, menatap prita dalam.

"kamu pikir saya bodoh?"

Prita menutup mulutnya,

"dengan barang bawaan sebanyak ini...kamu bukan orang yang sedang liburan prita. Bahkan kemarin kamu menginap disini selama dua minggu hanya membawa satu tas gendong, sekarang bukannya musim liburan juga. Kamu masih berani membohongi uti mu yang sudah tua ini?"

"ng—nggak uti, maksud prita—"

"kenapa? Pacarmu itu tidak menerimamu lagi? Tidak mau bersamamu lagi?"

Prita menggeleng pelan,

"kalo begitu, cepat jelaskan"

Prita menautkan jari jemarinya gugup, tidak berani berkata apapun.

"sepertinya...dia menyerah juga. Semua manusia memang seperti itu, tidak bisa dipegang omongannya. Walaupun dia tidak pernah menjanjikan apapun. Setidaknya dia harus berusaha bukan?"

"ng—nggak uti, dia..."

Prita lalu mendongak menatap neneknya.

"dia nggak pernah menyerah sama prita"

Aku dan Altair (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang