Mereka menunggu Bus datang di halte yang tidak jauh dari sekolah. Leon sesekali melirik prita yang sedari tadi diam.
Sejak Prita bangun tadi, cewek itu hanya melamun.
"ta, lo kenapa?"
Namun setelah itu, bus pun datang. Mereka berdua masuk, menghela nafas karena seisi bis lumayan penuh. Maklum, jam pulang kerja.
Leon memegangi pegangan yang ada di bagian atas bis. Bis pun mulai berjalan pelan karena hujan masih lumayan deras. Leon menatap Prita lagi,
"ta, pegangan ke gue, nanti lo jatuh pas bis nya ngerem mendadak"
Prita diam lagi, cewek itu hanya menatap layar jendela bis.
Ckitt!!!
Rem mendadak bis membuat sebagian penumpang terjungkal ke depan. Untungnya, Leon refkleks menahan tubuh Prita.
"udah gue bilang kan"
Prita lalu mendongak, lalu mengerjapkan matanya beberapa kali.
"emangnya lo bilang apa tadi?"
Leon menghela nafas pelan, ternyata Prita tidak mendengarnya dari tadi.
Namun Leon hanya menautkan tangannya dengan prita, lalu cewek itu membalasnya menggenggamnya erat.
Sebenarnya Prita kenapa sih? Apa arwah cewek di gudang masih mengikutinya?
"ta, jangan ngelamun terus" ucap Leon sambil menggoyangkan genggamannya pelan.
"hah? Oh iya" jawab Prita.
Leon hanya geleng-geleng, Prita lalu memutar pandangannya untuk mengusir rasa kantuk yang mulai menerpanya.
Matanya terfokus melihat sesuatu yang aneh, terlihat gadis SMP yang juga berdiri tidak jauh darinya terlihat risih karena berdekatan dengan seorang Pria yang memakai tas ransel di depan.
Prita menggoyangkan genggamannya pada leon, membuat cowok itu menoleh.
"apa?"
"Leon, gue jadi inget materi PPKN hari ini yang dijelasin Bu Iceu" ucap Prita sedikit keras membuat semuanya mendengar.
"emangnya hari ini ada pelajaran PPKN?"
Prita memberi kode lewat arahan matanya dan Leon ikut melihatnya, cowok itupun langsung mengerti.
"iya, masa lo lupa?" tanya Prita sedikit keras.
"gue inget tentang Undang Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Undang Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual" ucap Prita.
"ah... Gue lupa, bisa lo jelasin lagi?" tanya Leon.
Prita tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.
"untuk tindak pidana kekerasan seksual nonfisik akan dapat dikenakan sanksi berupa pidana penjara paling lama 9 bulan dan atau denda paling banyak sepuluh juta rupiah" ucap Prita lantang.
Si Pria yang mencurigakan itu menatap Prita tajam, namun Prita hanya tersenyum miring, lalu kembali tersenyum tipis.
"sedangkan, untuk tindak pidana kekerasan seksual secara fisik dapat dikenakan sanksi berupa pidana penjara paling lama 12 tahun atau denda paling banyak..." ucap Prita sambil menatap balik tajam Pria itu.
Pria yang berkaca mata dengan tubuh berisi itu menelan ludah kasar,
"lo tau? Pelecehan seksual lebih berat hukumannya daripada pengedar narkoba" lanjut Prita.
Bertepatan dengan itu, bis yang Prita naiki pun berhenti di halte. Dengan cepat si Pria itu turun dari halte sebelum menatap Prita begitu tajam.
Bis pun kembali melaju, Leon melirik Prita yang tersenyum ke arah gadis SMP yang memberi sinyal terima kasih kepadanya.
"kenapa lo lakuin hal berbahaya kayak gitu sih, Nanti kalo dia ingat lo gimana?" tanya Leon.
Prita menoleh lalu mengangkat bahunya acuh lalu tersenyum tipis.
Selama perjalanan, Prita tidak melepaskan genggamannya sama sekali. Bahkan saat Leon sudah merasa tidak nyaman karena telapak tangan mereka berdua berkeringat, Prita tetap tidak melepaskannya.
Hingga mereka turun di halte dan berjalan ke arah cafe menggunakan payung sedang yang dibeli tadi di minimarket.
Mereka sudah sampai di depan Cafe tempat kerja Prita, Leon menatap gadis itu, terlihat cewek itu murung lagi.
"ta, lo nggak mau masuk?"
Prita menatap tangannya yang digenggam Leon, lalu menatap cowok itu tersenyum tipis lalu mengangguk. Akhirnya tautan tangan mereka terlepas.
"hati-hati, jangan sampai kehujanan" setelah itu Prita langsung memasuki Cafe.
"ta!"
Prita berbalik, melihat Leon yang ikut masuk ke dalam Cafe yang sedang sepi. Cowok itu membuka tasnya dan mengeluarkan kertas berwarna putih.
"gue lupa kasih lo ini"
"apa ini?"
"surat persetujuan orang tua buat camping minggu depan, di suruh tanda tangan"
Prita menatap surat itu, lalu menatap Leon.
"memangnya gue perlu surat ini?"
Leon mengangguk, lalu Prita tertawa kecil.
"gue harus minta tanda tangan ke siapa Leon? Ke nina dan rafan? Atau Nenek gue yang di Solo?" canda Prita.
Leon hanya menggeleng,
"gue, biar gue yang tanda tanganin surat lo. Lo mau ikut kan ta?"
Prita terdiam, pikirannya karena mimpi tadi terbayar sudah. Gadis yang sedang muram itu menatap senyuman tipis Leon.
"yang harus tanda tangan kan orang tua" jelas prita.
Leon mengacak pelan rambut gadis itu.
"gue kan bisa minta tolong Bunda, lo mau kan?"
***
Karena partnya sedikit, malam ini Aku bakal double up, see you!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku dan Altair (End)
RomanceChapter I : Saat Kita Bertemu Prita Kanahaya, cewek matre yang berusaha pura-pura kaya untuk mendapat kepopuleran di sekolah. Dengan bermodalkan Kecantikan dan Kepintarannya, ia dengan mudah bergabung dengan circle paling dikagumi di sekolah. Bagi...
