82. Meninggalkan Luka

17 2 1
                                        


Prita berjalan cepat hingga keluar lobi perusahaan itu. Namun, dengan kaki jenjang Leon, cowok itu bisa menyusul prita dengan mudah.

"Prita, dengerin gue dulu" ucap Leon setelah menahan tangan Prita.

Prita menatap tangannya yang terkena darah dari tangan Leon, cowok itu juga menyadarinya lantas mengganti tangan kanannya dengan yang kiri.

Prita menatap Leon datar, menepis tangan cowok itu.

"nggak ada lagi yang harus kita bahas"

Prita kembali melanjutkan jalannya, gadis itu berjalan ke depan dengan tubuh yang mulai dibasahi oleh air hujan.

"ta, biar gue yang anter lo pulang" Leon kembali menahan tangan Prita.

"kenapa sih!?" Prita akhirnya naik pitam, melepaskan tangannya dari Leon.

Mereka berdua kehujanan di depan gedung perusahaan.

"kenapa lo harus perduli sama gue lagi?! Kenapa lo nggak bersikap tetap menjadi cowok jahat lagi seperti kemarin?!" teriak Prita.

"lo itu udah mutusin gue Leon! Lo sadar nggak?! Hati gue itu udah terluka karena lo!"

Leon terdiam, membiarkan wajahnya terus diguyur air hujan.

"semua ada alasannya"

Prita tertawa pelan, mengusap wajahnya.

"apapun alasannya, lo tetap ninggalin gue, apapun sebabnya, lo tetap biarin gue sendirian lagi..."

Prita tersenyum getir,

"bener ya kata orang-orang? Gue itu cuma benalu buat lo, bahkan sekarang buat bunda sama yona"

"seharusnya...lo nggak pungut gue saat itu, seharusnya...lo biarin gue pergi sendirian"

Leon memejamkan matanya saat air hujan menetes menusuk matanya.

"dasar cowok bego!" Prita kembali berjalan meninggalkan Leon.

Namun beberapa langkah, ia merasakan sesuatu memberat di punggungnya. Ternyata hoodie warna biru yang telah basah.

Prita menoleh, menatap Leon yang kini menatapnya dengan teduh.

"kalo lo nggak mau dianter pulang sama gue, setidaknya tutupi seragam lo" Prita menatap dirinya sendiri, ternyata benar, tanktop putih miliknya terlihat jelas di balik seragam putihnya yang basah.

Lalu Prita kembali meninggalkan Leon, cewek itu berjalan tanpa menoleh lagi kearahnya.

***

Prita berjalan tanpa arah, wajahnya menunduk dengan tudung hoodie yang menutupi kepalanya.

Beberapa orang yang meneduh menatap aneh dirinya yang berjalan di atas guyuran hujan. Dirinya bahkan tidak niat untuk berlari mencari tempat meneduh.

Prita membiarkan kakinya bergerak sendiri. Hingga kaki itu berhenti tepat di tempat pemakaman umum.

Prita kembali berjalan melewati banyaknya makam. Bahkan, suara petir tidak dihiraukannya.

Hingga ia berhenti di dua makam yang tertera nama nisan kedua orang tuanya.

"Prita capek"

Prita menatap datar kedua makam itu, gadis itu menumpukan kedua lututnya di tengah makam.

"Prita nggak tau akan berapa lama lagi...akan bertahan. Bisa nggak sih...Prita ikut kalian aja?"

"Prita ggak kuat lagi ngehadapin dunia sendirian"

"dunia ini... sama sekali nggak cocok buat Prita"

Prita mengusap wajahnya yang basah karena guyuran hujan. Gadis itu berdiam diri di depan makam orang tuanya beberapa lama hingga hujan sedikit reda.

Aku dan Altair (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang