Prita membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah ruangan dengan nuansa serba putih.
"ta, lo udah sadar?"
Prita menoleh ke arah Dion, dahinya mengerut untuk mengingat apa yang telah terjadi. Setelah mengingatnya, sontak matanya membulat dan langsung mendudukan diri.
Gadis yang memakai baju pasien itu menyingkirkan selimutnya. Menurunkan kakinya ke bawah ranjang rumah sakit.
Dion dengan cepat menahannya,
"mau ngapain lo? Lo masih sakit ta, lo hipotermia"
Prita menatap dion,
"dimana Leon?" lirih prita.
Dion terdiam menatap prita,
"gue tanya, dimana Leon?"
Dion akhirnya menghela nafas, melepaskan tangannya di lengan prita.
"dia lagi di ruang ICU, kondisinya kritis"
Prita sontak melamun sebentar, lalu menutup wajah dengan kedua tangannya.
"ini semua salah gue"
"cukup ta"
"kalo aja dari awal gue nggak pernah ketemu sama Leon, dia nggak akan sesial ini"
"berhenti nyalahin diri lo terus"
"ini emang salah gue Dion! Gue emang cewek pembawa sial! Seharusnya gue aja yang mati!"
Dion menatap gadis itu tajam,
"ta, Leon pasti marah kalo denger ucapan lo"
Prita kali ini tidak membalas ucapan Dion lagi, cewek itu kembali menangis.
Lalu prita memukul kepalanya sendiri dengan kedua tangannya. Dion menahannya dengan menutup kepala Prita, membiarkan cewek itu memukul kedua tangannya.
"seharusnya gue yang mati...seharusnya gue yang mati" gumam Prita sambil menangis,
Bahu cewek itu sampai bergetar hebat, lalu Dion memeluk prita. Membiarkan cewek itu menangis dan bersandar di dadanya. Cowok itu menghela nafas, meletakkan dagunya di atas kepala Prita.
"sejak kapan lo bisa nangis ta? Gue baru kali ini lihat lo begitu lemah. Dan itu semua...karena cowok judes semacam Leon"
***
Prita sudah mengganti baju pasiennya dengan sweater rajut berwarna moca dan celana jeans yang dibawakan Nina dan Rafan tadi.
Cewek itu tidak lagi mau dirawat padahal kondisinya masih lemah. Prita berjalan ke pintu yang terlihat papan nama ICU di atasnya.
Syifa baru saja pergi untuk mengurus masalah Devano dan perusahaannya.
Seketika tangan Prita kaku memegang knop pintu,
"kalo lo belum siap, jangan dipaksain ta" ucap Rafan.
Hari ini, bagian cowok itu yang berjaga di rumah sakit. Karena kemarin Azka dan Aldo sudah menunggu semalaman selama Leon di operasi.
Prita lalu menggeleng, lalu berusaha tersenyum.
"gue...gue cuma lagi mempersiapkan diri fan. Muka gue, lagi jelek banget kan?"
Rafan tidak menjawab, menatap wajah sahabatnya yang begitu pucat dengan luka-luka yang lumayan banyak. Padahal seharusnya, jika keadaan cewek lain seperti prita sekarang ini, pasti histeris.
"mau gue temenin ke dalam?"
Prita menggeleng,
"gue bisa sendiri"
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku dan Altair (End)
RomanceChapter I : Saat Kita Bertemu Prita Kanahaya, cewek matre yang berusaha pura-pura kaya untuk mendapat kepopuleran di sekolah. Dengan bermodalkan Kecantikan dan Kepintarannya, ia dengan mudah bergabung dengan circle paling dikagumi di sekolah. Bagi...
