79. Target

24 2 0
                                        

Prita berlari dari rumah kediaman murid SMP yang telah diajari les olehnya. Hujan deras di malam hari membuat Prita bergegas menuju halte bus.

Lagi-lagi baterai ponselnya habis, ia tidak bisa memesan ojek online. Berharap bus datang walaupun waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

Prita memeluk kedua kakinya dengan duduk di kursi halte.

Memejamkan matanya menikmati semilir angin juga derasnya hujan, lagi-lagi ia teringat kejadian itu. Malam yang sama, halte yang sama dengan perasaan yang sama.

Bedanya, tidak ada yang menjemputnya lagi.

Prita benar-benar sendiri sekarang. Gadis itu menatap langit malam yang begitu bersedih.

"gue...bisa hidup sampai tua nggak ya?" gumamnya.

"apa gue duluan mati sebelum jadi jaksa? Atau sebelum kuliah? Atau bahkan sebelum lulus?"

Prita lalu terkekeh pelan, mengangkat bahunya acuh.

"gue menghilang dari bumi pun sepertinya nggak ada yang nyadar"

Prita kembali menunduk dan memejamkan matanya, mengkhayal dan berharap ia langsung bisa tiba-tiba ada di kamarnya.

Suara mobil melaju mendekat ke arahnya, tapi cewek itu acuh.

"Prita?"

Prita akhirnya mendongak, mengerjapkan matanya beberapa kali. Kaget melihat seorang wanita cantik yang memegang payung.

"bun- eh tante?"

Syifa tersenyum melihat gadis yang tengah kedinginan dengan kepala yang menggunakan topi berwarna navy itu.

"kenapa ada disini? Kamu habis darimana sayang?"

Prita bangkit, berdiri dan menyalami Syifa.

"habis ngajar les bun-eh tante, Prita nunggu bus datang"

"kenapa kamu berhenti panggil bunda? Bunda sedih loh"

"maaf"

Syifa terkekeh pelan, Prita tiba-tiba gugup melihat senyuman itu yang mirip seseorang.

"yaudah nggak papa, tapi kamu harus mau Bunda ajak makan dan anter pulang"

"Prita takut ngerepotin Bunda"

"nggak akan sayang"

Prita tersenyum kecil lalu mengangguk, mereka berdua duduk di kursi belakang.

"jalan pak" titah Syifa.

Prita sontak kikuk, ia bingung akan berbicara apa. Sedangkan syifa tersenyum ke arah gadis di sampingnya. Elusan tangan bunda membuat Prita menoleh kaget.

"ehm...bunda, bunda habis darimana?"

"bunda baru pulang dari kantor, kebetulan kantornya dekat sini, bunda kaget karena merasa melihat kamu, ternyata bener"

Prita mengangguk pelan sambil tersenyum.

"kamu gimana sekolahnya?"

"gitu-gitu aja bunda"

Syifa tersenyum, ia tau betul hubungan Prita dengan putranya sekarang.

"kenapa nggak main ke rumah lagi sih? Yona kangen banget sama kamu, hampir setiap hari dia ngerengek ingin main sama kamu"

Prita meringis pelan, merasa tidak enak.

"maaf bunda, prita sibuk kerja apalagi sekarang kelas dua belas, banyak latihan buat ujian"

"bunda ngerti, tapi jangan terlalu diforsir, kamu harus inget kesehatan kamu ta"

Prita hanya mengangguk, ia menautkan kedua tangannya erat. Cewek ini mulai gelisah,

Aku dan Altair (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang