74. Jarak

19 2 0
                                        

Prita membuka matanya perlahan, ia terbangun. Lagi-lagi ia tertidur di dalam kelas saat jam kosong, Prita menatap layar ponselnya yang menunjukkan bel pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu.

Tersadar, Prita dengan cepat menoleh ke arah kursi Leon. Namun kosong, tas cowok itupun tidak ada juga.

Ia kemudian menoleh ke arah Rafan yang memasukkan buku-bukunya.

"fan, Leon kemana?"

"oh, pas bel dia buru-buru pergi, dia nggak kasih tau lo?"

"Oh iya gue lupa hehe" bohong prita.

Rafan memicingkan matanya menatap sahabatnya dengan curiga.

"ta, jujur sama gue. Lo sama Leon lagi ada masalah kan?"

Prita meringis pelan, lalu menggeleng. Tatapan Rafan makin mengintimidasi.

"ck! Iya-iya, gue cuma lagi ada salah paham sama dia, nanti juga kelar"

Rafan menghela nafas,

"lo mau pulang bareng nggak sama gue?"

"lo kan bawa motor, terus sama Nina, gue mau ditaro dimana?"

"hehehe, kita bonceng tiga, mau nggak?"

"najis! Lo ketularan si Naren ya?"

"niat gue baik ta, bisa-bisanya lo sangkut pautin sama si Naren jamet"

"itu lo tau!"

"yaudah, mau bareng nggak? Gue anter Nina dulu setelah itu lo gue anterin ke cafe"

Prita menggeleng pelan, meregangkan jari jemarinya.

"gue naik bus aja, lebih cepet"

"tapi-"

"udah sana, pasti Nina nungguin, lo mau nanggepin dia kalo lagi marah karena nungguin lo kelamaan?"

"nggak sih"

"yaudah sana"

Setelah Rafan pergi, Prita menghela nafas pelan. Memegang kepalanya sebentar lalu berdiri.

Cuaca mendung menyapa Prita saat keluar kelas, hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang.

Prita menatap langit dengan sendu, menadahkan tangannya saat rintik hujan mulai membasahi jalan secara lembut.

"padahal tadi masih ngelihat wajahnya, tapi.... Entah kenapa gue kangen Leon"

"dia...serius benci gue nggak ya?" gumam Prita.

***

Keesokan harinya, tepat sekali. Mata Prita kian berbinar melihat pinggung Leon yang berjalan santai tidak jauh di belakangnya.

Kali ini, Prita tidak akan melewatkannya. Cewek itu berlari dengan cepat. Prita menghadang Leon hingga cowok itu menghentikan langkahnya.

"kita perlu bicara, Leon"

Leon menatap Prita tenang,

"bentar lagi bel masuk" ucap cowok itu.

Prita menggeleng tegas,

"gue nggak perduli, masalah ini harus kita selesain hari ini juga"

Prita menarik tangan Leon, namun cowok itu tetap berada di posisinya.

"Leon, gue mohon"

"lo...sama sekali nggak ngerti dengan kejadian kemarin?"

Prita menggeleng cepat,

"lo cuma biarin gue pulang dianter Pak Hari, lo pikir gue bisa paham sama keadaan ini?"

Leon melepaskan genggaman prita pada lengannya.

Aku dan Altair (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang