reason 17

35 2 0
                                        

—————

nangis

—————

—————

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

Semua langsung tersentak.

"Raya?! Kenapa?" itu reaksi kami ketika mendapati Raya yang sudah berdiri di depan meja kami dengan keadaan mata sembab dan wajah pucat. Bekal soto daging buatan ibuku yang sempat mendarat di mulut pun terpaksa kucebloskan kembali pada tempat semula demi menaruh seluruh atensi pada Raya.

Sejenak aku melirik pada William yang duduk di seberangku. Meski aku sudah menduga akan seperti apa reaksinya aku tetap menengok untuk memastikan sekhawatir apa ekspresi wajahnya saat ini. Dan tepat setelah aku menoleh pada lelaki itu aku merasakan sesak di dadaku muncul. Raut khawatir dari William cukup menjelaskan bahwa ada segudang kekhawatiran di balik wajah cuek dan dingin itu. Sebuah perasaan yang akan ditunjukkan ketika kau begitu mencintai seseorang.

Dhania yang bersikap keibuan di antara kami menjadi orang pertama yang bangkit dari duduk dan memeluk Raya detik itu juga. Disusul oleh kami yang mulai mengerti situasi dan mencoba mendekap Raya untuk sekedar menenangkannya. Sementara laki-laki yang pada dasarnya tidak berperasaan hanya menatap polos acara pelukan bersama itu—mungkin kecuali William karena ia tak berhenti terlihat khawatir sejak tadi.

"L-lukas..." suaranya tercekat, tidak sanggup melanjutkan kalimat isakkan tangisnya.

Di sela-sela aku menenangkan Raya, aku menghela napas. Mendengar nama Lukas—kekasih baru Raya—membuatku berpikir kali ini masalah apa yang ditimbulkan kekasihnya. Dari Canda anak kelas sebelah, Kak Vero hingga Lukas, selalu saja ada fase seperti ini sehingga aku heran kenapa Raya bisa dapat lelaki bejat dalam 3 kali hubungan berturut-turut sementara ia menyia-nyiakan orang yang jelas-jelas tulus—William.

Aku benar, kan?

Oke, kita lihat dari kacamataku karena terlepas dari kekasih Raya memang sebejat itu untuk menyakiti hati kecil malaikat tanpa bersayap kami, Raya juga bertanggung jawab atas masalahnya sendiri karena bagaimana bisa kau menerima pernyataan cinta dari seseorang dengan alasan hari itu adalah hari Valentine? Ya benar, Lukas memang anak kelas sebelah, sekelas dengan Candra, tapi tak ada satupun dari kami yang mengenal bagaimana karakter laki-laki itu, bagaimana sikapnya tapi Raya menerima hanya karena Hari Valentine adalah waktu yang pas? Tidakkah itu aneh?

Ya, aku mengakui pernyataan cintanya tempo lalu cukup menyentuh. Ia datang ke kelas kami dan memberi buket berisi 20 tangkai bunga mawar dengan satu kotak coklat berukuran besar yang Raya bagikan kepada kami. Tentu jika aku menjadi Raya aku akan takjub bahwa ada orang yang melakukan usaha sebanyak itu untuk mengambil hatiku, tapi tidak jika untuk meluluhkanku. Aku tidak semurahan itu untuk jatuh cinta karena 20 tangkai mawar dan 1 kotak besar berisi coklat. Tapi aku semurahan itu untuk mengemis cinta pada William.

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang