"sometimes i have to give up on someone. not because i don't care, but because he doesn't care."
———
Aku menendang pelan kerikil pinggir jalan, tak fokus, ada banyak hal yang aku pikirkan saat ini. Lima belas menit lalu aku menghubungi William untuk datang dan berbicara sesuatu. Kebetulan ia sedang berada di luar dan setuju untuk bertemu denganku.
William Sena Hubert. Seseorang yang dulunya adalah milikku, prioritasku namun kini terasa begitu asing dan jauh berbeda. Aku tak bisa menemukan William yang dulu. Bagaimanapun aku memaksa diriku mengingat sosoknya yang dulu, aku tidak bisa tutup mata bahwa jarak antara aku dan dia kini terasa jauh. Aku tak menemukan keberadaannya yang dulu hangat padaku, dimanapun itu. karena kusadar pada dasarnya dia tak pernah melihatku sebagai seorang perempuan.
Dia tak pernah mencintaiku.
Saat itu pendulum waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya, mengganti satuan dari detik menjadi menit, dari menit menjadi jam dan kemudian menjadi berjam-jam lamanya. Di saat aku hanya mematung terdiam seolah dunia tidak sedang berporos.
"Disitu kau rupanya," ucap seseorang. Aku menoleh, mendapati William sudah memarkirkan motornya di sisi jalan. Kupikir dia datang sendiri tapi nyatanya?
"Haura!" Raya muncul di balik punggung William dengan helm kecilnya dan senyum lebar menghiasinya. Aku hanya tersenyum pahit melihat bahwa ternyata ia bersama Raya. Mereka yang tadi siang berpelukan, melakukan hal yang benar-benar menyakitiku kini masih berani menampakkan kedekatan di depanku? Di depan kekasihmu sendiri, William?
"Oh hai? Kalian darimana?" jawabku mencoba sesantai mungkin.
"William mengajakku ke resto ayam. Dia bilang tiba-tiba ingin ayam malam-malam begini."
Aku jadi teringat pernah memaksa William makan siang di resto ayam milik temanku. Dia menolak dan beralasan tidak suka ayam. Lihat, semudah itu ia goyah hanya karena Raya. Kupikir dia berbicara begitu karena benar-benar tidak suka ayam, tapi ternyata aku salah. Dia tidak menyukaiku, bukan ayamnya.
"Boleh aku pinjam William sebentar?" aku bertanya memecah hening.
"Tentu, dia sepenuhnya milikmu."
Hatiku mendadak ngilu. Kau salah, Raya. Kau punya sebagian miliknya. Aku hanya punya raganya, dan kau? Kau punya hatinya.
Aku menarik pelan William yang sudah turun dari motornya, menjauhi Raya.
"Ada apa?" ia menatap tepat pada mataku. Mata yang sangat-sangat indah meski nyatanya sudah beribu kali mata itu menatap tajam padaku. Bagaimana bisa aku tega mengatakan bahwa kita harus berhenti sampai disini saat aku sangat-sangat mencintainya?
"Kau makan dengan baik?"
"Yah, kau sudah dengar kan apa kata Raya?"
"Baguslah, kau harus makan yang banyak. Akhir-akhir ini kau terlihat kurus," aku meraih lengan William dan memeriksa betapa kurusnya lengan itu, beralih pada jaketnya yang sedikit tersingkap—membenarkan kerahnya dan menepuk pelan. "Pakai jaketmu yang benar. Sekarang dingin tahu."
"Apa yang ingin kau katakan?!"
Aku menarik napas panjang. Kupikir aku bisa berlama-lama menikmati momen terakhir. Menatap matanya sedikit lebih lama, menggenggam tangannya yang hangat sedikit lebih lama. Tapi sepertinya William ingin buru-buru mengenyahkah wajahku dari hadapannya tak peduli ini momen terakhirnya atau bukan. Ya, aku memutuskan untuk berhenti sampai disini. Menyudahi sebuah sandiwara yang bahkan menyakiti kedua belah pihak, sekaligus menyakiti William. Dan aku tak mau lelaki yang kucinta juga tersiksa karena hubungan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Novela JuvenilBagaimana rasanya bertahan di tengah hubungan samar antara kekasihmu dan sahabatnya? Di saat kau terluka dengan hubungan ini, kau baru menyadari bahwa kekasihmu juga terluka menahan perasaan yang tidak bisa ia ungkap pada sahabatnya. "Seandainya ka...
