"suddenly it feels hurt"
——————
William berhenti di ujung tangga paling atas, napasnya sesak karena terburu-buru menaiki tangga dari lantai paling dasar sampai ke lantai 3. Ia menengok ke kanan, mengamati koridor kosong menandakan semua anggota sudah masuk ruang latihan. Benar, itu alasan kenapa William berlari kesetanan sejak tadi. Ia tahu ia pasti sudah sangat terlambat dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 8 saat ia terlonjak dari kasurnya, sementara jam latihan dimulai jam 9 dan ini sudah lewat 30 menit.
Sebenarnya latihan ini tidak seketat mata pelajaran seperti biasa. Ia bisa saja tidak peduli tuntutan orang atau bahkan Haura, tapi mengingat kemarin adalah negosiasinya dengan Haura dan William menyetujuinya bukankah terasa memalukan menghadap Haura di posisi dia terlambat? Haura akan berpikir William benar-benar menyepelekan pentas ini.
Langkahnya melaju pelan mendekati ruang latihan, ia tidak berhenti di depan pintu, justru ia agak mundur untuk memeriksa keadaan dan memutar otak bagaimana ia bisa menyelinap masuk jika keadaannya hening? Sedetik kemudian ia mendengar teriakan marah dari seseorang yang menggema. Tapi tunggu, itu sedikit berbeda. Terdengar seperti suara Wanita paruh baya. William tidak ingat memiliki teman dengan suara semelengking itu. Apakah ada guru atau orang lain di dalam ruang latihan?
William sontak mundur dan berbelok lalu bersembunyi di balik tembok ketika merasakan suara itu mendekati pintu keluar. Setelah ia intip diam-diam Haura keluar, tidak sendiri di susul oleh wanita paruh baya dengan gaya cukup eksentrik yang William yakin teriakan wanita tersebut yang didengar telinganya tadi. Juga satu anggota temannya yang turut keluar ruangan.
"Anetta?" ucap William keheranan. Apa itu ibunya Anetta?
Anetta dan wanita yang William asumsikan adalah ibunya Anetta mengikuti Haura ke ujung koridor sana. Ada apa sebenarnya?
William tadinya berpikir ini kesempatan bagus untuk menyelinap masuk agar tidak ketahuan Haura karena gadis itu tengah menghadapi urusannya, tapi sialnya rasa penasaran di kepalanya lebih besar daripada nasibnya yang terancam digertak Haura karena terlambat. Langkah William mendekat, melewati pintu ruang latihan yang tertutup rapat dan bersembunyi di balik tembok. Sementara Haura, Anetta dan ibunya berbicara intens di koridor sunyi itu. William tidak bermaksud tidak sopan menguping pembicaraan orang, ia berjanji setelah mendengar sedikit kalimatnya ia langsung kabur dan masuk ke ruangan.
"Sudah mamah bilang kamu tidak usah ikut-ikut drama tidak berguna ini," wanita paruh baya itu menghadap Anetta membentak.
"Mah, sudah berapa kali aku bilang ini remedial sekolah mah. Bukan sukarelawan. Jika tidak aku lakukan akan menadpat nilai jelek."
"Tidak peduli nilaimu jelek atau tidak, sudah mamah tekankan kau masuk universitas jalur ujian! Kau lebih baik mementingkan nilai ujianmu nanti. Kau jadi membolos les gara-gara drama sialan ini?!"
Haura buru-buru menengahi.
"Bu maaf, saya penanggung jawabnya. Ucapan Anetta benar bu, ini remedial sekolah. Jadi memang perlu dilakukan untuk perbaikan. Untuk menunjang semester 5 dan 6 nanti. Guru juga mengharuskan kita melakukannya."
Ibu Anetta kini tersenyum getir menghadap Haura, memberi tatapan tidak suka.
"Jadi kau yang memaksa anakku untuk latihan setiap hari di saat ia harusnya les dan belajar?" jari Ibu Anetta mendorong pelan bahu Haura membuat gadis itu terpaksa memundurkan langkah untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Haura yang masih tersenyum sopan, menjelaskan lagi.
"Saya bukannya memaksa bu, tapi memang perintah dari guru kesenian untuk—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
RomanceBagaimana rasanya bertahan di tengah hubungan samar antara kekasihmu dan sahabatnya? Di saat kau terluka dengan hubungan ini, kau baru menyadari bahwa kekasihmu juga terluka menahan perasaan yang tidak bisa ia ungkap pada sahabatnya. "Seandainya ka...
