"and in the end all i learned is how to be strong alone."
——————
Di hari yang sama, sore itu pukul setengah lima, Haura menghubungi Raya untuk meminta bantuannya membawa properti drama yang membludak ini. Bukan tanpa alasan, ia sudah menghubungi satu-satu anggota dramanya namun tidak ada satupun dari mereka yang merespon atau sudi mengulurkan tangan pada penanggung jawab drama mereka. Drama yang hasil akhirnya pun demi nilai mereka sendiri. Kabar baiknya Ucup masih mau bekerja sama dengannya meski setelah kejadian putus itu ia masih menyayangkan kenapa ia harus putus dengan William. Tapi syukurlah, Ucup tidak sebrutal Dhania, Keisha dan Meline yang tiba-tiba bermuka dua dan menjauhinya.
Ucup sudah bolak-balik dengan mobil kakaknya—ditemani Jovan—membawa satu properti ke properti yang lain. Pulang dan pergi dari tempat belanja ke sekolah. Jadi tidak mungkin ia membebankan Ucup dan Jovan yang sudah mondar-mandir sekaligus mengangkut dari parkiran ke lantai 2 untuk membantunya keliling belanja juga. Haura tidak ada pilihan lain selain menghubungi Raya karena jujur tangannya kewalahan memegang berpuluh-puluh kantung yang berat itu. Ada kostum setiap pemain yang ia sewa, jumlahnya tidak hanya dua atau tiga, bisa lebih dari 10. Printilan detail di setiap kostum yang tidak terhitung jumlahnya. Apalagi untuk pemeran utaman dengan adegan yang berbeda-beda, kostumnya pun turut berbeda.
Menit-menit berlalu akhirnya kedatangan Raya menciptakan kelegaan di hatinya, akhirnya ia bisa membagi sedikit beban kantung belanjaan ini. Tapi kelegaan itu tidak bertahan lama tepat saat Haura menemukan William muncul di balik punggung Raya. Oke, salah. Harusnya ia senang William turut membantunya juga, bukan? Tapi bukan itu masalahnya. William termasuk anggota yang ia hubungi berkali-kali, orang yang ia tagih tanggung jawabnya beberapa jam lalu. Tapi lelaki itu bahkan tidak membaca satupun pesannya. Teleponnya tidak terjawab meski sudah lebih dari 10 kali Haura menghubungi. Tapi lihatlah, ia datang begitu entengnya ketika Haura mengundang umpannya—Raya.
Haura tertawa pahit dalam hati. Tapi demi berjalannya drama, ia akan menelan bulat-bulat kekesalannya dan menyambut William dengan sangat baik.
"Maaf jadi merepotkanmu, aku sulit menghubungi anggota dramaku," basa-basi Haura. Ia yakin Raya tidak butuh itu, toh mau ada banyak yang bantu ataupun tidak Raya akan tetap datang juga jika diminta. Jika kalian bertanya apa Haura tidak basa-basi pada William? Tidak perlu. William juga tidak butuh itu.
"Tidak apa, ini janjiku padamu."
Dengan mudahnya Raya memerintah William mengambil alih kantung belanja plastik sebagian yang ada di tangan Haura. Instruksi yang sederhana tapi Haura tidak bisa. Raya juga mengambil sebagian kantung di tangan Raya, mereka pun berjalan ke tujuan selanjutnya yakni toko cat.
Tadinya Raya menawarkan untuk masuk ke toko cat sendirian dan meninggalkan barangnya bersama Haura dan William. Namun William menawarkan diri terlebih dahulu melihat Raya begitu berdedikasi, ia merasa Raya terlalu merepotkan dirinya sehingga William akhirnya turun tangan. Ia meninggalkan bawannya sejenak dan masuk ke toko cat membeli sesuatu yang sudah Haura instruksikan sebelumnya. Meninggalkan Haura dan Raya berdua di luar.
"Ucup dan Jovan kemana?"
"Mereka baru saja pergi mengangkut belanjaan sebelumnya. Ini belanjaan yang terakhir. Mereka sudah bolak-balik lebih dari 3 kali."
Raya hanya mengangguk-angguk.
"Haura, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya?"
"Soal siang tadi, apa kau tahu kenapa Jovan melabrak William?"
Sial, kenapa Raya terlalu to the point.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Teen FictionBagaimana rasanya bertahan di tengah hubungan samar antara kekasihmu dan sahabatnya? Di saat kau terluka dengan hubungan ini, kau baru menyadari bahwa kekasihmu juga terluka menahan perasaan yang tidak bisa ia ungkap pada sahabatnya. "Seandainya ka...
