downpour

67 2 0
                                        

"maybe i don't cry, but it hurts.
maybe i won't say, but i feel.
maybe i don't show. but i care."

———

Tepat pada pukul 9 pagi, latihan dimulai. Semua anggota sudah berkumpul di ruang fotografi dengan berbagai properti yang memenuhi ruangan. Semenjak dibangun gedung baru di belakang lapang upacara beberapa ruangan ekskul dialihkan termasuk ruangan fotografi ini sehingga ruangan yang tengah Haura pakai dengan kelompoknya—dengan izin pihak sekolah—bisa ia gunakan selama beberapa minggu ke depan. Ruangan ini cukup luas sehingga properti yang semula menggunung itu bisa tertata rapi di sudut-sudut ruangan dan tidak mengganggu space untuk latihan.

Sebagian dari anggota bergerombol saling berlatih dialog mereka. Beberapa hari sebelumnya Haura memang sudah menentukan peran masing-masing anggota dan memberi instruksi untuk latihan mandiri terkait dialog masing-masing di setiap naskah. Hari ini adalah hari pertama mereka melakukan uji percobaannya di depan Haura.

Adegan pertama diisi oleh dialog antara Junia dan Tania dengan latar desa yang sangat terpencil. Haura memantau keduanya, sesekali melihat naskah dan memastikan kesesuaian dengan yang mereka berdua tampilkan.

"Ah, coba lakukan penekanan di kata ini dan kau menatap intens pada Tania," koreksi Haura yang langsung ditanggapi anggukan oleh Juni.

"Satu lagi, tanganmu jangan kaku!"

Mereka melakukan pengulangan lagi sesuai instruksi Haura. Setelah melalui beberapa pengulangan dan pengoreksian lagi dan lagi akhirnya Haura menyetujui adegan pertama.

"Kalian lanjut menghapal bagian dialog di adegan lainnya."

"Oke!" jawab keduanya serempak.

Haura melanjutkan pengecekannya ke adegan dua dalam naskah. Melakukan hal yang sama, mengoreksi, memberi contoh dan menyetujui adegannya ditampilkan seperti itu. Adegan tiap adegan berlanjut, suaranya sudah mulai serak, kepalanya pusing dengan segala hiruk pikuk kelas yang penuh dengan latihan mandiri anggotanya. Akhirnya pengecekan ini membawa Haura pada satu adegan puncak. William dengan Maretta, dua-duanya adalah orang yang Haura tunjuk sebagai peran utama. Bukan tanpa alasan, karena ini cenderung pada drama musikal Haura mempertimbangkan orang yang bisa bernyanyi untuk dijadikan peran utama. Maretta, peraih juara lomba nyanyi sejak kecil dan William, meski hanya hobi seperti yang kita tahu saat ulang tahun Raya ia menyumbangkan satu lagu menyakitkan bagi Haura. Meskipun menyakitkan Haura harus mengakui itu suara yang merdu. Kalian bertanya apa William menolak? Awalnya begitu, tapi tidak setelah Raya memerintahnya

Haura menarik napas panjang mencoba bersikap profesional meski dalam hatinya ia enggan menatap William yang kemarin sore memarahinya habis-habisan. "Coba ulangi bagian kalian menyanyikan lirik ini," keduanya mengangguk mulai menyanyikan bagian lirik tersebut.

Haura mengangguk-angguk puas, "suara kalian sudah serasi, tapi William bisakah kau menyanyikan bagian ini sambil menatap mata Maretta penuh harap? Kau tahu kan bagian ini kalian seperti hendak berpisah—"

"Iya aku tahu," belum sempat Haura menyelesaikan kalimatnya lelaki itu sudah memotong ucapannya. Haura tidak mau ambil pusing, ia sudah cukup lelah dengan pengecekan setiap adegan, akhirnya ia hanya diam dan kembali memeriksa bagian kedua peran utama itu.

Tidak jauh berbeda seperti sebelumnya, setelah beberapa kali pengulakan dan pengecekan akhirnya Haura menyetujui adegan krusial itu. Ia menatap coretan naskah di tangannya, beberapa koreksi serta catatan darinya untuk nanti ia rangkum dan kirim ke grup sebagai bahan evaluasi. Setelah dipikir-pikir, ini benar-benar pekerjaan yang sulit tapi Haura bisa melewatinya. Meski beberapa hari ke depan ia pasti akan memeriksa adegannya lagi. Tapi sejauh ini, tidak buruk. Kewarasannya masih normal dan ia masih bisa bernapas lega meski oknum bernama William yang latihan setengah-setengah, dan Keisha, yang sejak perdebatan kecil tadi pagi ia kabur dan bolos latihan. Oh, sebenarnya tadi ada satu orang yang telat, tapi Haura tidak ambil pusing soal itu karena ia bilang ia sempat berdebat dengan ibunya untuk ikut-ikut drama ini.

ReasonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang