"when half of mine is missing, how can i live as one "
———
Haura menghela napas bosan. Ia menidurkan kepala di meja, mengetuk-ngetuk jarinya atau bergumam pada diri sendiri. Di Hari ke-6 ini sudah selesai memeriksa dialog anggotanya, menurutnya sudah cukup sempurna sehingga kegiatannya siang ini hanya mengeluh kebosanan. Benar, ia jadi pengangguran jika anggotanya tidak mengandalkan bantuannya. Okey tidak sepenuhnya menganggur, ia masih mencoba berkomunikasi dengan Keisha perihal ketidakhadirannya sejak hari pertama. Meski sudah menduga jawabannya tapi ia mencoba berprasangka baik bahwa hari ini akan berbeda, mungkin hari ini Keisha akan membaca pesannya, mungkin hari ini Keisha sudi mendengar ucapannya dan ekspektasi-ekspektasi lain yang tidak realistis. Juga kepada Anetta yang bilangnya ia baru sampai di depan gerbang sekolah karena sempat berdebat dengan ibunya. Rutinitas yang selalu sama, bukan? Membosankan.
Rasanya ia ingin waktu cepat berlalu menuju malam. Malam yang ia tunggu-tunggu sejak kemarin. Jika kalian masih ingat Jovan pernah menawarinya pergi ke Institut Seni Indonesia untuk melihat pentas teater drama mahasiswa fakultas Seni Rupa. Sejak malam kemarin Haura sibuk berdiri di depan cermin, menyiapkan pakaian apa yang harus ia kenakan, style make up apa yang harus ia pakai, aksesoris macam apa yang cocok untuk acara itu. Kewalahan menata ulang baju dan make up yang sudah ia obrak-abrik hanya untuk membuatnya terlihat pantas dan cocok. Sesederhana ia ingin berpenampilan baik di depan Jovan. Entahlah, Jovan seperti penyelamat di tengah kehidupan suramnya. Penghibur di tengah hari-hari jenuhnya.
Walaupaun ada masa di mana Jovan bersikap menyebalkan, bersikap jail dan kurang ajar hingga di titik di mana Haura ingin melemparnya ke segitiga bermuda, tapi nyatanya selalu ada senyum tipis yang merayap diam-diam saat ia menyaksikan tingkah Jovan. Room chat nya dengan Jovan menjadi satu-satunya penenang di tengah malam sepinya semenjak ia putus dengan William. Chat semalaman, menengarkan musik yang sama, membagikan vidio lucu dari Tik Tok, atau video call dan mengarahkan ponsel pada layar laptop untuk menonton film bersama. Gila memang, mereka segila itu untuk membagi kebahagiaan.
Notifikasi ponsel membangunkan lamunannya. Notifikasi itu dari pengantar makanan yang mengabari ia sudah sampai. Ya Haura memesan sedikit makanan untuk cemilan siang, sedikit apresiasi untuk anggotanya yang sudi datang-datang ke sekolah saat teman sekelas yang lain santai menunggu pengumuman rapot. Ia buru-buru bangkit dan setengah berlari mengambil pesanan makanan tersebut. Tepat setelah Haura melangkah keluar dan meninggalkan ponselnya di meja, layarnya menampilkan peringatan dalam kalender.
Kebetulan sekali, atau mungkin memang direncanakan semesta, William berjalan melintasi meja depan di mana ponsel Haura tergeletak sembarangan. Pandangannya berpaling saat suara notifikasi dan layar yang berkedip-kedip itu menarik perhatiannya. William awalnya tidak tahu itu ponsel siapa, hanya saja ia mengira itu panggilan telepon lalu memeriksa ponsel untuk mengabari pemilik ponsel itu nanti. Saat matanya menangkap tulisan dalam layar ia mematung sejenak, mencoba mencerna situasi di hadapannya.
Itu bukan panggilan telepon, melainkan peringatan agenda dalam kalender. Tapi ada namanya disana. Apa ini ponsel Ucup? William menoleh mencari keberadaan Ucup di ruangan. Ketemu! Tapi laki-laki itu sedang memegang ponselnya sendiri. Lalu ponsel siapa ini?
Ulang Tahun William.
Ulang tahun William? Ulang tahunnya? Hari ini ulang tahunnya?
Oh! Ini ponsel Haura?
William mendadak kebingungan, ia buru-buru memeriksa ponselnya juga dan melihat tanggal tertera di ponselnya menunjukkan tanggal 2 November. Benar, hari ini hari ulang tahunnya.
Alih-alih memikirkan dirinya yang melupakan ulang tahunnya William terusik dengan kenyataan bahwa Raya juga turut melupakannya. Buktinya gadis itu tidak mengirimnya pesan di jam 12 malam hingga siang ini. Terhitung 13 jam lamanya William belum menemukan Raya memberinya ucapan selamat. Wah, itu sangat keterlaluan. Bukankah itu tidak adil dengan kenyataan bahwa William telah melakukan semuanya demi merayakan ulang tahun Raya saat itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Teen FictionBagaimana rasanya bertahan di tengah hubungan samar antara kekasihmu dan sahabatnya? Di saat kau terluka dengan hubungan ini, kau baru menyadari bahwa kekasihmu juga terluka menahan perasaan yang tidak bisa ia ungkap pada sahabatnya. "Seandainya ka...
