"I wish i could be better me for you."
——————
"William?"
Merasa namanya terpanggil William menoleh ke belakang, refleks terkejut melihat seseorang tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya dengan jarak yang teramat dekat. Badannya yang hampir terjungkal itu menyenggol cup mie instan yang baru saja William seduh di dalam minimarket tadi. Tak bisa dihindari mie instan tersebut meluncur dan jatuh mengeluarkan isinya beserta asap yang masih panas mengepul mengenai wajah William. Juga meninggalkan aroma kari yang sebelumnya menggugah selera makannya.
Pandangannya menatap nanar mie instan yang kini sudah tumpah di bawah kakinya. Bingung harus bereaksi seperti apa, jujur ia sedang tidak ingin marah-marah karena hal sepele. Kepalanya sudah mumet, perutnya sangat perih dan William lelah, sangat lelah untuk sekedar menatap tajam pelaku yang berani-beraninya mengganggu makan pertama William di hari ini.
"O-oh! Maaf, aku tidak sengaja."
William hanya menelan ludahnya kasar. Kari yang ia idam-idamkan sudah lupus. Ia menghela napas berat, lalu menatap Haura dengan wajah lesunya. Ya benar, pelaku yang berani-berani mengagetkannya itu adalah Haura yang baru saja keluar dari minimarket dengan minumannya, hendak duduk di salah satu tempat untuk meneguk itu sejenak. Keberuntungan sedang tidak berpihak pada William karena gadis itu harus bertemu dengannya dengan kondisi kacau seperti ini.
"Sudahlah, hanya mie instan," jawab William sekenanya.
Haura duduk di hadapan William, masih tidak percaya.
"Aku sungguh minta maaf, aku akan menggantinya. Kau mau rasa mie instan yang sama? Sebentar!" Haura menaruh minumannya sejenak, hendak masuk ke dalam sebelum tangan William menahannya membuat gadis itu mau tak mau menghentikkan langkah.
"Tidak perlu," cegah William tanpa menatap Haura.
"Jangan begitu, kau belum makan malam kan? Tidak apa, aku ganti."
William tidak merespon apa-apa tapi tangannya masih mencengkeram kuat pergelangan tangan Haura, membuat Haura kebingungan respon macam apa itu? Ia mau apa tidak?
"Lepas!"
"Kubilang tidak perlu."
Haura terdiam, menangkap sesuatu yang aneh dari William. Itu normal jika William menatapnya tajam, menaikkan nada, dingin atau judes. Tapi tidak, wajahnya layu, bibirnya pucat, suaranya lirih nyaris seperti suara angin dan badannya terduduk lunglai. Apa lelaki itu baik-baik saja?
Setelah Haura tilik-tilik, lelaki itu menjadi sedikit pendiam, meski pada dasarnya William memang pendiam tapi kali ini terlihat agak menyedihkan. Haura pikir setelah mereka berpisah William akan merasa lebih baik karena lelaki itu bisa dengan bebas mengejar Raya dan mengungkapkan isi hatinya. Bebas menghindari Haura tanpa harus memutar otak mengarang alasan konyol yang akan ia katakan pada Raya hanya untuk meminimalisir kecurigaan.
Kepala William menoleh ke samping tepatnya ke arah bawah dimana pohon-pohon yang tengah menggugurkan daunnya itu berada. Teras minimarket ini memang satu meter lebih tinggi dari jalanan trotoar. Sehingga pandangan William bisa lebih luas menatap kejadian di bawah sana, sesekali melihat kelap-kelip kota di ujung atau memperhatikan daun-daun kering yang berjatuhan dan terinjak pejalan kaki. Daun kering yang mirip dengan perasaan kalut. Mudah dihancurkan hanya dengan satu pijakan.
Mungkin itu perasaan Wiliiam. Mirip daun kering yang mudah hancur. Tak disangka wajah sedingin ini memiliki hati yang rapuh jika menyangkut soal cinta. Mudah terluka hanya dengan sekali kekeliruan, mudah marah hanya dengan melihat satu sisi pandang. Haura yakin ini ada hubungannya dengan ulang tahun William. Haura asumsikan Raya melupakan ulang tahun lelaki malang ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Teen FictionBagaimana rasanya bertahan di tengah hubungan samar antara kekasihmu dan sahabatnya? Di saat kau terluka dengan hubungan ini, kau baru menyadari bahwa kekasihmu juga terluka menahan perasaan yang tidak bisa ia ungkap pada sahabatnya. "Seandainya ka...
